Pages

Tampilkan postingan dengan label HIGH SCHOOL DISASTER. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label HIGH SCHOOL DISASTER. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 September 2011

HIGH SCHOOL DISASTER (CHAPTER 6)

 Soundtrack : Pour Some Sugar On Me (Def Leppard Cover) by The Maine

Bel berakhirnya pelajaran terakhir baru saja berbunyi tapi bunyinya nggak lebih keras dari debaran di dada gue karna sebentar lagi gue akan berduaan lagi dengan Lyoid. Jangan mikir yang enggak-enggak, maksud gue, gue bakal punya kesempatan buat ngobrol lebih banyak lagi sama dia. Mikirin hal itu buat jantung gue serasa mau copot karena kilasan-kilasan kejadian saat bersama Lyoid yang entah mengapa selalu pada saat yang aneh atau tak terduga.

Ups, kali ini apa akan terjadi hal-hal tak terduga seperti sebelumnya ya? Dalam hati gue menginginkan jawaban iya.

Siku Marin menyenggol tangan gue membuyarkan lamunan gue.

“Lo jadi pergi abis pulang sekolah sama si … malaikat?” Mata Marin bergerak ke sudut kanan ke meja di seberang kami. Mata gue ikut mengekor pandangannya. Tapi yang dicari sudah nggak ada di sana. Hanya ada Luca yang bertemu pandang dengan kami dan mengedikkan bahu. Dimana Lyoid?

Gue bergegas keluar kelas dan menengok kanan kiri. Tak ada Lyoid. Dia pasti pergi begitu bel berdering dan waktu gue masih melamun. Gue berjalan menuju pintu gerbang dan menemukan seseorang berpostur tinggi berambut abu-abu bersandar di tembok sambil menggendong ranselnya pada satu bahu. Gue lekas menghampirinya.

“Kenapa nggak tunggu di kelas?” Pertanyaan percuma karna dia udah langsung melangkahkan kaki jenjangnya begitu gue sampai dedekatnya, menjauhi gerbang sekolah. Gue mengikutinya dari belakang dan mencoba menyesuaikan dengan langkah kakinya yang panjang.

“Mau kemana kita?” sekarang gue udah ada persis di sampingnya.

“Mall?” jawab Lyoid yang lebih terdengar sebagai pertanyaan ketimbang jawaban.

“Mall?” gue mengulangi sekali lagi.

“Kamu tau mall yang ada di dekat sini?” tanyanya.

“Tentu aja.” Tanpa bermaksud bersikap sombong tapi tetep aja ada nada sedikit berbangga pada suara gue.

“Mau cari apa di mall?” kata gue begitu gue dan Lyoid sampai di pintu masuk mall. Tak begitu jauh dari SMA Permata Bangsa. Gue udah pernah bilang kan kalo lokasi sekolah nggak jauh-jauh dari pusat kota?

“Dimana toko alat tulis nya?”

“Di lantai tiga.”

Kami ke toko alat tulis dan Lyoid berada di bagian cat air. Ia memilih-milih beberapa cat air dengan ukuran yang besar dan perlengkapan melukis lain seperti kuas dan palet dengan berbagai jenis ukuran. Dan tak ketinggalan ia membeli kanvasnya.

Wow, nggak nyangka keranjang belanjaan kami udah di penuhi seabrek barang-barang dari toko. Mungkin dia bisa aja beli seluruh isi toko kalau dia mau. Kami kemudian keluar dari toko dan menenteng barang-barang belanjaan itu. Tentu aja tas yang berat Lyoid yang angkat.

“Lo mau ngelukis?” Tanya gue di sela-sela berjalan terpontang-panting ngikutin langkah cepat Lyoid yang nggak terlihat sedikitpun terbebani barang bawaan. Gila nih cowok, kuat amat. Gue aja yang cuma nenteng satu plastik, jalan terseok-seok. Mungkin karna ngimbangin jalannya Lyoid juga kali ya.

“Iya,” jawab Lyoid.

“Lo suka ngelukis?” Pertanyaan bodoh. Udah jelas kalo ia beli alat-alat lukis sebanyak ini dan bilang pengen ngelukis pastinya ia suka ngelukis lah. Napa sih lo Lun dari dulu begok amat.

Tangan gue yang bebas nimpuk-nimpukin kepala gue sendiri.

“Suka,” jawab Lyoid enteng, saakan pertanyaan gue wajar aja. Huff.. syukurlah.

Kami kembali berjalan memasuki apartemen Lyoid. Ini yang kedua kalinya bagi gue tapi kenapa gue masih aja ngerasa gugup melangkahkan kaki ke sini? Jantung gue berdegup kencang seperti hampir melompat dari dada tapi gue berusaha nyembunyiin agar Lyoid nggak curiga. Gila aja Lyoid bakalan denger detak jantung gue.

“Masuk,” kata Lyoid ketika kami sudah sampai di depan pintu apartemennya. Mungkin kalo yang ngomong cowok yang nggak gue kenal dan bertampang mesum gue bakal langsung lari terbirit-birit. Tapi kali ini Lyoid yang ngomong, walau suaranya terdengar dingin, eh maksud gue cool, gue nggak keberatan sama sekali nurutin perintahnya.

Lyoid membimbing gue masuk ke ruangan yang belum diisi banyak barang dan kami meletakkan barang belanjaan di sudut ruangan. Mata gue berkeliling ke sekitar. Ruangan ini luas namun tampaknya belum digunakan untuk ruang apapun. Lidah gue tergelitik untuk bertanya.

“Tempat ini.. mau dijadikan apa?”

Lyoid melirik ke gue di sela-sela acara membongkar barang belanjaannya. Kemudian ia membawa kanvas dari tas dan memasangkannya di kayu penyangga yang diletakkannya di tengah ruangan. Ia juga menyiapkan palet dan cat air serta kuas di meja dan menata kursi lipatnya pula di depan kanvas.

“Ini akan jadi studio lukisku tak lama lagi.” kata Lyoid.

Gue masih terpaku memandang siluet tubuh Lyoid yang terterpa cahaya dari balik jendela memberikan efek dramatis seolah-oleh Lyoid seperti malaikat yang bersinar. Sesaat gue seperti melihat Lyoid tersenyum walau tak begitu kentara, ia nampak puas dengan kerjanya.

“Indah banget..” mulut gue tiba-tiba bicara.

“Ya?” tanya Lyoid.

“Eh nggak, maksud gue studio lukis lo keren. Emang belum jadi sih, tapi gue bisa bayangin kalo ini bakalan jadi keren banget.” Jawab gue berusaha nyembunyiin grogi karna keceplosan mengagumi Lyoid.

“Ya, begitulah. Mau keluar?”

“Keluar?”

Belum sempat gue ngerti maksud Lyoid, dia sudah berjalan meninggalkan ruangan dan menuju ke pintu di sebelah ruang tamu dan membukanya. Nampak hamparan kristal jernih berwarna biru dari ubin di dasar kolam dan pancaran sinar matahari pada permukaan air. Ternyata apartemen mewah ini belum cukup memberi gue kejutan. Ia memiliki kolam renang sendiri di atas gedung di lantai dua puluh ini.

Dasar orang kaya. Keluh gue.

Gue pun sudah menjelajahkan kaki di sekitar kolam renang yang juga merupakan balkonnya, mengamati pemandangan dari atas gedung.

“Lo biasa renang?” tanya gue.

“Cukup sering sebelum pindah ke sini.” Dan lagi-lagi hal mendebarkan itu terjadi. Lyoid membuka kemejanya dan kali ini beserta celana panjangnya. Ia hanya mengenakan boxer untuk berenang dan dengan indah ia meluncur dari pinggir kolam ke dalam air yang tampak menggiurkan.

Bunyi kecipak air dapat gue denger saat Lyoid berenang dari ujung kolam ke ujung yang lain, sangat indah dan mata gue tak mampu beralih dari sosoknya yang menawan. Ia..nampak begitu sempurna.

“Hey, mau ikut berenang?” tanyanya, membuyarkan lamunan gue.

“G-gue? Gue nggak ikut renang. Gue harus segera pulang. Emm.. sampai ketemu besok.” Jawab gue, pengen segera pergi dari tempat itu sebelum gue kepikiran yang macem-macem. Sial. Gue grogi!

“Oh..ok, apa perlu diantar?”

“Nggak usah, lo terusin aja renangnya. Gue pulang sekarang. Bye.” Tanpa menunggu jawaban dari Lyoid, gue langsung melangkahkan kali bermaksud untuk segera pergi. Tapi suaranya mencegah gue.

“Tunggu,”

Lyoid beranjak keluar kolam. Tubuhnya basah oleh air dan ia tampak sangat.. sexy.

Sial. Harusnya gue segera pergi. Kenapa? kenapa? kenapa dia harus cegah gue? Sekarang dia semakin mendekat dan berdiri di depan gue. Cukup dekat. Bisa dibayangin seberapa merah muka gue. Kaki gue nggak bisa gerak. Kaki gue seakan lemes tanpa disanggaa satu tulangpun.

“Y-ya? Mau apa?”

Jangan pandang dadanya, jangan pandang ke bawah. Luna apaan sih yang lo pikirin? Gue nggak bisa mikir. Pertanyaan apa barusan? Mau apa? Emang dia mau apa? Kenapa gue jadi grogi. Kenapa lagi-lagi gue harus berhadapan dengannya seperti ini? Gue pengen pulang! Jerit gue dalam hati.

“Aku belum berterima kasih kau sudah mau menemaniku.” Katanya.

“Nggak masalah. Cuma hal kecil, nggak usah dipikirin.”

Ugh, tenang. Lo bisa bertahan. Luna, lo pasti bisa.

“Ok, thanks.”

“Sama-sama. Gue pulang sekarang.” Kali ini tanpa menengok lagi gue bergegas melangkahkan kali menuju pintu keluar dan berharap bisa segera menjauh dari apartemennya. Tempat ini membuat gue hampir kena serangan jantung taip kali. Gue harus segera pergi sebelum dada gue meledak karna terlalu keras berdebar.

Lyoid, lo bikin gue gila.

-"-

Saat gue buka pintu, Rheam sudah ada disana. Berdiri di pojok ruangan dengan bersandar ke dinding dan bersedekap tangan. Tatapannya tampak tidak senang ketika ngeliat gue. Udah bisa gue bayangin apa yang akan terjadi setelah ini.

“Kemana aja lo?” tanya Rheam.

“Ye terserah gue dong mo kemana. Kenapa harus bilang ke elo.”

Rheam mendekat ke arah gue, lalu berhenti tepat di depan gue. Ia memcondongkan badannya sedikit ke muka gue.

“Lo budak gue. Gue berhak tau kemana dan apa aja yang lo lakuin.”

Sesaat, gue ngerasa ketakutan dengan sikap Rheam. Tapi gue mencoba tetap tenang.

“Gue abis pergi bareng temen. Puas lo?” abis ngomong itu, gue langsung cabut dari hadapannya. Tapi telat, Rheam udah nangkap lengan gue dan langsung menyeretnya ke lantai atas.

“Eh, apa-apaan lo, lepasin gue.” Gue coba berontak tapi usaha gue sia-sia.

“Rheam lepasin gue, mo ngapain lo!” kali ini gue berteriak lebih keras, berharap ada orang yang mendengar. Sayangnya gue tau tak ada yang mendengar. Rheam meliburkan seluruh pelayan kecuali pengurus kebun dan satpam yang bertugas di luar. Mustahil mereka mendengar teriakan gue dari dalam rumah sebesar ini.

Gue baru saja melewati kamar gue lalu bertanya-tanya kemana Rheam akan membawa gue. Tepat saat gue berdiri depan pintu. INI KAMAR RHEAM!

Rheam memutar kunci lalu membuka pintu kamarnya dan mendorong gue masuk.

“M-mau apa lo? Gue nggak mau ada disini. Biarin gue pergi. Gue nggak mau ngelakuin itu!”

Rheam memendang gue heran. Suasana hening sesaat.

“Ngomong apa lo?” tanya Rheam

“L-lo, nggak mau ngelakuin itu?”

“Itu?” ulang Rheam

“Itu..”

Muka gue berubah cengo’

“Bersihin otak lo, pake ini.”

Rheam menyodokan vacuum cleaner ke gue.

“Vacuum cleaner.. Lo kira gue sampah ya.. denger, gue emang salah kira.. tapi gue bukan..”

“Bersihin kamar gue dalam satu jam. Semuanya harus sudah rapi. Jangan pindahin apapun, lo cuma harus bersihin aja. Jangan sampai ada yang rusak. Ngerti?” bentak Rheam.

“Tunggu, jadi maksud lo, sekarang gue pelayan pribadi lo?”

“Ingat perjanjian kita. Mulai sekarang lo pembantu gue. Bersihin kamar gue, siapin sarapan dan makan malam. Kerjakan tugas-tugas yang gue suruh. Jangan lakuin hal apapun tanpa sepengetahuan gue.. termasuk pergi kemanapun.”

“Gue harus minta ijin sama lo?”

“Yup, bener banget.”

Sial! Kenapa gue harus pecahin lampu hias itu. Kalau bukan karna rasa penasaran gue nggak bakal dikutuk jadi budak Rheam dan harus lakuin ini semua. Rheam sialan!

Rheam pun pergi meninggalkan kamar. Sekarang gue sendirian di dalam. Baru gue sadari ini kali pertamanya gue bisa liat isi kamar Rheam. Biasanya ia tak pernah membiarkan siapapun memasuki kamarnya, biarpun itu pelayan yang akan bersih-bersih. Pintu kamarnya selalu dikunci rapat dan tak dibiarkan sedikitpun terbuka.

Pandangan gue beredar ke sekeliing ruangan. Ternyata kamar Rheam cukup rapi. Ia tak meningalkan barang-barang bercereran di lantai selayaknya kamar cowok pada umumnya, dan cukup bersih. Bagus, seenggaknya gue nggak perlu ngeluarin banyak tenaga untuk urusan ini. Cuma ada sedikit barang-barang yang harus dirapikan dan dibersihkan.

Setelah selesai menyedot debu di lapisan karpet beludru mewah di kamar Rheam, kini saatnya merapikan barang. Ada beberapa meja di kamar Rheam. Salah satunya meja belajar dan meja untuk memajang hiasan yang lebih mirip seperti lemari hias di ruang barang-barang antik milik papa. Kemudian masih ada satu lagi meja dengan sebuah kaca di dinding untuk menaruh barang-barang seperti jel rambut dan parfum yang gue duga sebagai meja rias.  

Tempat tidurnya cukup rapi, jadi gue nggak perlu beresin lagi. Lalu sekoyong-koyongnya gue teringat akan ucapan gue sendiri barusan. Apa yang gue pikirin? Gue kira Rheam paksa gue kekamarnya untuk lakuin itu. Muka gue berubah merah. Darimana lo bisa punya ide gila kaya’ gitu, Lun? Dan dengan Rheam? Yang beneran aja. Sial, pasti gara-gara kejadian dengan Lyoid tadi, gue jadi nggak bisa mikir jernih.

Sekuat tenaga gue coba menghapus memori di otak gue. Lalu mulai membereskan barang-barang. Dimulai dari meja belajar Rheam ke meja yang lainnya. Lemari baju Rheam terkunci. Jadi gue nggak perlu ngeberesin baju-bajunya.

Sekarang gue sendang membereskan barang-barang di meja tempat Rheam memajang barang-barang pajangan. Gue mengelap seluruh pernak-pernik yang ada dan meletakkannya ke tempat semula. Lalu pandangan gue tertuju pada sebuah pigura di tengah meja. Seorang wanita muda sangat cantik sedang menggandeng seorang bocah kecil kira-kira berumur enam tahun. Wanita itu memiliki rambut panjang bergelombang dan berwarna pirang. Senyumnya saat tulus dan penuh perhatian. Dia pasti mamanya Rheam. Lalu di sebelah foto itu terdapat satu pigura lagi yang memajang foto dua orang anak kecil sedang duduk dibawah pohon apel dan tersenyum riang ke kamara. Mereka seumuran. Salah satunya anak kecil yang sama pada foto sebelumnya yang gue yakin adalah Rheam dan satunya seorang anak perempuan berwajah asing dengan rambut panjang berwarna pudar. Rambutnya diikat di kedua sisi mirip seperti telinga kelinci. Sangat manis. Mereka tampak gembira bersama.

Gue mengangkat foto itu dan mengamatinya. Di pojok foto tertulis nama Rheam and Lili. Itu kah nama anak perempuan itu? Di samping foto itu tergeletak sebuah syal berwarna merah dengan sebuah inisial nama jahitan tangan yang compang-camping tertulis R & L. Rheam dan Lili kah?

Sebelum gue lebih jauh mengamati kedua benda itu, seseorang menarik pigura di tangan gue dari arah belakang.

“Jangan sentuh yang ini.” Kata Rheam geram. Wajahnya tampak serius.

“Gue cuma mau bersihin aja kok. Kalo lo nggak mau gue sentuh itu ya udah. Gue nggak bakal sentuh itu lagi lain kali.” Kilah gue.

Rheam memandang gue tajam. Baru gue sadari jarak kami sangat dekat. Wangi parfumnya dapat gue cium sangat jelas. Kenapa dia selalu muncul tiba-tiba?

“Waktu lo udah selesai, sekarang tinggalin kamar gue.” Kata Rheam dengan nada memerintah. Dasar seenaknya.

“Nggak usah pake bentak dong, tadi lo yang paksa gue ke sini. Sekarang usir-usir gue seenaknya.” Bales gue.

“Peraturan selanjutnya, jangan bantah kata-kata gue.”

Ugh, sial.

Lalu dengan muka gondok gue segera meninggalkan kamar Rheam, masuk ke kamar gue sendiri dan menutup pintunya.

Rheam masih berdiri di sana. Memandang foto ditangannya cukup lama lalu meletakkan foto itu kembali ke meja. Pandangannya berubah sayu.

Rabu, 17 Agustus 2011

HIGH SCHOOL DISASTER (CHAPTER 5)

Soundtrack : Addicted by Stereos

Hari ini gue bangun lebih pagi dari biasanya. Well, bukan karena gue kerajian tapi karena gedoran pintu dari Rheam yang membuat gue berakhir di dapur memasak sarapan untuk ‘sang pangeran’ dan tentu saja sarapan gue sendiri karena pelayan rumah tangga kami mendapat cuti selama seminggu. Cuti yang sudah direncanakan dalam rencana pembantaian dan penindasan hari pertama gue sebagai budak Rheam. Tentu aja cuti itu nggak akan berlaku kalau ortu masih di rumah, sayangnya mereka sedang asik dengan urusan bulan madu mereka dan berfikir gue pasti akan baik-baik saja ditinggal sendiri bersama Rheam yang selalu bersikap manis dihadapan ortu. Pasti mereka berfikir Rheam dapat menjaga ‘adik tirinya’ dengan baik karena dialah satu-satunya orang yang dapat mereka percayai. Tapi sebetulnya mereka salah besar!

Gue sedang menggoreng telur urak-arik saat Rheam berjalan melintasi dapur memastikan gue sedang mengerjakan tugas gue dengan baik sebagai ‘pelayan pengganti’ untuknya. Gue memasak telur dengan cepat, memanaskan susu dan menuangkan jus jeruk dalam botol ke gelas. Kemudian mengambil beberapa butir buah apel dari dalam kulkas. Semua gue lakukan dalam kecepatan super sonik karena gue juga harus siap-siap berangkat sekolah.

Aslinya gue pengen banget dengan sengaja tambahin lada yang banyak di telur urak-arik Rheam biar dia kepedesan atau masukin garam ke dalam susunya. Tapi gue nggak sempat untuk itu semua. Gue harus buru-buru supaya nggak terlambat ke sekolah. Lagian hari ini gue pengen berusaha sedikit bersikap manis ke Rheam agar dia nggak terlalu menindas gue sebagai budaknya.

Dan gue pun akhirnya sudah siap dengan semuanya. Setelah menghidangkan sarapan dan kembali ke kamar untuk mandi dan berganti seragam, gue turun ke ke bawah untuk menikmati sarapan gue juga. Ternyata Rheam masih ada di meja makan. Gue duduk di hadapannya dan berpura-pura tidak menggubrisnya, menikmati acara sarapan pagi yang janggal karena hanya ada kami berdua di meja makan.

“Telurnya lumayan, tapi kurang sedikit garam.” Katanya tiba-tiba, memecah kesunyian dimeja makan.

“Apa lagi yang kurang?” tanya gue dengan nada mengejek. Sebal karena mendapatkan komplain.

“Lo lupa matiin kompor waktu udah selesai masak. Apa lo nggak tau kecerobohan lo bisa buat rumah ini hangus nggak bersisa? Emang lo nggak pernah diajarin cara gunain dapur sebelumnya ya?”

Oh ternyata ia masih ada disini untuk ceramahin gue masalah ini.

“Kalau lo lihat, kan elo bisa matiin.”

“Kalau gue nggak ada?”

Kalau lo nggak ada gue bakalan merasa bersyukur banget. Tapi ucapan itu cuma tertahan di hati, nggak mau berdebat lebih panjang. Waktu pagi gue lebih berharga dari pada untuk meladeni perdebatan dengan Rheam. Gue harus berangkat sekolah sendiri seperti hari-hari biasanya.  

“Muka lo kusut amat, Lun?” tanya Marin yang duduk manis di sebelah setelah gue menghempaskan badan dengan kasar ke bangku. Luca ikut mengekor dengan berdiri disamping Marin. Setelah membereskan dengan cepat peralatan makan sehabis sarapan, gue langsung melesat secepat kilat ke sekolah. Untung masih ada lima menit sebelum bel berbunyi.

“Sekarang gue resmi jadi budak Rheam satu semester,” kata gue kesal tapi dengan nada rendah.

“Jadi budak Rheam satu semester!!??”

“Tsuuttt!!!”

Jelas yang barusan tadi terdengar cukup keras walau Marin dan Luca berusaha untuk menahan ekspresi keterkejutannya. Siapa yang menyalahkan mereka untuk terkejut karna pada awalnya pun gue sangat terkejut mendengar Rheam mengatakan hal itu. Tapi hal ini nggak boleh sampai ketahuan siapapun kecuali hanya mereka. Untung temen-temen yang lain masih sibuk dengan urusan mereka sendiri, bergosip dengan membentuk kelompok di sudut-sudut kelas atau di dekat jendela. Para cowok asik sendiri dengan membuat kegaduhan di depan kelas.

Gue menunduk dengan turut pula menarik kepala Marin dan Luca hingga hampir menempel ke meja. “Kalian nggak akan bocorin rahasia gue kan?!!” bisik gue dengan nada sedikit mengintimidasi.  Marin dan Luca mengangguk serempak dan meminta maaf.

Mata gue melirik ke seberang bangku dimana Lyoid persis duduk di sebelah. Sepertinya dia tidak memperhatikan karena sedang asik tenggelam dalam buku bacaannya. Untunglah.

“Entar deh gue ceritain di kantin.” Saat itu pula bel pelajaran berbunyi.

Empat jam pelajaran terasa sangat lama hingga bel istirahat pertama berbunyi. Kami bertiga duduk di kantin setelah memesan tiga mangkuk bakso dan es teh.

“Jadi gimana ceritanya?” tanya Marin penasaran. Setelah memastikan tak ada murid-murid lain yang memperhatikan, gue mulai bercerita kepada mereka. Dimulai dari rasa penasaran mencari orang yang mungkin ada di rumah hingga memasuki ruangan aneh tempat papa tiri menaruh koleksi barang-barang antiknya dan menemukan monster berjubah rumbai-rumbai sehingga tidak sengaja menjatuhkan lampu hias antik yang sangat berharga nilainya hingga menjadi kepingan-kepingan kaca. Dan Rheam yang datang tiba-tiba sehingga gue berakhir menjadi budaknya selama satu semester.

“Kaya’ nggak kurang apes aja nasib lo, Lun,” kata Luca yang terdengar sarkastis tapi sebenarnya dia hanya bermaksud simpati. Jadi gue bisa maklum.

“Emang udah nasib gue kali.”

Pesanan pun datang dan gue segera menyedot es teh kuat-kuat untuk mengurangi ketegangan setelah bercerita panjang lebar. Tepat saat itu mata gue menangkap sosok Lyoid yang berjalan dengan membawa semangkuk bakso dan es jeruk menuju meja kantin, mencari-cari jika masih ada tempat kosong di kantin. Langsung saja tangan gue melambai untuk memberi isyarat padanya agar bergabung di meja kami. Lyoid dengan ekspresi datar menghampiri meja kami dan duduk di kursi sebelah gue yang masih kosong. Luca dan Marin saling berpandangan.

“Kenalin ini temen-temen gue, Marin dan Luca. Pasti lo juga udah kenal kan sama Luca? Dia kan temen sebangku lo,” kata gue sok yakin.

“Hai guys.” Sapa Lyoid singkat kemudian mulai menyantap baksonya tanpa memperdulikan apapun lagi. Marin dan Luca masih saling berpandangan tapi kini di wajah mereka ketambahan ekspresi melongo.

“He-ii” jawab mereka dengan muka cengo’.

Karena nggak ada lagi bahan pembicaraan jadi kami mulai menyantap bakso di meja. Kantin semakin sesak dan murid-murid berjubel mengantri pesanan makanan. Satu dua orang yang melewati meja kami berusaha curi-curi pandang ke arah Lyoid kemudian entah mengapa gue rasa semakin banyak lagi yang curi-curi pandang ke meja kami tentunya untuk melihat Lyoid. Bisa ditebak dengan jelas siapa mereka itu tentunya. Murid-murid cewek!

Deg! Lagi-lagi pandangan gue beradu dengan Rheam. Kenapa sih dia mesti ada dimanapun jangkauan mata gue memandang? Kenapa dia nggak bisa tinggalin gue barang sedetik aja menikmati makan di kantin dengan damai? Batin gue frustasi yang sebenernya cuma lebay karna dimana lagi tempat tujuan utama semua murid saat istirahat yang sudah kelaparan kalau bukan di kantin.

Rheam duduk di meja paling mencolok seperti biasa dengan dikerubungi para fansnya. Cindy, Vivi dan Tania pastinya nggak kan pernah ketinggalan di barisan depan. Kali ini perbedaannya Cindy dan kedua temannya selain berusaha mencari perhatian Rheam mereka juga sesekali melirik ke meja kami dan memperhatikan Lyoid yang sibuk makan. Dalam hati gue bersyukur Lyoid nggak merespon mereka juga para cewek lain yang sedari tadi memperhatikannya.

Gue segera mengalihkan pandangan dari Rheam, tapi dari sudut mata gue masih dapat melihatnya sedang menatap gue tanpa berkedip. Sialan.

Lyoid sudah selesai dengan acara makannya. Gila cepet banget. Tanpa sadar gue terkesiap. Ia menyedot tetes terakhir jus jeruknya dan memandang gue. Mata abu-abunya terlihat sangat besar dan indah. Bulu matanya panjang dan lentik tapi terkesan alami. Apa setiap cowok Caucasian punya mata seindah itu? Gue rasa memang Lyoid lah yang diberkati mata seindah itu.

“Pulang sekolah nanti apa ada acara?” Bibir merah Lyoid yang indah mengucapkan kata-kata yang ditujukan pada gue. Sesaat gue terlonjak dari lamunan saat sebelumnya sedang terfokus pada tatapan mata dan bibirnya yang menawan.

“Eh, apa?” gue pura-pura bodoh.

“Aku butuh sedikit bantuan lagi. Apa kamu bisa?” Expresinya datar seperti biasa tanpa terlihat risih saat Marin dan Luca memperhatikannya dangan ekspresi heran. Heran karena kami terlihat layaknya sudah akrab, padahal Lyoid terkesan dingin pada yang lain.

“Eh-iya.” Jawab gue cepat dan terkesan grogi.

“Baguslah, ku tunggu sehabis sekolah.” Kemudian Lyoid pun membereskan mangkuk dan gelasnya dan pergi membayar makanan. Setelah itu ia beranjak keluar kantin tanpa menoleh lagi. Mata gue masih mengekor ke sosoknya hingga ia tak terlihat lagi dari pandangan.

“Ada yang punya kencan abis pulang sekolah nih,” kata Marin terdengar sedang menggoda.

Kencan? Pipi gue memerah. Apa mungkin bisa disebut kencan? Dia nggak jelas tunjukin maksudnya apa ketika bertanya tadi. Lyoid kan cuma butuh bantuan gue. Tapi kenapa mesti gue? Ah-ha! Pertanyaan masuk akal. Selama ini Lyoid nggak mengenal orang lain lebih akrab di sekolah barunya selain gue – kalau bisa disebut akrab setelah beberapa kali insiden memalukan yang membuat kami jadi tanpak ‘akrab’ -- . Jadi wajar kalau ia minta bantuan gue. Gue mencoba meyakinkan diri. Selain itu, kemaren gue juga udah pernah jalan sekali dengannya keluar sekolah saat bantuin dia mengurus prabot pindahan di apartemennya. Apa itu juga bisa disebut kencan? Berarti gue udah pernah kencan dengan Lyoid? Pipi gue memanas.

“Apaan sih Marin, orang gue cuma mau bantuin dia kok.”

“Tapi kenapa dia minta elo? Kaya’ kalian udah akrab banget?” tanya Marin penuh selidik.

“Beberapa kali emang gue udah pernah ngobrol sama dia.”

“Maksud lo waktu lo ketemu dia di halaman belakang sekolah dan waktu lo seret dia keluar kelas kemarin itu?”

“Yah, beberapa diantaranya.”

“Lo udah pernah ketemu dia selain itu?” kali ini Luca yang bertanya penuh rasa penasaran.

“Iya.” Jawab gue malu-malu. Wajah Luca tampak gusar dan sedikit cemberut.

“Lo naksir dia, Lun?”

“A-apa?” gue nggak bisa jawab. Bingung harus ngomong apa. Sepertinya emang bener gue naksir Lyoid tapi masih malu untuk bilang ke sohib-sohib gue.

Tanpa gue sadari Rheam memantau setiap gerak-gerik gue sedari tadi. Sepertinya ia juga mendengarkan setiap pembicaraan gue dengan temen-temen gue, juga pembicaraan gue dengan Lyoid tadi.

Dering bel menyelamatkan gue dari sesi interogasi Marin dan Luca. Kami segera pergi ke kelas setelah gue mendesak mereka berdua untuk jalan. Saat berjalan melewati meja Rheam, ia memandang gue lekat-lekat seakan tak ingin melepaskan pandangannya dari gue. Bikin risih aja tuh orang. Tapi gue nggak menoleh. Kalau gue lakuin itu sama saja gue perduli dengannya. Sebisa mungkin gue nggak melakukan kontak apapun dengan Rheam di sekolah agar murid-murid yang lain nggak tau hubungan gue dengan Rhaem. Gue rasa Rheam juga sependapat dengan alasan jaga image-nya. Tapi kenapa dia nggak bisa berhenti perhatiin gue?

Gue pun segera melesat ke kelas sebelum tertusuk lebih dalam oleh pandangannya.

Pelajaran jam kelima dan keeman sama membosankannya dengan pelajaran sebelumnya. Yang membuat gue masih betah berada di kelas sudah pasti cowok yang duduk di seberang gue. Lyoid. Ia tak nampak serius memperhatikan guru yang sedang menerangkan kalkulus di papan tulis namun ia lebih memilih mencoret-coret notesnya seperti sedang membuat sketsa seseorang atau apapun. Gue nggak bisa lihat jelas. Namun begitu Lyoid menyadari sedang diperhatikan ia menutup buku notesnya dan menoleh kearah gue. Gue seperti terhipnotis sesaat oleh pandangan matanya. Lalu dengan malu-malu kembali mengarahkan pandangan ke atas meja. Moga aja Lyoid nggak nyadar kalau muka gue berwarna semerah kepiting rebus saat ini.

Saat bel istirahat kedua berdering gue butuh segera membasuh muka di toilet. Gue yakin muka gue udah nggak karu-karuan warnanya setelah selama sisa jam pelajaran menahan panas yang menjalar ke seluruh wajah dan leher. Jadi tanpa berkompromi dengan Marin ataupun Luca, segera saja gue melesat menuju toilet.

Langkah gue berderap cepat sepanjang jalan menuju toilet. Seseorang dengan tubuh tegap menabrak gue di lorong yang sedikit sepi. Atau lebih tepatnya gue yang menabraknya. Wangi parfume mawar merebak di sekitar tempat itu. Gue sepertinya kenal wangi ini dan sudah tak asing lagi. Tubuh cowok itu persis dihadapan gue. Wajah gue menempel di dadanya. Dia lebih tinggi dari gue. Hanya butuh waktu sepersekian detik untuk mendongak ke wajahnya dan mengenalinya. Wajah familiar itu begitu tenang dan …. tampan! Sial! Itu Rheam dan nggak bisa dipungkiri dilihat dari jarak sedekat ini ia nampak lebih indah. Wait!? Apa yang barusan gue katakan? Indah. Ugh. Harusnya gue nggak memuji dia. Tapi matanya, hidungnya, bibirnya dan wajahnya nampak nyaris sempurna dan rambut hitam legamnya kontras dengan kulit putih bersih miliknya. Darah separuh Caucasian dan Indo yang ia miliki berpadu dengan sempurna.

Gue tersadar dari lamunan beberapa detik sebagai kata ganti yang pas dari kata mengagumi andai gue nggak mau mengakuinya dan segera memundurkan kaki beberapa langkah, mengesampingkan semburat merah yang mulai timbul lagi di pipi setelah bersusah payah meredamnya saat di kelas. Kenapa kali ini terjadi lagi? Dan kenapa harus dengan Rheam? Sialan. Kenapa gue harus ketemu dengannya di sini? Terlalu banyak kenapa.

“Ugh, ngapain lo disini? Nggak maksud ngerjain gue di sekolah kan?” tanya gue hati-hati bercampur sedikit frustasi.

“Kalau iya kenapa?” Suara Rheam terdengar arogan.

“Lo nggak mau semua orang di sekolah tau kita bersaudara, kan?” saat mengatakannya gue coba memelankan suara serendah mungkin. Menengok kanan-kiri takut-takut kalau ada yang mendengar pembicaraan kami. Untungnya tak ada banyak orang di sekitar kami. Posisi kami masih jauh dari jangkauan pendengaran orang lain.

“Saudara tiri tepatnya.” Rheam menambahi.

“Ugh, jadi apa mau lo?”

Firasat gue udah nggak enak sejak memandang senyum sinis di wajahnya. Hebat sekali dia bisa menyembunyikan senyuman itu selama ini dari orang lain tanpa ketahuan kedoknya.

“Ikut gue!” kata Rheam.

Entah mengapa gue nggak bisa menolak perintahnya dan segera mengikutinya berjalan di belakang. Mungkin karena perasaan telah terikat menjadi budaknya. Sepanjang lorong kami berjalan dalam diam dan ia membawa gue ke ruang OSIS. Ruang OSIS ada di lantai bawah dan nampak sepi.

“Bawa kardus-kardus itu ke gedung olah raga.” Ia menunjuk pada kardus-kardus di sudut ruang OSIS. Ada kira-kira selusin kardus berukuran kecil hingga lumayan besar.

“Apa gue harus pindahin semua ini sendirian?” tanya gue ragu-ragu.

“Iya elo, siapa lagi.” Jawab Rheam ketus.

“Elo batuin kek.”

Dengan tiba-tiba wajah Rheam udah ada di depan gue. “Denger, lo budak gue. Jadi lakuin apa yang gue suruh.” Rheam mengatakannya dengan penekanan di tiap kata.

Ugh. Tanpa menjawab lagi gue segera menuju kardus-kardus itu dengan satu hentakan keras sepatu di lantai. Rheam hanya mengikuti gerakan gue dengan ekor matanya. Kedua tangannya tersilang di dada. Kardus-kardus itu segera gue bawa keluar dengan menumpuknya dari yang berukuran besar hingga paling kecil. Sisanya masih tergeletak di lantai, akan gue bawa lagi nanti.

Berjalan dengan membawa tumpukan kardus-kardus hingga setinggi mata memang tidak mudah. Apa lagi kardus-kardus ini cukup berat. Jadi pengen tau apa sih isinya. Rheam sialan, dia emang pandai manfaatin segala kesempatan buat manfaatin gue. Pasti dia emang udah sengaja nunggu di koridor buat nyeret gue untuk angkat kardus-kardus ini. Gue terus menggerutu selama perjalanan ke gedung olah raga, tanpa menyadari beban yang mengelayuti tangan gue berkurang tiba-tiba. Seseorang mengangkat kardus-kardus di bagian atas tangan gue dan membawanya beriringan di samping gue hingga menyisakan satu kardus saja di tangan gue.

“Mau dibawa kemana ini semua?” tanya suara berat dan sexy di sebelah gue.

“Lyoid.” Ucap gue terkejuat alih-alih menjawab pertanyaannya.

Lyoid memberikan pandangan seolah menegaskan kembali pertanyaanya. Gue buru-buru menjawab, “Gedung olahraga.”

Kami ke gedung olahraga. Meletakkan kardus-kardus itu di ruang penyimpanan. Lyoid tak nampak kelelahan setelah mengangkat kardus-kardus besar dan berat di tangannya. Wajahnya tenang seperti biasa.

“Apa masih ada lagi?” tanyanya.

“Sebenarnya masih ada…”

“Apa perlu bantuan lagi?”

“Nggak,” gue buru-buru menjawab. “Sorry maksud gue nggak usah, cuma tinggal dikit lagi,” kata gue dengan nada bersalah dan sedikit memelas. Jangan sampai Lyoid tau ini semua kerjaan Rheam.

“Siapa yang suruh bawa kardus-kardus ini?” tanya Lyoid seakan bisa baca pikiran gue.

“Hmm.. tugas dari OSIS.” Nggak sepenuhnya bohong, Rheam si ketua OSIS yang nyuruh gue walaupun dia udah seenaknya mafaatin jabatannya itu. Wajah Lyoid sekilas menampakkan ekspresi yang nggak bisa gue tebak.

“Ok, kalau udah nggak butuh bantuan lagi. Sampai ketemu nanti.” kata Lyoid yang langsung melangkahkan kaki keluar dari ruang penyimpanan dan beranjak keluar gedung olahraga. Bahkan nggak nunggu jawaban dari gue.

Sampai ketemu nanti! Tiba-tiba terngiang lagi ucapannya. Nanti pasti maksudnya abis pulang sekolah. Muka gue langsung memanas. Sebelum panasnya nyampe ke ubun-ubun gue segera melangkahkan kaki keluar gedung untuk mengambil sisa kardus yang masih ada.

Senin, 06 Juni 2011

HIGH SCHOOL DISASTER (CHAPTER 4)

Soundtrack : Can't Stand It by Never Shout Never


Pagi ini seperti biasa gue berangkat cukup awal ke sekolah untuk menghindar dari Rheam. Dengan santai gue berjalan menyusuri lorong menuju ke kelas 1IPA5 di lantai dua. Setelah menaiki tangga tak jauh dari kelas gue, gue melihat segerombolan cewek berdiri berdesakan di depan kelas 1IPA5. Kebanyakan mereka adalah anak kelas 1 dari kelas sebelah.

Gue memutar bola mata menyaksikan pemandangan tersebut. Apa gerangan yang sedang mereka lakukan disana? Apa Rheam ada disana sehingga cewek-cewek itu sengaja datang melihat? Maklum saja, dimana ada Rheam di sekolah pasti tak luput dari kejaran para ‘fans-nya’. Huhh, gue mendenguskan nafas kesal berjalan mendekati kelas.

Wow, ternyata ramai sekali disini hampir-hampir gue nggak dapat melangkahkan kaki kedalam.

“Permisi-permisi. Gue mau lewat” akhirnya setelah berjuang dengan sangat keras berhasil juga gue melangkahkan kaki kedalam kelas.

Di dalam kelas riuh ramai kambali terdengar. Ada Lyoid disana duduk dibangkunya. Di kanan kiri Lyoid cewek-cewek penghuni kelas sedang ramai mengobrol dengannya. Ok, lebih tepatnya memaksa Lyoid untuk berbicara dengan mereka, namun Lyoid hanya menanggapi mereka sesekali. Pantas saja! Ini yang membuat kelas gue bagai pasar dadakan.

Akhirnya gue duduk di bangku gue. Otomatis gue berjalan mendekat ke arah Lyoid menuju bangku gue diseberang. Dapat gue lihat wajah Lyoid nampak tak nyaman dikerubungi begitu banyak orang.

Di sebelah kiri sudah ada Marin saat gue menoleh. Luca berdiri didekat Marin karna bangkunya ditempati sementara oleh pada cewek centil yang mengerubungi Lyoid.

“Udah dari tadi mereka disini. Nggak nyangka ya ternyata anak baru yg lo maksud bisa jadi popoler banget kaya gini. Emang kata-kata lo kemarin nggak salah Lun!” Kata marin menjelaskan.

“Huh, gue sebel jadi nggak bisa duduk dibangku gue sendiri kan.” Tambah Luca mengomentari.

“Kasihan juga padahal pelajaran masih setengah jam lagi.”

Dengan inisiatif sendiri gue bangkit dari tempat duduk dan menerobos kerumunan cewek didekat Lyoid, menarik tangannya dan berjalan keluar kelas. Luca dan Marin nampak heran melihat aksi tiba-tiba gue begitu juga cewek-cewek dalam kelas.

Gue mempercepat langkah kaki berjalan sepanjang koridor sambil tetap menggandeng tangan Lyoid menuju ke suatu tempat yang gue anggap aman. Semua mata mamandang ke arah gue dan Lyoid. Yup, gue nggak peduli. Ada Rheam juga disana yang mengamati kami dari lantai tiga dengan wajah penasaran.

Sampai di halaman balakang akhirnya gue lepasin tangan Lyoid. Halaman belakang cukup sepi karna letaknya yang cukup jauh. Lagian kalau dipikir-pikir halaman belakang sekolah lebih mirip seperti hutan kecil karna banyak pepohonan besar dan rindang. Bukannya tempat yang cukup populer dikunjungi para siswa karna masih banyak tempat lain yang lebih nyaman di area sekolah.

Lyoid mamandang gue dengan ekspresi datar. Wajah bodoh gue muncul tiba-sata saat menyadari kelakuan bodoh yang baru gue lakukan.

“Sorry, gue lancang pake main langsung tarik aja tanpa permisi ke elo abisnya…”

“Thanks.” Ucap Lyoid memotong kata-kata gue.

Gue menatap mata Lyoid yang berwarna abu-abu. Kejadian kemarin saat diapartemennya terlintas lagi dalam kepala. Muka gue memerah seketika.

“Nggak apa-apa kok. Gue liat lo nampak nggak nyaman waktu di kelas jadi gue bawa lo kesini.”

“Sebenarnya aku juga ingin keluar kelas.”

Lyoid menghampiri sebuah pohon rindang tak jauh dari tempat kami berdiri dan duduk dibawahnya bersandar pada batang pohon. Gue mengikuti Lyoid duduk disebelahnya. Semilir udara pagi menerpa tubuh kami ditemani kicauan burung yang banyak bersarang di pohon-pohon. Kelas masih lama sebelum dimulai. Untuk sementara kami bertahan seperti ini sampai dering bell bel berbunyi.

“Gila lo Lun, nggak nyangka lo berani juga bawa kabur Lyoid.” Kata Marin saat kami bertiga dalam perjalanan menuju kantin sekolah di jam istirahat.

“Abis rasanya gue nggak bisa tinggal diam ngelihat Lyoid kwalahan diserbu orang banyak. Padahal gue tau kalo ia ngerasa nggak nyaman. Kasihan tau.” Jawab gue.

“Tapi aksi lo udah bikin heboh orang sekelas. Lagian kayaknya lo udah akrab banget ya ama Lyoid. Bukannya baru ngobrol sekali?” Luca bertanya dengan sedikit bersungut.

Muka gue langsung berubah merah. Marin dan Luca belum tahu kalau selain pertemuan tempo hari yang gue ceritain ke mereka gue juga udah pernah beberapa kali ngobrol dengan Lyoid. Bahkan melihat wajahnya dari jarak sangat dekat.

“Kenapa lo lun?”

“Eh nggak.” Gue berusaha mengalihkan perhatian. “Eh, itu ada Lyoid di pojok lapangan basket.”

Perhatian kami seketika tertuju pada sosok cowok berkulit putih dan tinggi yang sedang duduk sendiri di bangku penonton pinggir lapangan.

“Kesana yuk gue kenalin!” kata gue bersemangat menggandeng tangan kedua sohib gue.

Ternyata ada Rheam juga sedang bermain basket di lapangan. Beberapa kali ia mencetak skor mengalahkan temen-temannya yang menjadi lawan mainnya. Di pinggir lapangan beberapa gadis bergerombol menyoraki Rheam dan berteriak histeris saat Rheam berhasil mencetak skor.

“Lyoid!!” seru gue dari jauh.

Sebuah bola basket yang menggelundung ke arahnya mengalihkan perhatiannya. Ternyata itu bola dari Rheam yang tak sengaja terpental saat hendak memasukkan bola ke ring.

Ia memungut bola itu ditangannya. Rheam berdiri ditengah lapangan mengamati apa yang akan dilakukan cowok bermata abu-abu itu selanjutnya. Waktu nampak berhenti sejenak menanti saat-saat menegangkan yang entah mengapa gue rasakan.

Dengan gerakan tenang dan pasti Lyoid menganggkat bola itu hingga tepat diatas kepalanya dan melakukan shooting dengan gerakan indah ke ring basket di sisi sebelah lapangan. Bola itu melambung tinggi melampaui Rheam dan mendarat tepat ke dalam keranjang mencetak skor 3 point.

Semua yang ada di lapangan menengok ke arah Lyoid termasuk para cewek yang sedari tadi menyoraki Rheam. Sepertinya semua orang sedang terkagum dengan cowok bule tanpa ekspresi itu.

Entah apa yang Rheam pikirkan. Ia memandang tajam ke arah Lyoid dalam selang waktu beberapa detik penuh arti. Kemudian pergi meninggalkan lapangan diam-diam disaat semua mata masih memandang sosok cowok yang baru mereka lihat di sekolah.

Semua nampak sepi saat gue pulang kerumah membuat hati gue bertanya-tanya dimanakah semua orang. Biasanya ada mama yang sedang bereksperimen di dapur atau Rheam yang tiba-tiba muncul di saat yang tak terduga. Pelayan rumah tangga yang biasanya membantu mama memasak atau mengerjakan hal lain juga tidak nampak bersliweran di rumah besar ini. Kalo ‘papa’ sudah pasti di jam segini masih di kantor dengan setumpuk pekerjaan hebatnya.

Dengan was-was gue menaiki tangga ke lantai dua dimana kamar gue berada. Berjarak dua ruangan dari kamar gue ialah kamar Rheam. Pintu kamarnya tertutup rapat seperti biasanya dan gue yakin ia pasti juga menguncinya dari dalam. Rheam biasa menginci kamarnya bila ia sedang berada di dalam kamar atau kemanapun ia pergi.

Tiba-tiba gue mengurungkan niat pergi ke kamar. Gue rasa pasti ada seseorang di rumah jadi gue memutuskan untuk mencarinya. Karena menurut gue tak ada seorangpun di lantai satu dan dua jadi gue menaiki tangga kelantai tiga siapa tau bakal nemuin seseorang di lantai atas. Kemungkinan terburuk paling kalau ketemu Rheam gue bisa langsung cepat-capat kabur sebelum dia bertindak macam-macam. Taulah Rheam paling hobi ngerjain gue kalo di rumah.

Di lantai tiga tepatnya di ruang keluarga kediaman Collins ternyata juga sepi tak ada siapapun. Gue merasa lega juga merasa sedikit merinding. Lega karena gue nggak menemukan sosok Rheam sang penjahat bertampang pangeran dan merinding karena rumah tiba-tiba seperti bernuansa horor karna tak ada siapapun kecuali gue sekarang. Di tambah lagi rumah mewah ini bergaya kuno ala victorian yang mengingatkan gue akan film-film atau novel-novel horor terjamahan yang sering gue baca disaat waktu senggang.

Rasanya sekarang gue seperti berada di dalam novel tersebut dan seorang pembunuh berantai sedang mengintai gue dari sudut tempat di rumah ini. Seharusnya di novel-novel seperti itu bakal ada seorang pangeran tampan atau kesatria yang menolong gue disaat terdesak. Tapi dalam cerita gue tak ada seorangpun pangeran atau kesatria yang sekarang ini akan berusaha menolong gue kalau tiba-tiba terjadi sesuatu yang tak diinginkan dirumah ini. Tunggu, kenapa yang terlintas dipikiran gue malah Lyoid? Mungkin karena sosok dia yang menawan dan tampang bulenya yang identik dengan tokoh-tokoh pangeran tampan dalam novel terjemahan kali ya? Tapi Lyoid itu malaikat bukan pangeran. Pikiran gue jadi ngelantur kemana-mana gara-gara suasana rumah yang sunyi. Lyoid bukanlah siapa-siapa, bukan malaikat ataupun pangeran. Hanya seorang cowok yang ‘kebetulan’ gue kenal di bawah pohon saat tertidur di jam pelajaran dan sedikit aneh sifatnya. Sudah pasti aneh kalau lebih mementingkan tidur di bawah pohon dari pada mengikuti pelajaran dan membolos di jam matematika si guru killer. Juga wajah dengan ekspresi datar disegala situasi yang selalu bikin muka gue nggak jelas sedang berubah menjadi warna apa.

Lamunan gue buyar menyadari hal bodoh yang sedari tadi gue pikirkan. Alih-alih memikirkan hal bodoh lain yang mungkin akan terlintas lagi diotak gue seperti melihat Lyoid yang datang tiba-tiba dengan baju pangeran lengkap dengan kuda putihnya atau Rheam yang tiba-tiba muncul pakai kostum pocong dan bau kemenyan gue berjalan pergi menuju sisi ruangan yang lain dimana koleksi barang-barang antik di simpan.

Ternyata berada diruangan ini tak membuat suasana hati gue lebih baik dari sebelumnya karena runagan ini dipenuhi dengan berbagai macam barang yang bisa disebut aneh dan memang terkesan unik. Mulai dari hiasan kaca berukuran mini hingga patung kayu raksasa di pojok ruangan yang gue lihat-lihat berasal dari daerah sekitar Amazon. Wow, ruangan ini hampir mirip dengan sebuah musium mini. Barang-barangnya dijajar dalam lemari-lemari kaca besar bersusun hingga atas sesuai tema dan bahannya. Selain itu ada juga yang ditempatkan diatas lemari besar dari kayu jati berupa souvenir-souvenir dari manca negara. Nampak sekali kalau papa tiri ternyata suka traveling keliling dunia dan berburu cinderamata.

Ok, yang membuat seram ruangan ini sudah pasti patung-patung kuno entah dari jaman apa dan berasal dari mana yang diletakkan hampir mengelilingi seluruh rungan dan sebagian berada didalam lemari kaca. Karena sebagian patung-patung itu berukuran lebih besar dari lemari kaca dan tidak muat untuk dimasukkan kesana kupikir itu alasannya diletakkan di sudut-sudut ruangan atau memang sudah begitulah tempatnya. Apapun itu, yang jelas gue udah dibikin merinding dengan patung-patung yang seolah hidup dan sedang memandangi gue sekarang.

Lebih baik gue segera pergi dari tempat ini kalau tak mau melihat penampakan yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Namun ada benda lain yang menarik perhatian gue yang mengurungkan niat gue untuk segera pergi yaitu kumpulan hiasan dari kaca yang diletakkan di dalam lemari di salah satu sudut ruangan. Gue menghampiri lemari kaca tersebut dan berdiri tepat di depannya. Beberapa detik seperti terhipnotis akan keindahan semua hiasan kaca di dalam lemari. Ada berbagai macam bentuk hisan dan warna. Semuanya nampak gemerlapan. Sangat indah.

Disaat tak sengaja melirik kesamping kanan, terlihat sosok menyeramkan bermata merah dengan jubah rumbai-rumbai hitam yang kontan membuat gue terkesiap dan memundurkan kaki beberapa langkah sehingga tak sengaja menabrak sebuah meja dan menjatuhkan sebuah hiasan kaca antik yang berada diatasnya. Bunyi kaca pecah terdengar nyaring memenuhi ruangan. Jantung gue berdebar keras karna shock oleh dua hal buruk yang gue alami hampir bersamaan yaitu melihat sosok menyeramkan dan menjatuhkan sebuah hiasan antik yang pastinya berharga sangat mahal. Untungnya salah satu penyebab shock gue dapat teratasi setelah mengetahui kalau sebenarnya sosok menyeramkan yang baru saja gue lihat hanyalah sebuah patung yang dipakaikan pakaian mirip manusia. Untuk sesaat gue menghela nafas lega tapi tidak lagi setelah teringat kembali dengan pecahan hiasan kaca yang tersebar dilantai menjadi serpihan-serpihan kaca. Tepat saat itulah Rheam muncul dari balik pintu dan melihat gue dengan segala kekacauan yang baru gue timbulkan. Sial

“Gue nggak sengaja!” kata gue lebih dulu sebelum Rheam sempat melontarkan makiannya yang yakin bakal gue dapat dari mulutnya. Namun Rheam tak berkata apa-apa dan berjalan menghampiri serpihan kaca itu.

‘Sialan.’ Gerutu gue dalam hati.

“Lo tau berapa harga barang yang baru lo pecahin ini?” tanya Rheam yang akhirnya buka mulut,  “Yang pasti lo nggak akan mampu bayar walau bekerja keras seperti apapun. Dan apa lo tau kalau ini adalah lampu hias dari kaca yang sangat papa sayangi? Papa pasti bakal marah besar kalau tau lampu hias kesangannya sudah pecah berkeping-keping begitu sampai dirumah.”

Tubuh gue merinding mendengar ucapan Rheam. Apa lampu hias itu sangat tinggi nilainya sampai dia bilang gue nggak bakal mampu ganti. Kalau dilihat dari keseluruhan barang yang ada diruangan ini memang semuanya nampak berharga. Gue rasa Rheam nggak sedang main-main mengatakannya.

“Gue akan tetap berusaha ganti.” Kata-kata itu meluncur sendiri dari lidah gue walau gue tau kemungkinan merealisasikannya sangat sulit.

Rheam hanya tertawa menanggapi. “Sampai kapan lo mau berusaha ganti? Apa lo punya berjuta-juta uang untuk menggantinya? Oh, mungkin belum sampai lo bisa ngelunasin seluruh hutang lo, lo udah ditendang keluar dari rumah ini. Papa paling tidak suka kalau ada seseorang yang merusak koleksi kesayangannya walau mereka orang terdekatnya sekalipun. Apa lagi elo yang baru masuk rumah ini beberapa minggu saja. Sudah pasti papa bakal marah besar. Dan apa lo memikirkan nasib mama lo yang harus menanggung segala akibat dari apa yang lo perbuat? Masalahnya nggak akan segampang itu diselesaikan.”

DEG

Mama gue juga bakal kena?

“Gue…” kata-kata gue tercekat di tenggorokan karna tak tau harus berkata apa. Semua yang dikatakan Rheam nampaknya masuk akal dan terngiang-ngiang di kepala.

“Tapi gue punya pilihan buat elo.”

Firasat gue tiba-tiba nggak enak mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Rheam barusan.

“Gue nggak akan bilang apa-apa ke papa dan gue yang akan mengganti semua kerusakan ini asalkan lo bersedia jadi budak gue selama satu semester.”

“SELAMA SATU SEMESTER JADI BUDAK ELO??? LO GILA APA???”

“Terserah kalau lo mau selesaiin urusan ini sendiri. Tapi seperti yang tadi gue bilang urusannya bakal tambah runyam dan nggak cuma ngelibatin elo. Elo juga nggak bakal mampu bayar itu sudah pasti.”

Huh kalau seandainya saja ada salah satu barang antik diruangan ini berupa tombak atau garpu tala pasti sudah gue tusukin ke Rheam saat ini juga. Sayangnnya nggak ada benda semacam itu diruangan ini yang ada cuma tongkat pemukul baseball  yang tergantung di dinding tepat diatas meja kayu besar tempat pajangan barang antik yang sudah jelas tak dapat gue jangkau. Bisa pun tak akan mempan membuat pingsan Rheam dan paling hanya akan meninggalkan sedikit luka benjol dikepala. Gue akui tubuh Rheam jauh lebih atletis daripada gue. Yaiyalah nggak mungkin bandingin cowok dangan cewek. Apalagi Rheam memang seorang olahragawan. Tapi itu semua nggak penting karna gue sekarang harus memutuskan pilihan apakah gue akan jadi budak Rheam satu semester atau menghadapi tanggung jawab gue sendiri dengan semua resiko yang ada.

“Gue mau jadi budak elo.” Akhirnya kata-kata itu yang keluar dari mulut. Rasanya gue pengen nampar muka gue sendiri saat mengatakannya. Tapi apa boleh buat setelah menimbang-nimbang resiko paling kecil yang akan gue hadapi dan tentunya tidak akan melibatkan mama, gue memutuskan untuk menjadi budak Rheam.

“Bagus, mulai sekarang lo harus turutin semua perintah gue.” Senyuman menyeringai ala film horor dapat gue lihat di wajah Rheam. Firasat gue semakin bertambah buruk. Gue sudah terjebak dalam perangkap Rheam. Tinggal menunggu nasib buruk apa yang akan mengikuti gue selanjutnya.

“Oya, lo bisa mulainya dengan membersihkan pecahan kaca di ruangan ini. Palayan rumah hari ini sedang cuti.” Katanya sambil memutar badan beranjak keluar ruangan namun ia kembali berbalik ketika sampai di depan pintu. “Satu lagi, apa lo sudah tau papa dan mama pergi selama sebulan untuk bulan madu ke Eropa, mereka berangkat pagi ini dan sepertinya rencananya memeng mendadak. Mereka sudah meningalkan pesan melalui fax di ruang kerja papa.” Mata Rheam menyorot tajam ke gue. “Kita akan menghabiskan banyak waktu bersama selama sebulan.”

Bulu kudu gue merinding melihat senyum misterius di wajah Rheam. Apa yang bakal Rheam lakuin ke gue sebagai budaknya selama papa dan mama pergi bulan madu? Semua bayangan buruk terlintas satu persatu dalam otak. Mungkin tadi bukan keputusan tepat untuk memilih menjadi budak Rheam.

Jumat, 29 April 2011

HIGH SCHOOL DISASTER (CHAPTER 3)

Soundtrack : Jadi Milikmu (Crazy) by Anggun

Beberapa orang cewek ok, mungkin lebih tepatnya segerombolan banyak cewek nampak mengerumuni sudut kantin sekolah sambil membuat suara gaduh seperti suara teriakan histeris atau apalah yang memekakkan telinga orang sekantin dan jalas membuat selera makan gue berkurang karna gue tahu apa yang sedang meraka lakukan disana. Mengerubungi Rheam. Yiaakks

Cowok berparas indo-bule dengan segala kelebihannya itu memang mampu merebut hati gadis siapa saja di sekolah ini. Tapi tak kusangka banyak juga gadis bodoh yang tertipu tampang malaikat Rheam. Gimana ya rasanya membuka topeng Rheam dihadapan semua orang? Namun gue tahu gue harus bersabar.

Terlihat dari sudut mata gue seorang cewek yang nampak mencolok. Gimana nggak mencolok coba, cewek bertampang indo dengan rambut dicat pirang, mengenakan rok SMA ketat dua puluh senti diatas lutut, dan baju seragam yang pastinya cowok-cowok dapat langsung berdecak kagum melihat warna pink menerawang dari balik kemeja putih yang ia kenakan. Cewek itu bernama Cindy. Disampingnya, tepat disebelah kanan dan kiri Cindy, berdiri dua cewek lain yang tak pernah lepas selalu terlihat bersama yaitu Vivi dan Tania. Mereka adalah cikal bakal pendiri fans club pecinta Rheam yang mereka namakan Rheam lover. Sekarang mereka sedang asik ngobrol dengan Rheam diikuti beberapa cewek lain yang juga anggota fans club tersebut.

Ada-ada saja cewek disekolah ini. Kayaknya di dunia ini tidak ada hal penting lain yang dapat dikerjakan hingga muncul ide gila dengan membentuk fans club Rheam segala. Emang sebegitu hebatnyakah Rheam dimata cewek-cewek di sekolah? Tanpa sadar gue ngedumel dalam hati. Bakso dalam mangkuk gue yang nggak berdosa sudah menjadi korban pencabikan secara sadis dari garpu yang sedari tadi gue pegang.

Hari ini adalah bad day buat gue. Tunggu, sejak kapan sih hari gue nggak bad day semenjak gue kanal Rheam ‘yang sesungguhnya’. Ok, tiap hari gue ngerasa bad day tapi hari ini jauh lebih parah karena Marin dan Luna nggak masuk sekolah. Alasannya simpel saja, Marin sakit flu cukup parah dan Luca yang datang menjenguknya hari minggu kemarin ikutan ketularan sehingga jadilah hari ini mereka kompakan nggak masuk sekolah. Untungnya daya tahan tubuh gue cukup kuat jadi waktu ngejenguk nggak ikut ketularan. Kasihan juga ya mereka dan kasihan juga diri gue sendiri karena sekarang gue lagi kesepian nggak ada teman untuk diajak ngobrol. Biasanya kalau ada Marin dan Luca kami selalu saja ada topik menarik untuk diobrolin. Tapi sekarang mereka lagi nggak ada disamping gue. Sekolah tampak membosankan. Apalagi ditambah pemandangan menyebalkan di sudut kantin yang bikin gue semakin muak berada di sekolah ini.

Gue berencana menghabiskan sisa es teh dari gelas kemudian segera pergi dari kantin saat tiba-tiba seseorang menghampiri meja gue. Seorang cowok yang mengenakan baju seragam baru dan memegang mangkuk berisi soto dan segelas es jeruk ditangannya. Gue terpana beberapa detik sebelum akhirnya menyadari tingkah bodoh gue dan berharap dia tidak menyadarinya.

“Sorry, meja yang lain penuh. Boleh duduk disini?”

“Eh, yah. Silakan.”

Kemudian cowok itu meletakkan mangkuk dan gelasnya dimeja dan duduk dihadapan gue. Tanpa berucap kata sepatahpun lagi ia mulai menyantap makanannya. Niat gue semula untuk meninggalkan kantin batal karna sekarang gue sedang terpana memandang wajah cowok cakep yang hanya berjarak satu meter dari hadapan gue.

Abis mimpi apa gue semalam, Lloyd sekarang ada persis didepan mata gue. Rasanya aneh. Tapi seneng juga ngelihat cowok ganteng dari jarak dekat seperti ini.

“Ada apa?” Tiba-tiba ia mendongakkan wajah ke gue, ngerasa kalo sedari tadi diliatin.

“Eh, nggak apa-apa kok.”

Srottt srootttt. Bunyi dari gelas es teh yang gue sedot-sedot walah tau sudah habis isinya. Lloyd memandang gue heran.

“Nih, minun aja punyaku.” Katanya menyodorkan gelasnya yang masih penuh ke gue.

“Eh nggak perlu, nggak perlu. Entar lo gimana?”

“Aku bisa pesan lagi.” Beberapa saat kemudian Lloyd sudah memanggil penjaga kantin datang ke meja dan memesan segelas minuman baru.

Ok, gue ralat, hari ini nggak se bad day yang gue kira. Ada Lloyd yang sekarang nemenin waktu istirahat gue dan duduk ditempat biasa saat Marin dan Luca makan bersama gue di kantin walaupun sekarang kami saling diam karna tak ada bahan percakapan lain untuk dibicarakan.

Gue menyedot es jeruk dari gelas yang Lloyd sodorkan tadi sambil bermain-main dengan sedotan dimulut. Mata gue nggak bisa lepas dari Lloyd sedikitpun.

Merasa bosan karna tak ada obrolan gue memulai lagi percakapan.

“Jadi, lo masih ingat nama gue kan?”

Lloyd berhenti dari aktifitas mengisi perutnya dan berpikir sejenak.

“Luna Kataluna”

“Wow, nggak sangka ternyata lo inget juga nama gue.” Senyum lebar menghiasi muka gue saat mendengar Lloyd menyebut nama lengkap gue dengan benar.

“Yeah, karna nama kamu terdengar unik.”

Sebentar, itu pujian atau malah ledekan ya? Ok, nggak masalah. Yang penting dia ingat nama gue. Gue senyum-senyum sendiri dalam hati.

“Lloyd , kalau boleh tahu apa alasan lo pindah ke Indo?”

Lloyd berhenti sejenak kembali, seperti memikirkan kata-kata yang hendak diucapkannya.

“Aku ingin berjumpa kambali dengan seseorang.” Katanya dengan tampang datar seperti biasa.

Seseorang? Mantan pacarnya atau keluarganya kah? Atau mungkin gadis yang ia suka? Gue memikirkan segala kemungkinan yang ada. Seolah penasaran dengan siapa orang yang ingin ditemui Lloyd disini.

“Siapa?” tanya gue hati-hati, namun Lyoid tak memberikan jawaban.

Sial. Harusnya gue nggak usah tanya. Dengan muka manyun gue mengaduk-aduk es jeruk dengan sedotan. Saat mengalihkan pandangan tak sengaja sudut mata gue bertemu dengan mata Rheam yang memandang tajam ke arah gue. Gila, ngapain tuh cowok pake melototin gue segala. Ternyata gue emang ngak pernah luput dari perhatian dia. Segera saja gue alihin lagi pandangan kearah lain pura-pura tidak menggubris adanya Rheam di kantin.

“Rheam, boleh minta foto bareng nggak untuk dipajang di album fans club kami?” teriak seorang cewek cukup nyaring untuk didengar sampai ketelinga gue.

“Tentu saja boleh, ambil foto sebanyak yang kalian suka.” Jawab Rheam ramah. Hueeekk.. gue harap ada tempat sampah didekat sini karna perut gue tiba-tiba mual.

Para cewek asik mengerubungi Rheam dan berpose sok imut kemudian mengambil gambar dengan kamera flash light. Sementara cowok-cowok yang berada di sekitar kantin berdengus kesal memandang cewek-cewek yang keganjenan dan merasa dirinya kalah saingan. Kasihan

“Eh, udah selesai makannya?” Gue beralih pada Lloyd yang hendak berberes meninggalkan meja.

“Iya.”

“Abis ini mau kemana?” tanya gue.

“Pulang.”

“Pulang? Bukannya belum selesai pelajaran?”

“Nggak masalah.” Tanpa menunggu lebih lama lagi Lloyd berjalan meninggalkan kantin diriingin gue yang berusaha mengikutinya dari belakang.

“Tunggu! Lo nggak bermaksud bolos kan?” tanya gue sebelum kami meninggalkan gerbang kantin. Lloyd berhenti dan membalikkan badan.

“Iya, mau ikut?”

Tanpa menunggu jawaban dari gue ia melangkahkan kembali kaki jenjangnya menyusuri lorong sekolah. Dari belakang tanpa gue sadari Rheam memandang lekat kearah kami.

-“-“-

“Sebenarnya apa sih yang lo pikirin, bukannya lo baru masuk sekolah dua hari ini dan lo udah berniat untuk bolos?” tanya gue sambil berlari-lari kecil disamping Lloyd berusaha menyamakan langkah dengannya. Gila, susah juga ngimbangin langkah kaki Lloyd yang panjang.

Nggak disangka gue memutuskan untuk mengikuti Lloyd bolos sekolah. Gue harap nggak bakal di skors gara-gara bolos pelajaran matematika di jam terakhir. Tau sendiri guru matematika gue kan paling killer di sekolah. Kalau gue sampai di skors Lloyd bakal nemenin gue juga pastinya.

“Aku harus melakukan sesuatu hari ini, nggak bisa menunggu sampai pelajaran selesai. Nanti nggak akan selesai hingga petang.”

“Ngelakuin apa? Gimana ntar kalo dimarahin guru? Lagian ntar kita bisa ketinggalan pelajaran.”

“Semua pelajaran yang diajarkan disini sudah pernah kupelajari dulu.”

“Apa? Emang beneran lo udah pelajarin semuanya?” tanya gue setengah kaget setengah nggak percaya dengan kata-kata Lyoid. Nggak nyangka kami udah berjalan cukup jauh hingga kesuatu tempat yang nampak tak asing bagi gue. Sekitar seratus meter didepan sana terlihat sebuah apartemen tinggi menjulang dan megah. Gue mengikuti Lloyd berjalan memasuki apartemen tersebut dan kini kami berada didalan lift menuju ke lantai 20 dimana tempat tinggal Lloyd berada. Lumayan jauh juga untuk gedung bertingkat 50 lantai. Apartemen ini berada di pusat kota dekat dengan segala fasilitas penting dan tentunya sekolah kami juga. Ugh, ternyata dia anak orang kaya.

Lift pun terbuka tepat di didepan sebuah pintu yang bertuliskan Ashton Lloyd pada sebuah papan ukiran tembaga berkilau.

Lloyd memasukkan kunci kelubang dan membuka pintu tersebut diiringi wajah terkagum gue melihat isi apartemennya yang serba mewah. Ok, memang bukan baru pertama kali ini gue melihat rumah mewah. Saat pertama menginjakkan kaki di rumah keluarga Collins pun demikian. Gue sempat terkagum-kagum akan kemewahan  rumah tersebut. Begitu juga saat pertama kali masuk SMA Permata Bangsa. Tapi tetep aja gue ngerasa janggal tiap kali memasuki tempat mewah seperti ini.

Lloyd mempersilakan gue masuk dan dia berjalan duluan ke dalam. Namun tiba-tiba gue menjadi ragu untuk mengikutinya. Maksud gue, hey, gue baru kenal Lloyd tiga hari dan dia sudah berani mengajak gue kerumahnya. Ok, emang sih tadi gue sendiri yang pengen ikut. Tapi apa sebaiknya gue ikutin dia masuk atau gue urungkan niat sekarang sebelum semuanya terlambat? Bukan bermaksud berpikir negatif sih. Tapi untuk jaga-jaga saja.

Setelah beberapa detik berpikir, waktu yang cukup lama disaat nervous akhirnya gue mengambil satu langkah kaki. Pada akhirnya memang rasa penasaranlah yang menang. Gue berjalan perlahan memasuki apartemen Lloyd dan melihat banyak barang-barang dalam box yang belum selesai ditata.

“Belum sempat ku bereskan semua karna terlalu sibuk dengan administrasi sekolah.” Kata Lloyd seakan mengerti apa yang gue pikirkan.

“Kenapa nggak manggil orang aja untuk ngerjain semua? Gue yakin lo pasti mampu bayar.” Kata gue sambil mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Apartemennya luas dengan beberapa ruangan yang cukup ditinggali satu keluarga dan prabotan mewah disemua sudut apartemen. Dinding ruang tamu di cat warna pastel dan marun dan terdapat sebuah gorden ungu dipojok ruangan.

“Untuk prabotan yang besar, iya. Selebihnya ingin kukerjakan sendiri karna tak ingin orang lain merusaknya.” Jawab Lloyd sembari membuka gorden ungu yang tadi gue lihat.  Terlihat pemandangan kota dari atas.

Lalu Lloyd membuka seluruh pintu ruangan yang ada kemudian berjalan kesudut ruang tamu tempat kami sekarang berdiri, mencari-cari sesuatu dalam salah satu box yang tertumpuk. Gue masih tetap mengedarkan pandangan keseluruh ruangan. Barang-barang yang ada terlihat manis dan elegan. Vas bunga dengan bermacam bunga warna-warni baik yang imitasi ataupun bunga segar terlihat menghiasi seluruh ruangan di Apartemen. Pandangan gue beralih pada sebuah sofa berwarna merah muda yang terlihat nyaman. Gue menghampiri sofa tersebut dan duduk sambil memeluk batal warna-warni yang ada di sofa. Apartemennya terlihat penuh warna dan terkesan girly.

“Dulu apartemen ini pernah ditinggali oleh sepupu perempuanku sebelum aku pindah ke sini.” Lagi-lagi Lloyd membaca pikiran gue.

“Apa lo tinggal sendirian disini atau bareng orang lain? Orang tua lo mungkin?” Tanya gue ke Lloyd tapi seketika muka gue berubah pucat pasi. KENAPA DIA HARUS BUKA BAJU DI DEPAN GUE????!!!!

Mata gue melotot karna kaget. Lloyd mengganti baju seragamnya dengan kaos yang baru ia temukan di box. Ya, tepat dihadapan gue! Dapat dengan jelas gue lihat punggungnya yang mulus dan putih bersih. Otot-otot punggung dan lengannya terlihat atletis dengan perut ramping dan postur tinggi besar ala bule-nya. Aduh apa nggak ada tempat lain apa kenapa musti didepan gue?? Dasar bule emang suka seenaknya sendiri. Untung dia nggak ganti celana juga di depan gue. Bisa kena serangan jantung mendadak kalo sampai beneran.

“Aku tinggal sendirian. Semuanya kuurus sendiri.” Jawab Lloyd menghampiri sofa tempat gue berada. LAGI-LAGI, KENAPA WAJAHNYA SEMAKIN MENDEKAT??? Gue menahan nafas beberapa detik saat wajah Lloyd tepat dihadapan gue dan pastinya nggak bisa mengelakkan rona merah di pipi. Beberapa saat ia memundurkan kembali tubuhnya dengan membawa dua pasang sarung tangan yang baru dipungutnya dari sebuah box dibalik sofa. OMG, gue bakal beneran kena serangan jantung.

“Pakai sarung tangan ini untuk memindahkan barang-barang keramik disana, nih!” ia menyodorkan sepasang sarung tangan ke gue dan memakai sepasang lagi untuknya sendiri. Dengan cekatan Lloyd memindahkan barang-barang pindahan ketempat semestinya. Gue yang masih sedikit shock dan  bingung mengikutinya memindahkan barang-barang.

Apaan nih? Bolos sekolah untuk kerja rodi?

“Bukannya kata lo tadi lo nggak mau dibantu orang lain karna takut orang lain ngerusak barang-barang lo?”

“Iya, tapi kurasa kamu berbeda.”

Ugh, pipi gue memerah lagi mendengar kata-kata Lloyd . Pura-pura tak merespon gue terusin lagi acara memindahkan barang.

Semua barang-barang keramik sudah tertata semua di almari hias. Kini giliran barang-barang di box satunya. Gue melihat box  satunya di dekat gue yang masih disegel tak seperti box-box yang lain yang sudah terbuka. Lloyd masih menata barang-barang di ruang sebelah. Karna penasaran gue  membuka box tersebut dan menemukan beberapa barang didalamnya. Sebuah boneka bebek berwarna kuning dan putih dengan perut besar menyembul pertama kali dari dalam box. Gue memungutnya dan mengamatinya dengan heran. Didalam box masih ada beberapa barang lagi. Seperti beberapa pigura yang tertelungkup dan foto album serta beberapa CD dalam CD box.

‘Aneh sekali, kenapa dia bawa-bawa boneka segala?’ pikir gue dalam hati.
‘Mungkin boneka pemberian dari seseorang atau boneka itu akan diberikan untuk orang lain?’ gue masih bertanya-tanya. Boneka itu terlihat usang entah mengapa.

Gue hendak memungut pigura dalam box ketika tiba-tiba dikejutkan oleh sebuah tepukan pundak dari belakang. Kontan gue kaget dan langsung menolehkan tubuh kebelakang. Jarak muka gue hanya satu senti dari wajah Lyoid. Gue terdiam beberapa saat karena shock. Wajah tampan Lyoid dapat dengan jelas gue lihat bahkan hidung mancungnya sedikit lagi hampir menyentuh hidung gue. Nafas gue lagi-lagi tertahan beberapa saat, nggak tau apa yang harus gue lakukan saat ini. Rona merah kembali muncul di pipi.

“Sorry, gue cuma mau bantu pindahin barang-barang di box ini.”  Kata gue kikuk.

Wajah Lyoid nampak berbeda dari ekspresi biasanya. Ia memandang pada boneka bebek yang gue pegang. Beberapa detik tampak sunyi.

“Ini boneka elo?”

“Iya” jawab Lyod singkat sambil mengambil boneka itu dari tangan gue. “Barang-barang di box ini biar aku saja yang urus. Kamu bisa bantu pindahkan barang-barang di box lain.” Ucap Lyoid dengan ekspesi datar. Kini wajahnya sudah tidak lagi persis didepan gue. Akhirnya bisa menghembuskan nafas lega juga. Huufff, emang deh semakin lama bisa kena serangan jantung beneran kalo lama-lama berada disini.

Lyoid mengangkat box berisi barang-barang yang baru gue temukan ke sebuah ruangan. Sepertinya itu kamarnya. Gue hanya bisa mengamatinya berlalu begitu saja. Dengan wajah tanda tanya akhirnya gue putuskan untuk memindahkan barang-barang di box yang lain.

Jam menunjukkan pukul 9 petang ketika sampai di rumah. Untung ortu nggak marah saat gue pulang. Alesannya sih ngerjain tugas kelompok di rumah teman. Aduh dosa ya gue bo’ong sama ortu. Tapi kalo ngomong yang sejujurnya bisa kena marah abis-abisan ntar. Masa gue mau bilang bolos pelajaran sekolah karena ikut-ikutan temen cowok yang baru gue kenal tiga hari lalu datang kerumahnya dan disuruh kerja rodi? Nggak lucu banget kan?

Rheam berdiri di pojok ruangan mengamati gue dengan wajah curiga. Gue pura-pura nggak peduliin keberadaan Rheam saat akan kembali ke kamar. Sial, moga aja Rheam nggak tau tentang kejadian tadi siang. Sampai dikamar gue langsung ambruk di kasur dan tertidur pulas seketika. Benar-benar hari yang melelahkan.