Pages

Tampilkan postingan dengan label Misteri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Misteri. Tampilkan semua postingan

Selasa, 12 Juli 2011

Sam Roder, I think I love you... (Chapter 7)

Story by Ohanashio from Storywrite
Translated by Sierra

Well, sekarang secara rasmi aku sudah menjadi pacar Sam. Aku masih belum mengerti kanapa aku berkata iya pada ajakan Sam. Tapi ini hari Sabtu aku berniat untuk menikmati hariku. Aku berharap bisa menghabiskan sepanjang waktu dengan tetap memakai baju tidurku.

“Hey mom,” kataku saat berjalan ke dapur.

“Hey sayang. Bisa bantu ambilkan koran?”

“Tentu”

Tanganku berhenti di knop pintu ketika menyadari apa yang sedang kulakukan. Bagaimana kalau ada surat lain dari dia? Tidak. Dia tidak akan mengacaukan hari Sabtu ku. Aku membuka pintu, mengambil koran dan terhenti  sejenak. Dengan hari-hati aku mengecek sekali lagi. Tak ada surat dari Sam. Huff

“Ini korannya,” kataku, melemparkannya di meja.

Aku mengambil cemilan dan membawanya ke ruang keluarga untuk menonton TV. Walaupun begitu aku tidak bisa berkonsenterasi pada apapun yang kulakukan. Aku mengoleskan krim keju di tangaku dan menumpahkan jus jeruk di baju. Ugh. Setelah selesai sarapan aku berganti baju.

Pikiran tentang surat yang mungkin ada di kotak surat menggangguku. Aku berusaha melupakannya, tapi rasa penasaranlah yang menang. Aku segera membanting pintu dan mengintip dari celah. Tak ada surat. Aku memasukkan tanganku lebih dalam ke kotak surat. Masih tetap tak ada. Yeah, tak ada surat! Lega, aku kembali ke kamar untuk menata rambut.

“Reyna! Ada temanmu disini!”

Teman? Saat aku berjalan menuruni tangga, aku sangat berharap itu bukanlah Sam. Harapanku sia-sia karna dialah yang ada disana.

“Hey Reyna,” sapanya.

“Oh…uh, hey.”

“Kalau begitu nyonya Starr, aku berharap bisa meminjam putri anda hari ini.” Dia berkata dengan suara polos yang memuakkan.

“Apa dia temanmu, Reyna?”

Aku ingin sekali berkata tidak. Tidak, tidak. Lidahku gatal untuk mengatakkannya.

“Iya, mom. Jangan khawatir.”

“Baiklah kalau begitu, kembali sebelum petang, oke? Aku harus pergi berbelanja bahan makanan hari ini.” Katanya sembari kembali ke dapur.

“Hey, hey! Reyna, hari ini kamu milikku.” Dia berkata dengan nakal.

“Tidak, aku bukan milikmu. Aku adalah milik diriku dan bukan orang lain.”

“Apa kamu ingin aku menceritakkan ke ibumu kau adalah pacarku?”

“TIDAK!” jeriktu, mendengin di sekitar.

“Kalau begitu,” katanya, memberi jeda secara dramatik, “Bersiaplah untuk hari in—“

“Oke! Aku akan bersiap.” Kataku, menutup telinga.

Aku berlari ke atas dan melempar sembarangan baju dari lemari ke tempat tidur. Aku memilih setelan baju yang tampak manis dan memakainya kemudian lari ke bawah tangga untuk menemuinya. Dia mengisyaratkanku mengikutinya dan dengan enggan aku menurutinya.

“Apa yang akan kamu lakukan?” tanyaku.

“ ’Kita’ akan pergi bermain!” katanya, terdengar seperti anak kecil.

‘Kita.’ Ugh.

“Kemana… kita akan pergi?”

Dia tersenyum lebar saat aku mengatakan ‘kita’ dan menjawab,

“Ke mall!”

Dia menggandeng tanganku dan berjalan menyusuri jalan. Satu-satunya mall yang kutahu ada disekitar sini yaitu Nortwood Plaza, dan jaraknya sekitar lima belas menit berjalan kaki. Lima belas menit bergandengan tangan.

“Ibu kamu baik ya!”

“Jadi sekarang kamu jatuh cinta pada ibuku?” tanyaku, menggodanya.

“Aku hanya cinta kamu, Reyna.”

Whoa. Sangat tak terduga. Hal itu membuatku berheti berjalan dan memandangi trotoar di depanku. Dia melambai-lambaikan tangan di depan wajahku sehingga aku tersentak dan kembali ‘sadar’.  Namun dia terkikih dan dugaanku dia sedang bercanda. Huff, meskipun begitu sebagian otakku merasa kecewa dan aku tidak dapat mengerti. Kurasa dia merasakan sesuatu yang salah dan mengganti topic pembicaraan.

“Dimana ayahmu?”

Hari ini dengan pasti dia membuatku tidak nyaman. Ayahku meninggalkan ibuku dan aku ketika aku masih kecil. Aku tak dapat mengingat pasti kapan. Ibu dan aku tidak membicarakan banyak tentangnya.

“Dia meninggalkan aku dan ibuku ketika aku masih kecil.”

Wajahnya menunjukkan seakan berkata aku-tidak-bermaksud-membuatmu-merasa-tidak-nyaman. Aku berusaha memberikannya pandangan well-kau-telah-melakukannya, tapi itu tidak berhasil. Saat kami berjalan dalam kesunyian, akhirnya kami telah sampai di Nortwood Plaza. Aku bukanlah tipe yang terlalu gila belanja dan tidak terlalu perduli dengan shopping. Tentu saja, sebagai remaja aku butuh berpakaian yang pantas, tapi yah hanya itu. Aku tidak berbelanja untuk bersenang-senang.

“Jadi, kamu sering belanja?” aku bertanya padanya.

“Tidak”

“Lalu kenapa kita sekarang ada disini?”

“Karena aku ingin berada bersamamu, Reyna.”

Dari waktu-kewaktu dia selalu saja mengeluarkan pernyataaan yang membuat pipiku memerah. Kupikir dia menyukainya. Dia menemukan kelemahanku. Sepertinya.

Mall ramai dukunjungi penggemar shopping dan para pasangan. Dan.. oh sial. Itu Mark. Dia tidak melihat ke arah kami, tapi sebagai jaga-jaga aku menarik Sam ke arah lain. Aku masih bisa mengingat kobaran api di matanya ketika dia beradu dengan Mark.

“Kemana kamu membawaku, Rey?”

Rey? Yang benar saja, kau pasti sedang bercanda. Aku menggerutu dalam hati. Aku tidak mengeluh karena aku membencinya, tapi sesuatu dalam diriku… menyukainya.

“Ke.. ke.. um… “

“Mau minum?”’ tanyanya sambil tertawa.

“Yeah, terserah.”

Aku mendapatkan Strawberry smoothie dan dia mendapatkan minuman kola. Aku menyedot minumanku dalam diam ketika kami berjalan mengelilingi mall. Berbicara tentang hal-hal aneh.

“Hey, Sammy.”

Oh sial. Kenapa? Kenapa kenapa kenapa? Wajah Sam berubah gelap sebelum ia membalikkan badan menghadapi ke Mark.

“Kenapa kamu ada disini!?”

Rambut Mark sudah tumbuh lebih panjang dari terakhir aku berjumpa dengannya. Matanya terlihat menggoda, tapi jelas Sam tidak menggubris. Aku tidak bisa berkata apa-apa karena masih shock.

“Whoa. Kenapa cepat sekali marah, Sammy boy?”

Sam melotot dan yang bisa kulakukan hanya berdiri saja disana.

“Apa ini karena aku sedang mengganggu kencanmu dengan gadis mungilmu? Well, bagaimana kalau kita sedikit melakukan permainan?”

Tiba-tiba Mark langsung menggandeng tanganku, menjauhkanku dari Sam dan berlari membawaku. Aku terlalu lemah untuk mencoba melawan oleh sebab itu aku terseret sepanjang jalan seperti boneka mainan.

“Mari kita lihat apakah si kecil Sammy dapat menangkap kita.” Gumam Mark.

Aku terlalu takut untuk melihat kebelakang dan mengecek apakah Sam sedang mengejar kami.

“D..dapatkah kita berhenti?”  kataku terengah-engah.

Sangat mengejutkan diapun berhenti didepan pintu masuk.

“Kita akan meninggalkan tempat ini, manis.”

“Tunggu, ap—“

Dia mendorong pintunya terbuka dan mulai berlari kembali. Tanganku menjadi sakit karena terus ditarik dan kakiku lelah. Sesuatu menyambar satu tanganku. Atau mungkin seseorang.

“Lepaskan dia, idiots.”

Rasanya lega tapi juga khawatir. Kumohon jangan ada pertumpahan darah lagi kali ini. Aku menyilangkan kakiku membuat tanganku jatuh pada waktu bersamaan.

“Kamu sudah menjadi lebih cepat, Sammy.

“Diam.”

Mereka berdua bernafas dengan berat, hampir tak dapat berbicara.

Jadi apakah kamu pacarnya, manis?”

“Diam dan pergi saja dariku!” teriak Sam.

Sam menggandeng tanganku dan pergi dari Mark menuju rumah. Tak ada darah. Yesss!

“Hey, Sam!”

Aku menengok, tapi Sam sama sekali tak merespon. Mark berbalik dari kami dan berjalan pergi. Perjalanan ke rumah kali ini adalah perjalanan paling canggung yang pernah kulalui. Walaupun begitu dia menggandeng tanganku sepanjang jalan. Kami berdiri di depan rumahku, dia melepaskan tanganku.

“Hmm, sampai jumpa. Kurasa.”

Aku berjalan lemas ke depan pintu dan berbalik untuk melambaikan tangan. Tapi dia ada tepat didepanku dan aku terkejut.

Wajahnya semakin mendekat ke arahku. Sial. Matanya tertutup. Ugh. Dia menyeringai sepertinya menduga-duga reaksiku. Aku membuat suara bising aneh dan bergerak cepat memasuki rumah. Nafasku tak beraturan. Ketika aku melemahkan pertahananku, dia melalukannya padaku.

Aku tidak menciumnya. Tidak… belum saatnya.

Jumat, 29 April 2011

Blessed With A Curse

Story by DeathAngel-VladTod from StoryWrite
Translated by Sierra

Soundtrack : The Boys Of Summer by The Ataris

Seberapa gembiranya kamu bila kamu terjebak dalam dunia mimpi? Dimana semua yang kamu inginkan ada disana? Cowok yang kamu impikan? Cewek yang kamu benci mencium kakimu? Sangat menyenangkan, bukan? Salah. Kupikir itu akan terjadi, ternyata itu neraka.

Aku membuka mataku dan tersenyum melihat sekeliling ruangan yang nampak familiar dimataku. Ruangan itu gelap, kuno dan sangat gothic.

Aku bangkit dari singgasana gothic dan berjalan ke sekeliling. Aku melihat pada kaca yang dipenuhi kutipan kata yang kutulis disana. Aku memakai celana pendek hitam dan tang top hitam. Rambut hitam pekat ku dengan highlights biru terang tergerai dengan poni yang lebih panjang dari biasanya dan menutupi mata kiriku dan sebagian mata kananku. Mataku berwarna biru hazel lembut dihiasi dengan eyeliner tebal. Tinggiku rata-rata dan langsing dengan kulit pucat. Gelang-gelang hitam ada dikedua pergelangan tanganku. Sebuah liontin perak dengan cincin yang juga berwarna perak sebagai bandulnya tergantung dileherku hadiah peninggalan dari nenek.

“Selamat datang” Aku tersenyum dan membalikkan badan untuk melihat Aiden. Dia duduk di sebuah tempat tidur dan tersenyum padaku. Dia lalu bangkit dan berjalan ke arahku. Rambutnya berwarna hitam sehitam arang dan panjang menutupi matanya dan menyentuh pundak.

Dia tinggi, ramping dan sangat pucat. Dia memiliki otot-otot seperti telah dilatihnya beberapa waktu. Dan matanya menakjubkan. Warna matanya tak pernah ada habisnya selalu berganti dari biru, merah, orange terang, emas, hijau bahkan kristal. Segala macam warna ada dimatanya. Bahkan sampai sekarang aku masih belum dapat  membedakan yang mana.

Dia  menarikku kearahnya. Kami terlihat pas bersama. Dia menunduk dan memberiku kecupan dibibir. Rasanya lembut dan hangat. Setelah dia menariknya dia menempelkan lagi bibirnya lebih dalam.

Aku menutup mata dan membalutkan lenganku di pinggangnya. Aku dapat merasakan dagunya beristirahat di kepalaku. Aku mendengar detak jantungnya. “Dag-dig-dug. Dag-“

“HAILEY!” Mataku terbuka dan guruku sedang melotot kearahku dengan muka merah. “Apa jawabanya!” Aku melihat ke papan tulis. “3” Dia mengerjapkan mata. “Bagus, tapi berhentilah tertidur dalam kelas.” Aku mengangguk dan dia kembali pada mejanya.

Aku melihat pada notebookku. Sebuah gambar yang kulukis ada disana. Gambarku dengan Aiden yang sedang memelukku. Aku mendesah dan menutup notebookku.

Tidak. Semua yang baru saja terjadi tidaklah nyata. Tak ada Aiden. Hanya dalam kepalaku saja. Dan dunia mimpi itu juga tidak nyata.

Belpun berbunyi, aku mengambil tas dan notebookku lalu pergi meninggalkan kelas.

Aku berada diloker dan melirik kesudut mataku. Aku melihat cowok-cowok rese’ datang kearahku. Sial

Cepat-cepat aku menutup loker dan menuju pintu keluar. Terlambat. “Hey cewek aneh, tunggu!” Aku tidak melambatkan langkah kakiku. Akhirnya salah seorang meraih tanganku. “Kenapa terburu-buru? Ayo pergi berenang.”

Aaron:

“Jadi Aaron, kau mau datang setelah ini?” Michelle bertanya mengedipkan matanya padaku. Dengan dingin aku menjawab. “Tidak, terima kasih. Aku ada janji dengan saudaraku.” Dia menimpali “Aw lain waktu?” Aku hanya bergumam dan dia menganggapnya sebagai tanda persetujuan.

Dia tertawa terkikih dan berjalan pergi. Aku mengerang dan menutup lokerku. Aku mulai berjalan menuju gym untuk berlatih basket. Seseorang menyapaku dalam perjalanan, aku balik tersenyum dan mengangguk. Aku menyibakkan rambut coklat gelapku dengan  tangan dan mendesah.

Lalu aku mendengar teriakan samar-samar di dekat kolam. Aku berhenti ditempat. Lagi, aku dapat mendengar suara itu.  Aku berjalan ke kolam dan melihat Michael, Josh, dan Ryan sedang berusaha mendorong seseorang ke dalam air dari atas papan loncat.

Seorang cewek berteriak dalam rengkuhan tangan  Ryan. Aku menyipitkan mata melihatnya kemudian aku pun terkejut. Itu Hailey.

Dia mengenakan jins hitam ketat dan sebuah hoodie. Rambut hitam birunya berantakan dan ketakutan terpancar dari mata biru hazelnya yang indah. Kemudian itu menghantamku. Air. Dia adalah tetanggaku dan keluarganya memiliki kolam renang. Walaupun begitu dia tidak pernah menggunakannya. Aku ingat kakaknya pernah bercerita padaku bagaimana dia hampir tenggelam ketika masih kecil.

“Ayo lah, cepat!” Michael menjemputnya. “Tidak! Hentikan!” Aku berteriak. “Terlambat Aaron!” Ryan tertawa. Kemudian mereka menceburkannya ke kolam.

Hailey:

Semua yang kuingat adalah melihat ke dasar  kolam yang gelap. Aku tidak tahu jika tanganku bergerak atau kakiku. Yang ku tahu aku baru saja berteriak.

Air dingin menghantamku, aku merasa tubuhku membeku. Aku tak dapat bergerak. “Ya, kamu dapat.” Sebuah suara berbisik. “Aiden?” Aku bertanya. “Ya, aku disini Hailey” Aku merasakan mataku tertutup. Aku dapat mati bersama Aiden.

Mataku tiba-tiba terbuka. Aku melihat sosok dengan rambut coklat gelap berada diatasku. Mulutnya berada di mulutku. “Mmmmmhhh!” kataku. Dia berhenti. Aku terbatuk dan air keluar dari dalam mulutku. Aku merasakan sebuah tangan menepuk punggungku. Akhirnya aku berhenti terbatuk dan memandang pada sosok itu. Aaron.

Rambut coklat gelapnya basah dan menempel pada wajahnya. Kulit terangnya bercahaya dan mata birunya terlihat cemas. Aku juga memperhatikan kalau bajunya basah.

“Kamu yang menarikku keluar kolam?” Aku bertanya dengan suara pelan. Dia bernafas dan mengangguk. “Yeah, uh aku harus pergi um untuk PRC.” Aku merasa mukaku memerah seperti halnya dia. “Oh..” Dia mengangguk. “Kantor sedang mamanggil orang tuamu. Mereka sudah menangani para cowok itu.” Aku mengangguk dan menggigil kedinginan.

Dia dengan cepat melihat sekitar dan mengambil sebuah handuk. “Pelatih pergi mengambilkan sesuatu yang hangat untuk kau minum.” Aku mengangguk. Dia menyelimutkan handuk itu padaku. Aku memperhatikan kalau tangannya berada padaku lebih lama dari waktu normal.

2nd Sequel An Emo Story : Secret Later From Mysterious Guy (Damien Pov)

Soundtrack :
Hummingbird by Never Shout Never 
Finding Me Out by The Friday Night Boys

 Pertama aku melihatnya ketika ia lewat dihadapanku tiga tahun yang lalu dan sampai sekarang aku masih memendam perasaan terhadapnya. Dia seorang gadis biasa dan tak ada yang special darinya. Tapi ia mampu menyihirku untuk tidak mengalihkan pandangan dari dirinya. Tanpa ia sadari selama ini aku terus memperhatikannya dari jauh. Aku tidak mempunyai keberanian untuk sekedar menyapa ataupun berkenalan dengannya. Terlalu sulit bagiku melakukannya.

Tiga tahun berlalu sudah tanpa aku berbuat apa-apa.

Entah perasaan apa yang menyelimuti diriku dan muncul begitu saja ketika memandang sosok gadis itu. Dia gadis lugu yang setiap hari melalui jalan ini tempat dimana aku biasa merenung sendirian di suatu pojok tempat yang tak seorang pun menyadari keberadaanku. Tapi aku selalu memperhatikannya. Senyumnya adalah alasan bagiku untuk tetap menjalani kehidupan.

Aku seorang anak lelaki yang menjalani kehidupan sendiri semenjak orang tuaku bercerai ketika aku masih berumur 10 tahun. Damien adalah nama yang diberikan mereka dulu ketika aku lahir dan Anderson adalah nama keluarga dari ayah yang kupakai sebagai nama belakang. Kedua orang tuaku kini sudah memiliki kehidupan masing-masing dengan keluarga barunya.

Aku tinggal sendirian disebuah apartemen sederhana yang diberikan ayah padaku semenjak umur  13 tahun.  Selalu melewati empat musim dalam setahun sendirian. Pada mulanya aku tinggal bersama ayah ketika kedua orang tuaku mulai bercerai namun kini ia sudah menikah lagi dan pasangan ayah tidak mengijinkanku untuk tinggal bersama mereka setelah menikah. Jadi ayah memberikan apartemen ini untukku dengan dalih aku mampu bertahan hidup sandiri sebagai anak laki-laki. Ayah mengunjungiku sesekali untuk mengesankan dia tidak menelantarkanku dan mengirimkan uang rutin tiap bulan. Namun semenjak berjalannya waktu dan aku mulai  bertumbuh dewasa ia mulai jarang mengunjungiku dan sekarang ia sama sekali tak pernah mengunjungiku. Hanya uang kirimannya sajalah yang rutin kudapat. Ibu? Aku sudah tidak mengetahui kabarnya semenjak ia bercerai dari ayah dan menikah lagi dengan laki-laki lain.

Memasuki tahun pertama di sekolah menengah atas aku berjumpa lagi dengannya. Ya, dia gadis itu. Gadis yang selalu menjadi perhatianku semenjak aku mulai tinggal sendiri dan selalu mengasingkan diri disuatu tempat. Aku satu sekolah dengannya.

Ingin sekali aku menyapanya namun tak memiliki keberanian untuk bertindak. Dia terlalu sempurna bagiku, bagi seorang cowok yang mempunyai kehidupan menyedihkan sepertiku. Karna itu yang dapat kulakukan hanya menulis puisi-puisi tentangnya dan bercerita seberapa besar aku mengaguminya.  Puisi –puisi itu kujadikan sebuah surat dan kuletakkan tiap hari dilokernya dengan menyantumkan inisial namaku pada setiap surat yang kukirim. Pada mulanya aku melihat dia membuang surat yang pertama kukirim ke tong sampah setelah beberapa saat ia membacanya. Namun dilain esok ia memutuskan menyimpan surat berikutnya dari loker. Saat itulah aku mulai rutin mengiriminya surat setiap hari dan dia selalu menyimpan surat yang didapatkannya di loker dan menyelipkannya dalam tas.

Pada suatu pagi ketika hendak meletakkan surat diloker seperti biasa tak disangka aku berpapasan dengannya. Koridor sekolah saat itu masih sepi , kami sempat bertemu pandang beberapa saat. Itulah kali pertamanya  ia menyadari keberadaanku. Aku mengurungkan niat untuk meletakkan surat dilokernya karna tak mau ia tau tentang identitasku. Sore harinya ketika kurasa sudah aman aku meletakkan surat tersebut dilokernya.

Beberapa waktu ini kulihat gadis itu tak sendirian lagi.  Selain bersama sahabatnya ia juga sering terlihat berjalan bersama cowok yang tak asing di sekolah. Aku tau cowok itu adalah kapten tim basket sekolah yang cukup populer. Semakin lama gadis itu semakin terlihat akrab dengannya.

Tak bisa kupungkiri sepertinya mereka sedang menjalin hubungan khusus saat ini. Aku pun mulai ragu dengan usahaku selama ini. Aku memang berbeda dari cowok itu. Dia tipikal cowok yang mudah bergaul dengan setiap orang. Populer di sekolah dan jago dalam olah raga. Sedangkan aku lebih cenderung menyendiri dan mengisolasi diri dari pergaulan.

Semenjak menginjak remaja aku merubah penampilanku dengan mengecat rambutku menjadi hitam dan membiarkan sebagian rambutku menutupi sebagian bola mata biru terang yang kumiliki. Rambut asliku berwarna pirang. T-shirt ketat dan celana jins ketat adalah pakaian yang umum kugunakan setiap hari. Aku cenderung mengenakan pakaian berwarna gelap dengan beberapa accessories gelang dan sarung tangan serta wristband di pergelangan tangan. Aku juga menambahkan eyeliner hitam disekeliling mataku  dan menghiasi salah satu sudut bibiku dengan snakebite. Kemana-mana aku akan selalu mengenakan sneakers dikedua kakiku. Orang-orang sering menyebutku emo.

Di sekolah aku dikejutkan dengan berita bahwa gadis yang selama ini kukagumi telah berpacaran dengan cowok yang sudah beberapa saat dekat dengannya. Seketika parasaanku menjadi hancur dan aku merasa kehilangan harapan. Aku memang tak pernah berani mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya secara langsung. Namun kukira aku talah memiliki kesempatan dan sedikit celah serta sedikit demi sedikit mengumpulkan keberanian untuk menunjukkan perhatianku padanya. Namun ternyata aku terlambat.

Akupun berhenti mengiriminya surat di loker semenjak saat itu. Dia terlihat agak kecewa. Sekali lagi aku berpapasan dengannya dan kami bertemu pandang. Kali ini kuberanikan diri menatapnya dengan tajam. Ingin sekali  kuungkapkan bagai mana perasaanku terhadapnya. Namun tak ada keberanian dalam diri yang terdorong keluar. Aku hanya bisa menyimpan perasaanku untuk kesekian kalinya lagi.

Lama kelamaan ia mulai kembali menjalani kehidupan normalnya seperti biasa melupakan rutinitas mengambil surat di lokernya setiap pagi. Dan dari hari kehari aku semakin terpuruk dengan kehidupanku yang menyedihkan. Aku merasa kehilangan arah tujuan hidupku. Selama ini hanya dia yang mampu membuatku terus bertahan dengan kehidupan. Dia satu-satunya alasan aku tetap ada didunia ini. Wajahnya dan senyumannya yang selalu menyelamatkanku dari kesepian walau hanya dapat kupandangi dari jauh. Aku tak bisa terima melihatnya bersama cowok lain karna itu menghancurkan hatiku.

Aku tersiksa dalam kesendirianku dan segala beban pikiran yang ku rasakan. Ku putuskan untuk menulis surat untuk yang terakhir kali padanya. Ya, mungkin setelah surat ini tak kan ada lagi surat lain yang kan kutulis untuk siapapun. Sudah kuputuskan untuk mengakhiri segalanya.

Aku berada sendirian dalam ruang music ketika sekolah mulai sepi dan langit beranjak petang.  Menikmati kesendirianku  disaat-saat terakhir. Surat yang kutulis semalam berada dalam genggamanku. Aku siap mengirimkannya ke loker sore ini.

Dari luar terdengar suara derap langkah yang semakin mengeras. Langkah kaki tersebut terdengar seperti terburu-buru kemudian aku juga mendengar suara langkah kali lain mengikutinya dari belakang. Karna penasaran kuputuskan mengikutinya keluar ruangan. Di koridor aku melihat seorang cowok sedang mengikuti cewek dari belakang. Cewek itu nampak ketakutan dan terus mempercepat langkah kaki nya. Baru kusadari ternyata cewek itu ialah gadis yang yang kukagumi. Aku berusaha mengejar mereka hingga sampai ditikungan dan menabrak si cowok penguntit dari belakang. Ia nampak terkejut mengetahui kehadiranku dan segera berlari terbirit-birit menjauh. Gadis itu menyadari suara tubrukan barusan dan mengecek kebelakang. Aku bergegas sembunyi di balik tikungan tanpa menyadari kalau surat yang kugenggam lepas dari tanganku. Surat itu terjatuh ditempat tabrakan tadi. Gadis itu lalu memungutnya.

Disurat tersebut aku menyantumkan nama asliku dibalik inisial nama yang selalu kutulis diakhir kalimat. Tersembunyi  disebelah dalam amplop yang mungkin gadis itu tak menyadarinya.  Ia mambaca surat tersebut yang isinya :

Dear sunshine,

Mungkin ini adalah surat terakhir yang kutulis untukmu.Tiada puisi indah dan kata-kata cinta lagi yang dapat kulampirkan karena seberapa banyaknya pun puisi dan kata-kata indah yang kutulis tidak akan pernah cukup mewakili perasaanku yang ingin kusampaikan padamu.

Aku tau kini kamu sudah menjadi milik orang lain. Tapi aku masih terlalu egois untuk melepaskanmu begitu saja dari hidupku. Kamu membuat aku gila sampai-sampai membuatku berfikir untuk mengakhiri hidup dan pergi selama-lamanya dari dunia ini. Mungkin ini terdengar bodoh dan gila atau apapun yang kamu anggap ini sebagai lelucon. Sayangnya aku bukanlah orang yang suka terhadap lelucon. Kadang-kadang aku memang suka bertindak tanpa berfikir panjang.

Temui aku besok ditempat XXX dekat pantai XXX tidak lebih dari pukul 10 malam. Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi jika kamu tidak segera datang tepat waktu. Kini sudah saatnya bagiku berhenti mengagumimu diam-diam. Kuharap aku tidak akan sampai melakukan hal yang kupikirkan. Karena besok mungkin terakhir kalinya aku dapat meliat matahariku lagi sebelum aku benar-benar akan meninggalkannya.

With all my love and soul,

D.A


Aku tak tau apa yang dipikirkannya. Aku tak perduli jika dia menganggapku gila. Satu hal yang kutahu aku sangat menginginkannya. Aku tak bisa tetap bertahan hidup dengan melihatnya bahagia bersama orang lain. Aku ingin memilikinya untuk diriku sendiri, namun aku tak bisa.

Didepanku hamparan laut berombak bergejolak menghantam batu karang. Aku berdiri disuatu tempat diatas sebuah bukit yang dilalui jalur kereta api dan jalan beraspal. Aku bersandar pada tembok pengaman jalan menghadap kelautan lepas dibawah sana.

Jam tanganku menunjukkan tepat pukul 10 malam. Dia tak datang. Mungkin memang aku tak pantas memilikinya. Tak ada alasan lagi bagiku untuk terus disini. Laut sudah menantiku dibawah sana tiba-tiba aku mendengar suara terakan dari belakang.

“Hey, stop.  Jangan melompat kebawah!”

Aku menengok kearah sumber suara. Gadis itu berdiri diseberang rel kereta dengan nafas  terengah-engah. Dia nampak terkejut beberapa saat. Aku memberikan sebuah senyuman padanya. Dia berusaha menghampiriku ketika tiba-tiba palang kereta turun dan menjebaknya ditengah-tengah rel. Aku melihatnya sangat ketakutan dan tak mampu bergerak ketika dari arah seberang sebuah kereta express melaju dengan kencang kearahnya. Tanpa pikir panjang aku berlari menerobos palang kereta dan mendorong gadis itu ke aspal jalan.

Dalam sedikit waktu sempitku aku masih dapat melihatnya dan memberikan senyuman terakhirku untuknya.

“I love you, Alice” 

Aku tak menyesal  menyelamatkan nyawanya  dan menggantinya dengan nyawaku sendiri. Karna selama ini aku hidup memang untuk dirinya. Laju kereta express menghampaskan tubuhku seketika dan membuatku tak merasakan apa-apa lagi. Setidaknya diakhir hidupku aku sudah berbuat yang terbaik untuk orang yang kusayangi selama ini.

~End Sequel 2  – Tamat~

Note : Cerita ini adalah lanjutan dari dua cerita sebelumnya yaitu ‘ An Emo Story : Secret Letter From Mysterious Guy’ original story dan ‘ Sequel  An Emo Story : Secret Letter From Mysterious Guy (Suicide Alice) ‘  namun dapat juga dibaca terpisah. Jika penasaran dengan cerita sebelumnya dapat membacanya di cerpen.net atau cerpen.net yang ada di facebook. Oya, bunuh diri ataupun merencanakan bunuh diri tentu saja dilarang agama. Saya tidak menyarankan pembaca mengikuti hal dalam cerpen ini. Cerpen ini hanya sebuah karya untuk menyalurkan hobby menulis saya. So, have fun, guys ;)

1st Sequel An Emo Story : Secret Letter From Mysterious Guy (Suicide Alice)

Soundtrack: My Immortal by Evanescence

Ada yang berubah setelah kematian Damien. Alice tidak lagi seceria yang dulu dan lebih menutup diri. Ia tidak bergaul dengan siapapun termasuk Anna sahabat baiknya di sekolah. Hari-harinya dihabiskan untuk menangisi kepergian Damien dan mengurung diri di kamar. Tak ada satupun orang yang dapat membujuk Alice kembali seperti dahulu, tidak pula kedua orang tuanya.

Semenjak hari itu Alice mulai merubah penampilannya dengan berpakaian serba gelap dan mengecat rambutnya dengan warna hitam. Ia menambahkan eyeliner hitam di sekeliling matanya kontras sekali dengan kulit wajahnya yang putih pucat. Tak ada senyum di wajahnya yang ada hanyalah gurat kesedihan yang terpancar jelas di muka gadis cantik itu. Alice tidak berbicara dengan siapapun kecuali seperlunya. Ia hanya akan makan dan minum bila sudah sangat lapar atau bila ia sudah ditemukan pingsan karna terlalu lama menangis sendirian di kamar.

Apapun yang Alice kerjakan tidak lepas dari bayang-bayang Damien yang selalu menghantui pikirannya. Alice tidak bisa berhenti sedetikpun memikirkan Damien. Bagaimana cara Damien meninggal dengan tragis di hadapannya tanpa Alice sempat menyatakan cinta bahkan berkata apa-apa. Damien pergi begitu saja dari hidup Alice. Kenapa hal itu bisa terjadi? Itu yang selalu Alice pertanyakan setiap saat. Disaat Alice mulai menemukan cinta pertamanya disaat itu pula maut merenggut orang yang dikasihinya.

Semua ini adalah salah Alice. Begitu yang ia pikirkan. Damien tidak mungkin meninggal kalau dia tidak berusaha menolong Alice yang terjebak di perlintasan kereta. Ya, ini adalah salah Alice. Ia terus menerus menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyabab kematian Damien. Ia ingin Damien bisa hidup kembali dan menyelesaikan hal yang belum sempat ia selesaikan. Yaitu menyatakan cintanya pada Damien. Namun hal itu mustahil terjadi. Orang yang sudah meninggal tidak mungkin hidup kembali.

Berminggu-minggu Alice dirundung duka cita. Ia sangat depresi setelah kepergian Damien. Air mata Alice sudah tidak dapat keluar lagi karna terlalu seringnya ia menangis. Gadis malang itu kini bagai mayat hidup karna jiwanya sudah tidak bersamanya lagi melaikan entah disuatu tempat walau raganya tetap ada disini. Ia hidup dalam kehampaan tanpa adanya Damien. Damien lah satu-satunya orang yang diinginkan Alice. Namun Damien tidak mungkin bisa bersama Alice. Kalau begitu untuk apa ia masih hidup sampai saat ini?

Ia menyeka sisa-sisa air mata terakhirnya. Kemudian dari ujung matanya yang sembab ia melirik ke arah meja di sebelah. Ada sebuah benda disana. Alice mengambil benda itu dan mengamatinya. Benda itu nampak tajam dan mengkilap. Didekatkannya benda tajam itu di pergelangan tangannya kemudian ia mulai memejamkan mata. Dengan perlahan tapi pasti ia menggoreskan benda itu memotong nadinya. Cairan merah mengucur dengan deras dari pergelangan tangan Alice dan membasahi lantai kamar. Anehnya Alice tidak merasakan kesakitan. Ia tersenyum menyaksikan benda cair itu terus keluar dari dalam tubuhnya hingga ia semakin melemas. Tapi Alice merasa senang karena sebentar lagi ia dapat bertemu dengan Damien. Tak ada hal yang lebih membahagiakan bagi Alice selain berjumpa dengan orang yang sangat ia cintai melebihi nyawanya sendiri. Seiring dengan habisnya cairan merah itu dari tubuhnya berakhir pula penderitaannya selama ini di dunia. Kini Alice telah bahagia selama-lamanya bersama Damien.

~End Sequel 1~

Note: Attempt suicide is a sin! Don't do it!

Sabtu, 23 April 2011

An Emo Story : Secret Letter From Mysterious Guy

Soundtrack :
When You Love Someone by Endah 'N Resha
Your Guardian Angel by The Red Jumpsuit Apparatus
Sempurna (Andra and The Backbone Cover) by Gita Gutawa

 Alice adalah seorang cewek biasa saja di sekolah seperti halnya cewek-cewek lain pada umumnya. Ia bersekolah di sekolah swasta terletak tak jauh dari rumahnya. Umurnya masih 15 tahun di tahun pertamanya berada di sekolah tersebut.Suatu hari ia menemukan sepucuk surat di loker sekolah berisi bait-bait puisi yang tertulis rapi dan indah dari seseorang yang tak ia kenal. Di pucuk kertas tertulis inisial D.A. Mulanya Alice hanya mengabaikan surat tersebut sembari membuangnya ke tong sampah dan berlalu begitu saja. Ia menganggap itu perbuatan anak iseng yang sengaja ingin mengerjainya.

Esok paginya Alice menemukan surat yang sama di loker. Kali ini cukup mambuat Alice pernasaran siapakah orang iseng yang mengirimkan surat itu. Ia membaca surat itu dan mengetahui kalau si pengirim surat ternyata beiinisial D.A sama seperti sebelumnya. Alice memutuskan untuk menyimpannya dan pergi menuju kelas. Seminggu berlalu ia selalu mendapati surat yang sama di loker tanpa ia tahu siapa si pengirim surat sebenarnya hingga ia benar-benar dibuat penasaran.

Di sekolah ada seorang cowok populer bernama Dave anggota sekaligus kapten tim basket yang suka pada Alice sejak lama dan Alice tau akan hal itu. Sayangnya ia tidak terlalu menanggapi Dave. Kecuali akhir-akhir ini mereka terlihat beberapa kali jalan bersama. Dave mengundang Alice makan malam di rumahnya dan Alice menyetujui walau Alice akui ia tidak begitu tertarik pada Dave. Namun usaha Dave untuk mendekati Alice patut diberi pujian.

Karena rasa penasarannya, Alice memutuskan mencari tahu identitas si pengirim surat. Ia sengaja berangkat lebih awal agar bisa mengintip orang yang memasukkan surat ke dalam lokernya.

Sekolah masih agak sepi di pagi hari. Di koridor menuju loker ia berpapasan dengan seorang cowok berpenampilan tidak biasa dengan potongan rambut spike di bagian belakang dan bangs yang hampir menutupi sebagian matanya. Tubuhnya tinggi proporsional dengan rambut berwarna hitam dan sedikit corak biru di beberapa sisi. Ia mengenakan kaos yang sangat pas di badan dan celana jeans ketat bersepatukan converse. Di kedua sisi tangannya mengenakan sarung tangan bergambar tengkorak dan beberapa accessories gelang di pergelangan tangan dan wristband disiku. Kulitnya putih bersih kontras sekali dengan penampilannya yang bernuansa serba gelap.

Ketika mereka bertemu pandang , Alice masih bisa melihat sebelah mata cowok itu yang berwarna biru terang berhiaskan eyeliner hitam. Astaga, Ialah cowok paling tampan yang pernah Alice temui. Namun cowok itu segera berlalu dari hadapan Alice. Pertemuan yang cukup singkat dan berhasil meninggalkan rasa penasaran di benak Alice.

Alice kemudian teringat kalau ia pernah melihat cowok itu beberapa kali di sekolah. Sepertinya ia murid sekolah itu juga namun lebih sering terlihat menyendiri dan menutup diri dari pergaulan. Alice tidak tahu siapa namanya.

Setelah menunggu beberapa lama dan mengawasi lokernya dari kejauhan. Ia tak menemukan siapapun juga mendekati lokernya hingga dering bel berbunyi, Alice segera pergi ke kelas dengan perasaan kecewa.Sore harinya ketika ia kembali membuka loker, ia kembali menemukan sebuah surat. Aneh sekali pikirnya.

Alice meyimpan surat-surat yang ia dapatkan dari orang berinisial D.A dan menyimpannya dengan rapi di sebuah kotak. Di malam hari Alice kembali membaca surat-surat tersebut. Semua surat itu berisikan puisi-puisi dengan kata-kata yang indah dan romantis. Membuat Alice jadi semakin penasaran dengan orang berinisial D.A dan membayangkan bagaimanakah sosok D.A hingga ia dikejutkan oleh suara ketukan pintu dari luar. Itu mom. “Sayang, ada telepon dari Dave” suara mom memanggil. Alice segera menuruni tangga dan berbicara pada Dave di telepon.

“Hai Dave, ada apa?” tanya Alice pada Dave di seberang sana.

“Hai baby, maukah besok datang ke acara pesta di rumahku? Aku punya surprise untukmu .” Balas Dave.

“Oya? Baiklah. Sampai jumpa besok Dave.”

Setelah bicara sesaat dengan Dave di telepon Alice kembali lagi ke kamar. Tiba-tiba ia teringat dengan cowok emo yang ia temui tadi pagi di sekolah. Wajahnya sangat tampan dan penampilannya yang keren membuat Alice tidak bisa melupakannya dari pikiran. Ia menyadari kalau ia telah jatuh cinta pada cowok itu.

Pagi ini Alice masih menemukan surat yang sama dalam loker. Seperti biasa ia mengambil dan menyelipkannya dalam tas kemudian pergi ke kelas.

Dave sudah menanti Alice dengan mobilnya di depan rumah. Alice berpamitan dengan mom kemudian menghampiri Dave. Mereka segera berangkat ke pesta menaiki mobil Dave. Malam itu Alice diperlakukan sangat spesial sekali oleh Dave hingga membuat cewek-cewek penggemar Dave yang datang ke pesta menjadi iri.

“Kita ke balcony?” ajak Dave. Alice mengikuti langkah Dave hingga mereka hanya berdua saja sekarang di balcony.

“Ada yang ingin kusampaikan malam ini.” Dave mengenggam erat tangan Alice dan menatapnya tajam.

“Apa yang ingin kau sampaikan, Dave?” Sebelum Dave melanjutkan kata-katanya, Alice menyela perkataan Dave. “Dave, apa kamu yang selama ini mengirimkan surat-surat ke lokerku?”

“Surat apa yang kamu maksud, Alice?” Dave tampak bingung.“Jadi bukan kamu orangnya?”Alice terlihat sedikit kecewa ternyata bukan Dave orang yang selama ini dia cari.

“Aku tidak tahu apa yang sedang kamu bicarakan. Aku cuma mau bilang I love you, Alice. Apa kamu mau menjadi kekasihku? ” Alice menatap Dave “Sorry Dave, aku tidak bisa memberikan jawaban sekarang”

“Ok, tak perlu menjawabnya sekarang. Akan kuberi waktu untuk berfikir.”

Dave mengantarkan Alice pulang ke rumah. Alice kembali memikirkan perihal surat dari si misterius yang ia dapatkan. Semula Alice menduga itu surat dari Dave. Ternyata bukan. Kalau begitu siapa orang berinisial D.A tersebut kalau bukan Dave?

Ketika kembali masuk ke sekolah, Alice mendapati teman-temannya mengucapkan selamat padanya atas statusnya sekarang yang telah menjadi pacar Dave. Alice berfikir mereka pasti salah paham. Ternyata cepat sekali gosip menyebar.

Ketika Alice membuka lokernya di pagi hari. Ia terkejut karena ia tidak menemukan surat yang seperti biasa ia terima. Kali ini entah mengapa Alice sedikit merasa kecewa. Ia berjalan ke kelas dengan tidak bersemangat. Di tengah jalan ia berpapasan dengan cowok emo yang sempat ia lihat dulu. Untuk kedua kalinya mereka bertemu pandang kembali. Cowok emo itu menatap Alice tajam membuat jantung Alice berdegup kencang. Sorot matanya seperti hendak mengutarakan sesuatu yang tak dapat ia ungkapkan.

Di kelas Alice bercerita pada sahabatnya, Anna mengenai masalahnya dengan Dave juga perihal cowok berpenampilan emo yang ia temui. Namun ia belum bercerita mengenai surat yang rutin ia dapatkan.Anna berkata kalau ia juga tidak mengenal cowok itu tapi ia memberi saran pada Alice untuk melupakan cowok emo yang ia kagumi. Di sekolah ini jarang ada yang suka terhadap anak emo. Makanya anak berpenampilan emo di sekolah lebih sering mengasingkan diri dari pergaulan dan cenderung menyendiri. Menurutnya itu sangat ganjil dan aneh. “Freak!” kata dia lagi. Sebaliknya Anna malah mendukung Alice dengan Dave dan mendorong Alice untuk segera memberikan jawaban pada Dave.

“Dave masih jauh lebih baik daripada cowok aneh yang kamu temui!” seru Anna.

“Tapi aku masih belum yakin apakah aku benar-benar menyukai Dave atau tidak.”

“Ayolah Alice, kamu tahu kalau Dave sudah menyukaimu sejak lama. Tidak ada gunanya lagi membuang-buang waktu. Sebelum diambil orang lain kamu harus ambil kesempatan ini lebih dulu. Ingat, mungkin kamu tidak akan mendapatkan kesempatan seperti ini lagi lain waktu. Bayangkan kamu berpacaran dengan cowok paling populer di sekolah. Aku yakin semua cewek-cewek itu pasti akan iri melihatnya.”

“Entahlah Anna, aku masih belum benar-benar yakin."

Sesampainya di rumah kata-kata Anna masih terpikirkan dibenak Alice. Mungkin ia ada benarnya juga.
---
“Jadi kamu setuju menjadi pacarku?” tanya Dave seolah tidak percaya pada apa yang barusan Alice katakan.

“Iya, aku mau jadi pacarmu, Dave” kata Alice meyakinkannya lagi. Dave langsung memeluk Alice dengan erat dan memberinya kecupan mesra di dahi. Mereka resmi berpacaran sekarang.

Alice tidak terlalu yakin apakah keputusan yang baru diambilnya itu tepat. Mungkin ia hanya tidak mau menyakiti perasaan Dave atau sengaja untuk meyakinkan perasaannya kalau ia tidak mungkin bisa bersama dengan cowok emo pujaan hatinya.

Semenjak hari itu Alice tidak pernah lagi mendapatkan surat di loker. Apa mungkin karena ia telah berpacaran dengan Dave si penggemar misteriusnya enggan mengiriminya surat lagi? Kenyataan itu membuatnya sedikit kecewa entah mengapa.

Hari-hari dilalui Alice dengan biasa dan Alice mulai sedikit bisa melupakan si pengirim surat misterius dan si cowok emo.

Suatu ketika Alice harus pulang agak petang ke rumah. Ia baru saja mendapatkan segudang tugas yang harus segera diselesaikan hari itu juga di sekolah. Ia melirik jam tangannya sudah menunjukkan pukul 6:00 petang. Alice bergegas pulang ke rumah. Ia melewati koridor seperti biasa menuju ke halaman depan sekolah. Ketika baru sampai di depan ruang music, Alice menyadari seperti ada orang yang sedang membuntutinya dari belakang. Alice mempercepat langkah kakinya supaya lekas keluar dari gedung sekolah yang sudah mulai sepi.

Langkah kaki orang yang membuntutinya dari belakang semakin terdengar jalas membuat Alice ketakutan dan berlari sekencangnya. Ia tidak berani menengok ke belakang dan terus berlari berharap dapat lolos dari kejaran orang misterius yang mencurigakan itu. Hingga ia sampai ditikungan dan seperti mendengar suara tubrukan kemudian suara langkah kaki itu terdengar berlari menjauh.

Alice masih sedikit shock tapi ia juga merasa lega mengetahui ia sudah tidak dikejar lagi. Ia memberanikan diri mengecek ke belakang dan tidak menemukan siapapun disana tetapi ia menemukan sepucuk surat terjatuh di lantai. Alice memungut surat itu dan membacanya. Surat itu ternyata dari orang yang sama berinisial D.A

Dear sunshine,

Mungkin ini adalah surat terakhir yang kutulis untukmu.Tiada puisi indah dan kata-kata cinta lagi yang dapat kulampirkan karena seberapa banyaknya pun puisi dan kata-kata indah yang kutulis tidak akan pernah cukup mewakili perasaanku yang ingin kusampaikan padamu.Aku tau kini kamu sudah menjadi milik orang lain. Tapi aku masih terlalu egois untuk melepaskanmu begitu saja dari hidupku. Kamu membuat aku gila sampai-sampai membuatku berfikir untuk mengakhiri hidup dan pergi selama-lamanya dari dunia ini. Mungkin ini terdengar bodoh dan gila atau apapun yang kamu anggap ini sebagai lelucon. Sayangnya aku bukanlah orang yang suka terhadap lelucon. Kadang-kadang aku memang suka bertindak tanpa berfikir panjang.

Temui aku besok ditempat XXX dekat pantai XXX tidak lebih dari pukul 10 malam. Aku tidak akan menunggu lebih lama lagi jika kamu tidak segera datang tepat waktu. Kini sudah saatnya bagiku berhenti mengagumimu diam-diam. Kuharap aku tidak akan sampai melakukan hal yang kupikirkan. Karena besok mungkin terakhir kalinya aku dapat meliat matahariku lagi sebelum aku benar-benar akan meninggalkannya.

With all my love and soul,

D.A

Satu hal yang langsung terlintas dibenak Alice. Orang ini sudah gila! Mungkin ia seorang psychopath atau sejenisnya. Surat terakhir yang ia baca membuatnya bergidik. Apa benar ia akan bunuh diri jika Alice tidak datang tepat waktu besok? Mungkinkah ini hanya gertakan semata? Alice merebahkan dirinya di tempat tidur sambil memejamkan mata memikirkan isi surat itu sampai ia benar-benar ketiduran.

Di sekolah ketika ia berjalan melewati kerumunan gadis-gadis, Alice tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka tentang orang misterius yang suka menguntit para murid perempuan jika sedang sendirian berada di sekolah. Ia langsung menduga bahwa itu adalah orang yang sama yang mengejar ia tempo hari. Kini ia sudah tertangkap basah dan pelakunya bernama Tom murid sekolah itu juga. Apakah mungkin Tom adalah orang berinisial D.A yang selalu mengiriminya surat di loker? Tapi apa maksud inisial D.A di setiap surat yang ia kirimkan?

“Baby, apa kamu senang dengan kencan kita malam ini?” tanya Dave penuh antusias.

“Yeah, kurasa ini kencan yang cukup menyenangkan.”

“Tapi kamu tidak terlihat seperti menikmati kencan kita malam ini. Apa kamu sedang memikirkan hal lain?”

“Dave dengarkan aku, maaf aku harus jujur padamu. Kurasa aku tidak bisa meneruskan hubungan kita lebih jauh karena sepertinya aku menyukai orang lain. Sekali lagi maafkan aku, Dave.”

Setelah mengucapkan kata maaf yang terakhir pada Dave, Alice segera meminta turun dari mobil Dave dan pergi meninggalkannya. Ia meremas surat dari si misterius yang ia bawa di kantongnya kemudian mengecek jam tangannya menunjukan pukul setengah sepuluh malam. Alice langsung berlari secepat mungkin ke tempat janji pertemuan dengan si orang misterius.

Sampai di tempat Alice masih berusaha mengambil nafas karena baru saja berlarian. Ia melihat jam tangannya sekali lagi tepat menunjukkan pukul sepuluh malam. Di seberang rel kereta yang melintasi tempat itu ia melihat seorang cowok berdiri membelakanginya bersandar di tembok pengaman jalan yang berbatasan langsung dengan laut di bawah sana. Alice khawatir kalau ia akan melompat dari atas tempat itu.

“Hey, stop. Jangan melompat kebawah!”

Cowok itupun menengok ke arah Alice dan Alice baru sadar ternyata dia adalah cowok yang selama ini telah merebut hatinya. Ya dia adalah cowok emo yang Alice kagumi. Alice terkejut sejenak mengetahui kenyataan itu ternyata selama ini dia lah orang yang selalu mengiriminya surat setiap hari di loker. Ia melihat cowok itu tersenyum dari kejauhan memandang wajah Alice. Alice menyadari mukanya berubah bersemu merah dan jantungnya mulai berdegup kencang.

Antara rasa terkejut dan senang Alice berusaha menghampiri pemuda tersebut yang berada tepat diseberang rel kereta. Ia hendak melintasi rel ketika tiba-tiba palang kereta yang berada di kedua sisi rel telah turun menandakan akan ada kereta api yang akan melintas. Alice terperangkap ditengah-tengah rel sementara dari arah kanan sebuah kereta express melaju dengan kencang ke arah Alice. Alice tidak sempat meloloskan diri karena kakinya serasa kaku untuk digerakkan.

Tiba-tiba seseorang menyambarnya dan mendorongnya dengan kuat hingga ia terjerembab ke aspal jalan. Semantara di hadapanya cowok berambut hitam yang ia kenal tersenyum padanya sambil berucap untuk yang terakhir kali.

“I love you, Alice”

Tanpa sempat meloloskan diri tubuh cowok itu terhempas sangat kuat oleh laju kereta express hingga Alice tak sempat melihatnya lagi. Alice tak bisa berkata apa-apa dan tak dapat beranjak sedikitpun dari tempatnya berada. Semua seperti mimpi ketika tersadar yang dapat ia lakukan hanya menangisi kepergian orang yang sudah menyelamatkan hidupnya dengan mengorbankan nyawanya sendiri.

Alice menangis sendirian di tempat itu untuk sekian lama hingga ia tersadar akan surat yang sedari tadi ia genggam lolos dari tangannya. Alice memungut kembali surat yang telah rusak karna digenggam erat besarta amplop surat yang terjatuh di sampinganya. Ketika hendak memasukkan surat itu kembali ke dalam amplop, ia melihat sesuatu tertulis di bagian dalam amplop yang selama ini tidak ia sadari. Alice membuka amplop itu. Di dalamnya tertulis dengan jelas sebuah nama dengan huruf latin bertuliskan Damien Anderson dengan tinta hitam yang mulai memudar karena terkena tetesan air mata Alice yang mulai terjatuh kembali.

Malam itu dunia seperti berputar sangat cepat dan semuanya yang berada di sekeliling Alice tampak seperti memudar. Ia baru menyadari kalau selama ini Damien lah orang yang Alice cari dan ia cintai. Kini Damien telah telah pergi selama-lamanya tanpa sempat mengetahui bahwa Alice juga mencintainya. Dia mulai menangisi lagi kepergian Damien hingga airmatanya benar-banar habis mengering.

“I love you too, Damien” bisik Alice sangat lirih disela kata-kata terakhirnya malam itu.