Pages

Tampilkan postingan dengan label Serial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Serial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 September 2011

Dangerous Lover (Chapter 2)

2Soundtrack : Young (Original and Acoustic Version) by The Summer Set

Apa kau percaya vampire itu nyata? Kalau pertanyaan itu ditujukan padaku, jawabannya ya. Aku tak pernah mempercayai vampire itu nyata sebelum aku bertemu salah satunya. Ok, tepatnya dua diantaranya. Dan aku hampir saja menjadi korban gigitannya kalau tidak ada yang datang menyelamatkanku. Nathanael. Dialah orang itu. Dan orang yang kupikir paling kupercaiyai ternyata dialah yang paling menginginkan darahku.

Aku tak pernah menduga Terrence adalah seorang vampire yang begitu haus darah. Maksudku, lihat dia. Dia begitu baik pada siapa saja dan kelihatannya semua orang menyukainya, tak termasuk hubungannya dengan Nathan. Lepas dari itu Terrence adalah orang terakhir yang akan kau curigai sebagai penjahat. Ternyata itu salah besar. Dan yang membuatku sangat sedih, ternyata selama ini dia mendekatiku hanya untuk memiliki kesempatan menghisap habis darahku.

Aku berjalan gontai ke kelas tanpa ada semangat mengikuti pelajaran pertama di kelas fisika. Semalam, Nathan lah yang mengantarku pulang. Kami tak banyak bicara. Hanya ada kelengaan selama perjalanan. Sebenarnya ada banyak pertanyaan di kepalaku, tapi rasa syok lebih besar menguasaiku sehingga mulutku seperti terkunci. Kejadian semalam begitu cepat. Aku masih menganggapnya hanya sebagai mimpi. Tapi mimpi itu terlalu nyata jika hanya kuanggap sebagai bunga tidur. Atau mungkin lebih tepatnya nightmare.

Debs menghampiriku dan tak butuh waktu lama untuknya menyadari ada yang berbeda denganku.

“Hey Kelsey, apa kau baik-baik saja? Kau nggak keliatan ceria hari ini.”

“Yah, aku hanya punya masalah kecil.” Jawabku bohong. Sebenarnya ini adalah masalah yang besar kalau menyangkut nyawamu.

“Awh, tunggu tunggu.. Jangan bilang Terrence mendepakmu. Kau nggak sungguh-sungguh kan? Apa kalian sudah pacaran lalu tiba-tiba dia naksir cewek lain? Jika iya, itu menyedihkan sekali. Tapi jangan terlalu bersedih my dear. Kau tahu Terrence sejak awal memeng sulit dijangkau. Maksudku itu hal wajar jika Terrence menggoda cewek-cewek yang lebih keren..err.. jangan marah aku mengatakannya.” Kata Debs setengah canggung.  

“Tidak Debs, ini masalah lain.. hmm..” Aku tak yakin akan menceritakan kejadian sebenarnya pada Debs. Tapi untungnya dia menyelaku.

“Hey lihat apa yang ada di lehermu.. Itu seperti..”

“Hanya luka gores kecil.” Aku segera menutupi leherku dengan baju. Terrence memang belum sempat menggigitku tapi taringnya sudah sedikit menggores leherku.

“Terkena cabang pohon saat bermain di kebun saudaraku.” Kataku bohong, lagi-lagi.

“Kau punya saudara disini?” tanya Debs ragu.

“Yah, bibiku tinggal disini. Kami jarang mengunjunginya sebelum pindah kemari.”

“Oh, kau harus hati-hati lain kali.”

Untungnya percakapan ini segera berakhir saat Mrs. Jakie masuk keruangan dengan membawa beberapa alat peraga. Aku sedikit berterima kasih padanya. Walau ini kali pertama aku mengikuti kelasnya. Aku sempat salah kira ketika melihat nama di kertas jadwal. Kupikir mereka salah mengetikkan kata Mr menjadi Mrs. Tapi wanita muda yang berdiri di depan kelas ini kelihatannya cukup menyengkan. Kita lihat saja nanti.

Pelajaran fisika berakhir dan pelajaran selanjutnya berlangsung cukup membosankan dibanding pelajaran di kelas pertama.

Saat istirahat aku pergi ke kantin sendirian karna Debs bilang ada urusan. Aku mengambil makananku dan duduk disalah satu meja yang tak terlalu ramai. Menikmati makan siangku dalam kesendirian sebelum aku melihatnya datang menghampiriku.

Nathan duduk dihadapanku. Aku tak bergeming sedikitpun. Kemudian ia mulai membuka mulut untuk bicara.

“Apa kau baik-baik saja?” itu kata-kata pertama yang diucapkannya. Yah, aku tahu itu hanya sebagai sapaan formal yang umum dikatakan. Aku juga mendengar Debs mengatakannya. Tapi kalau kau minta jawabanku secara jujur, jawabannya tidak.

“Kau tahu aku tidak baik-baik saja.” Kataku, berusaha bersikap untuk tidak terlihat terlalu menyebalkan dihadapannya. Bagaimanapun dia sudah menyelamatkan nyawaku.

“Yeah, aku tahu.” Ekspresinya berubah sedikit kecewa. Ternyata aku gagal menyembunyikan sikapku.

“Itu bukan salah mu,” kataku cepat. “Itu salahku karna tak mendengarkan ucapanmu..hmm.. maaf..”

“Tak perlu minta maaf. Harusnya aku tak meninggalkan Terrence sendirian malam itu. Aku sedikit ceroboh.” Katanya pelan.

“Kemana kau?” aku keceplosan bertanya yang seharusnya tak perlu kutanyakan padanya.

“Hanya ke sesuatu tempat..” dia nampak urung mengatakannya.

“Tak perlu mengatakannya kalau tak mau, yeah setidaknya kau datang tepat waktu,” kataku.

“Yeah, kau benar. Aku punya banyak hal untuk dilakukan,” katanya bercanda.

Aku menimang-nimang apa yang harus kukatakan. Kemudian kata-kata itu terucap dari mulutku begitu saja,

“Jadi, kau juga..” aku memutus kata-kataku.

“Seperti Terrence.. Yeah cuma ada sedikit bedanya. Kau tak mengharapkanku bercerita di sini kan?” katanya sambil memberi isyarat, mengedarkan pandangan ke sekeliling.

“Aku tahu,”

“Mau kesuatu tempat?” tawarnya. Dia berdiri dan aku mengikutinya. Aku tak tahu kenapa aku mengikutinya. Yang ku tahu sesuatu dalam diriku menghendakinya. Mungkin karna rasa penasaran ingin tahu tentang hal yang sudah melibatkanku didalamnya.

Dia membawaku ke taman tak jauh dari gedung SMA. Disini suasanya lumayan lengang dibanding tempat ramai manapun di lingkungan sekolah.

“Kau akan mulai menceritakannya?” tanyaku. Entah mengapa perasaanku sedikit berbeda saat hanya berdua dengannya. Ada sedikit rasa cemas menghinggapiku. Bagaimanapun dia juga seorang penghisap darah sama seperti Terrence.

“Apa yang ingin kau tahu?” tanyanya.

“Ceritakan padaku semuanya. Ceritakan tentang kau dan Terrence. Kenapa Terrence mau menghisap darahku..” suaraku tercekat di tenggorokan.

“Terrence tidak hanya mengincarmu. Dia sudah sering memangsa cewek-cewek malang lain sepertimu.”

Aku tidak terima disebut malang tapi karna masih ingin mendengarkan ceritanya jadi aku tak menyelanya.

“Dia terlalu haus akan darah.. memang tak bisa dipungkiri, kami bertahan hidup dengan menghisap darah.” Jelas Nathan. Mukanya berubah serius.

“Jadi kamu.. kamu pun demikian.. karna kamu juga..”

“Ya,” jawabnya.

Aku tak tahu apa yang harus kukatakan selanjutnya. Disatu sisi aku berusaha mempercayainya karna tindakannya menolongku disisi lain aku juga merasa takut berada di dekatnya. Aku sudah satu kali melihat wajah menyeramkan sang penghisap darah ketika taring-taring itu muncul dan mata merahnya yang menatapku penuh aura membunuh. Sangat mengerikan. Apa Nathan juga begitu saat ia memangsa buruannya? Tapi dia bilang dia berbeda..apa maksudnya?

“Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku tak memangsamu seperti Terrence, bukan?”

“Ya,” jawabku.

“Sebenarnya aku juga punya dorongan kuat melakukan hal itu. Tapi aku berusaha keras menahannya.”

Aku tertegun.

“Aku tak mau jadi seperti Terrence. Hidup menjadi seorang penghisap darah sudah cukup membuatku menderita. Aku tak mau semakin terbebani oleh rasa bersalah karna telah membunuh orang-orang tak berdosa.” Katanya penuh kepedihan. Suatu perasaan iba tumbuh dalam diriku. Aku seperti ingin memeluknya. Mencoba meringankan sedikit penderitaannya tapi tak tahu bagaimana harus melakukannya.

“Kau tak membunuh makhuk hidup? Lalu bagai mana caramu bertahan hidup?” tanyaku.

“Bukan manusia. Aku tak memangsa manusia. Aku memangsa hewan-hewan yang bisa kutemui seperti burung dan lainnya. Aku bisa berburu rusa di hutan jika tidak sedang di kota. Sayangnya di kota sudah jarang binatang liar dan burung pun sudah semakin sedikit. Tapi Terrence berbeda, dia lebih memilih menuruti dorongan alaminya sebagai vampire untuk menghisap darah manusia. Semua klan vampire menghisap darah manusia. Hanya sedikit yang memilih memangsa hewan-hewan sepertiku. Darah manusia lebih menyegarkan ketimbang darah hewan bagi vampire. Itu lah sebabnya aku berusaha keras tidak bergaul dengan manusia sepertimu.”

Ah, sekarang aku tahu sebabnya dia selalu bersikap ketus padaku. Dia berusaha keras menahan dorongan nafsunya untuk memangsa mangsa utamanya. Manusia.

“Kenapa kalian bisa ada disini?” aku bertanya kembali.

“Dulu kami tinggal di Skotlandia di sebuah desa terpencil yang ada di sana. Keadaan cukup damai selama beberapa waktu. Aku bisa menemukan banyak hewan di hutuan untuk kumangsa tapi lain halnya dengan keluargaku. Penduduk desa semakin hari semakin berkurang karna banyak yang mati dimangsa vampire. Lalu mereka mulai mencurigai kami. Bukan salah mereka. Memang keluarga kami lah yang melakukannya. Kami mengalami situsi yang buruk untuk beberapa saat. Lalu orangtua ku memutuskan mengirimku dan Terrence ke sini. Sebelumnya bukan disini. Kami selalu berpindah-pindah dari kota ke kota lain. Di kota besar, penduduknya lebih plural jadi kami tak gampang dicurigai. Kemudian untuk seterusnya kami menjalani kehidupan seperti ini.” Dia terlihat begitu resah menceritakan masa lalunya. Cowok yang sebelumnya kuanggap sebagai orang menyebalkan ternyata jauh di dalam menyimpan beban yang lebih berat dari yang mungkin orang lain pernah rasakan. Hidup sebagai vampire yang harus menahan diri dan terus diburu jika orang lain mengetahui identitasnya pastilah sangat berat. Apalagi dia harus selalu berpindah tempat. Sampai kapan akan terus begitu..Tiba-tiba pertanyaan itu muncul di otakku.

“Kau bilang..orang tuamu mengirimkanmu kemari. Apa mereka juga tinggal disini?”

“Tidak, hanya kami berdua yang pergi. Mereka bilang lebih aman jika kami sendiri. Mereka sekarang ada disuatu tempat yang tak pernah diberitahukannya pada kami. Aku yakin mereka memiliki alasan tepat untuk tidak tinggal bersama kami.”

“Apa kau menderita..?” pertanyaan bodoh. Harusnya aku tak menanyakannya melihat ekspresi penuh rasa sakit yang terpancar di wajahnya.

“Apa aku perlu menjawabnya?” tanyanya.

“Sorry,” kataku, tahu persis jawabannya.

Kami terdiam sesaat. Lalu aku mulai bertanya lagi,

“Kenapa kau bisa jadi vampire? Apa memang sudah begitu sejak lahir?” Aku penasaran. Aku melihat ekspresi segan di wajahnya “Hmm.. apa kau akan menjawabnya?”

“Tidak, mungkin lain waktu.”

Aku sedikit kecewa mendengar jawabannya.

“Ok, karna kupikir kau sudah cukup puas tau tentang kami sebaiknya kita kembali.” Katanya mengalihkan perhatianku. Aku mengikutinya berjalan menuju ke gedung SMA. Rasanya canggung berjalan di sebelahnya setelah dia menceritakan semuanya. Ok, tidak semuanya. Tapi setidaknya aku tahu tentang situasi yang terjadi. Kini rasa was-wasku sedikit berkurang padanya. Aku tidak terlalu takut lagi akan dirinya sebagai seorang vampire. Kalau dilihat-lihat, Nathan cowok yang cukup baik.

“Hey, setelah kupikir-pikir, aku tak pernah menjumpai kita sekelas selama ada disini. Apa pelajaranmu selanjutnya?” Tanyaku disela-sela perjalanan kami kembali.

“Tentu saja kau tak pernah melihatku. Aku tak belajar disini,” katanya enteng.

“Tapi katamu.. kau sekolah disini. Apa kau bohong?” tanyaku.

“Aku tidak bohong, tapi tempatku bukan disini. Aku di gedung SMP.”

Aku memberikan tatapan heran padanya.

“Kenapa? Aku baru tiga belas tahun!” Ada semburat merah dipipinya. Dia pasti malu baru saja menyebutkan umurnya.

“Bukan secara harfiah, yah tapi itulah umurku selama ini,” imbuhnya.

“Selama ini..?” aku bertanya heran.

“Sudah lupakan,”

“Hey, jadi kau masih SMP? Tapi tampang kita terlihat seumuran..hmm.. memang sih kalau diamati kau terlihat sedikit lebih muda. Kau benar baru tiga belas tahun?” tanyaku masih tak percaya.

Aku benar-benar tak bisa menahan tawa tapi aku tahu dia sedang kesal. Jadi aku berusaha sebisa mungkin tidak menunjukkannya. Sayangnya aku gagal dan dia semakin bertambah kesal.

“Kubilang lupakan saja.” Katanya dengan ekspresi marah dan muka yang semakin memerah. Lucu sekali.

Kami kembali ke gedung SMA. Sebenarnya hanya aku. Dia berjalan lagi ke gedung SMP. Setelah dia pergi, aku memutuskan masuk ke dalam gedung. Saat sampai di koridor utama aku berjumpa dengan Debs. Dia menarik tanganku dan berdiri didepanku seperti hendak berkonspirasi.

“Tadi aku melihatmu bersama cowok yang kemarin. Dia adik Terrence kan? Sekarang kau tak bisa menghindar lagi dariku. Katakan padaku, Kelsey. Apa sekarang kau beralih mengencaninya?” Debs bertanya curiga.

“Ok, akan kukatakan. Tapi pertama, berhentilah bersikap mencurigakan seperti itu Debs. Dan kedua, aku tidak kecan dengannya. Apa kau sudah gila, Dia masih SMP!”

“Kau kencan dengan anak SMP?” ulang Debs tak percaya.

“Aku sudah bilang aku tidak kencan dengannya.. Ayolah Debs.” Aku menggembungkan pipiku seolah-olah sedang marah. Debs memahaminya.

“Ok, ok. Lalu kenapa kau bicara dengannya?” Debs masih saja curiga. Aku berusaha memikirkan alasan yang tepat untuk menjawabnya. Aku tak mungkin bilang alasan sebenarnya.

“Karna dia mengajakku bicara.” Alasan yang bodoh tapi itu satu-satunya yang dapat terpikir oleh otakku.

“Hmm.. dia tak mungkin mengajakmu bicara kalau tidak punya maksud tertentu. Apa dia suka denganmu? Lalu bangaimana dengan Terrence? Apa kau suka dengannya?” Debs mendesakku dengan beberapa pertanyaan. Aku tak mungkin menjawabnya.

“Sudahlah Debs, hentikan pertanyaan konyol itu.” Aku menggerutu.

“Tidak sebelum kau jelaskan semuanya. Ayolah Kelsey, aku hanya ingin tahu.” Rengek Debs.

Aku tak ingin membuatnya kecewa, tapi aku juga tak ingin menceritakannya. Lalu pertolongan pun datang tak terduga.  Seorang cowok bermata biru hazel datang menghampiri kami. Penampilannya rapi, rambutnya yang sedikit panjang disisir kebelakang dengan jel. Dia memberikan senyum ultra cerah saat melangkahkan kaki menuju tempatku dan Debs berdiri. Matanya terlihat menyipit saat tersenyum. Secara keseluruhan, dia terlihat sempurna.

“Hey, maaf kalo menyela. Aku Jaz, kependekan dari Jasper. Semoga kalian tak keberatan kalau aku hanya ingin berkenalan.” Katanya riang dan bernada sopan. Debs tak mengedipkan mata sekalipun saat memandangnya. Jaz mengulurkan tangannya padaku dan segera kusambut dengan berjabat tangan. Dia menatap langsung  ke mataku dan berjabat lebih lama dari yang kubayangkan.

“Kelsey,” jawabku. Saat aku melepaskan tangannya, dia beralih ke Debs.

“Debora, panggil Debs saja.” Jawab Debs ketika menjabat tangannya. Anehnya dia tak menjabat tangan Debs lebih lama dariku. Atau itu hanya perasaanku?

“Senang mengenal kalian. Aku sudah menunggu saat-saat ini,” kata Jaz.

“Maksudmu berkenalan dengan kami? Awh, kau dengar Kelsey. Betapa manisnya,” komentar Debs.

“Yeah,” hanya  itu jawabku.

“Apa kalian tahu kita sekalas di pelajaran fisika?” tanyanya.

“Kurasa aku tak memperhatikannya,” kataku datar. Debs menyenggol tanganku.

“Kurasa kami hanya kurang cermat. Bagaimana mungkin kami melewatkan cowok sepertimu. Maksudku, kau terlihat mengesankan,” puji Debs.

“Terima kasih. Apa masih ada waktu sebelum pelajaran selanjutnya? Mungkin kita masih bisa berbincang,” tanyanya.

“Yeah, tentu saja.”

Kami berbincang sejenak di tempat itu. Ternyata Jaz cukup menyenangkan. Dia memuji gaya rambutku. Kini aku tak segan lagi tertawa bersamanya. Cukup membuatku lupa akan pengalaman burukku semalam. Kami menghabiskan sisa waktu istirahat dengan mengobrol dan berpisah saat bel berbunyi. Kami tak sekelas di pelajaran selanjutnya. Tapi Debs sekelas dengan Jaz dipelajaran Sastra. Jadi Jaz pergi bersama Debs ke kelas selanjutnya dan aku ke kelasku sendiri.

Saat usai sekolah, aku menata barangku dan bersiap meninggalkan kelas. Aku berjalan sepanjang lorong menuju koridor utama. Aku tak melihat tanda-tanda keberadaan Terrence di sekolah hari ini. Menghembuskan nafas lega, aku meneruskan langkahku menuju pintu keluar dan meninggalkan sekolah. Jaz berlari kecil kearahku. Dia sekarang berdiri di sampingku. Sambil menenteng ranselnya pada salah satu lengan dia menyapaku,

“Hey,” katanya sambil tersenyum.

“Hey,” aku balas tersenyum padanya.  

“Apa kau sengaja mengejarku?” tanyaku.

Dia mengedikkan bahu. “Yeah, apa kau mau kuantar?” tanyanya ramah.

“Apa kita searah?”

“Hmm.. sebenarnya tidak. Tapi aku bisa mengantarmu.”

 Aku berfikir sesaat. Sebenarnya aku sangat senang akan perhatiannya. Aku tak tahu maksud dibaliknya. Tapi dia seperti menaruh perhatian padaku sejak pertama bertemu. Tapi aku juga tak mau ke ge-er an dulu.

“Kalau begitu aku bisa pulang sendiri,” kataku.

“Kau yakin kau tak mau kuantar?” ulangnya sekali lagi.

“Yup, rumahku tak terlalu jauh,” yakinku.

“Ok kalau begitu, sampai jumpa besok.” Dia melambaikan tangan padaku dan berlari pergi. Aku mengamatinya hingga menjauh.

“Sampai jumpa besok,” gumamku. Lalu aku berjalan keluar kompleks sekolah dan menyusuri sepanjang jalan setapak yang membimbingku ke rumah.

Langkahku mantap ketika menapaki jalanan dari batu dan terhenti ketika seseorang mencegatku di sebuah tikungan yang cukup sepi. Terrence. Dia berdiri disana. Memandangku dengan tatapan yang tak bisa kujelaskan. Aku menjaga jarak dengan mundur beberapa langkah. Sebenarnya aku bisa saja lari. Tapi sesuatu seperti menahanku untuk tetap disini.  Bersamanya.

“Terrence..” kataku lirih. Tak tahu bagaimana ekspresi yang tepat menyambut kemunculannya yang tiba-tiba. Atau dia sengaja menungguku?

Dia menyadari ketakutan di mataku. Lalu beringsut maju selangkah.

“Kelsey, tenanglah aku tak akan menyakitimu.” Katanya hati-hati. Percaya setelah dia hampir saja mengeringkan darahku? Aku tak bisa semudah itu melakukannya.

“Aku tahu kau pasti takut melihatku. Kau pasti masih syok dengan kejadian semalam. Aku tak bisa menyalahkanmu..” wajahnya terlihat kusut dan penuh rasa penyesalan. Aku sedikit bersimpati. Tapi aku tak bisa begitu saja luluh karna ucapannya. Bagaimanapun juga dia seorang pembunuh berdarah dingin. Aku teringat lagi akan kejadian semalam bagaimana aku hampir menemui ajalku saat Terrence membuka lebar mulutnya, menunjukkan gigi-gigi taringnya yang tajam dan menatapku dengan sorot mata merah yang menakutkan. Aku tak ingin mengingat-ingatnya lagi. Tapi sayangnya sekarang dia ada persis dihadapanku, menatapku. Walau bukan dengan mata merah yang kemarin, pandangannya tetap saja membuatku bergidik.

“Dengarkan aku.. aku hanya ingin minta maaf. Aku tak akan menyakitimu.  Aku sudah berfikir banyak semalam. Aku menyesal melakukannya. Kau harus percaya.” Kali ini dengan wajah putus asa Terrence menjelaskan. Aku semakin ingin memeluknya.

“Apa kau mempercayaiku?” tanyanya. Aku tak dapat menjawab. Otakku sibuk berfikir apakah aku harus percaya padanya atau meragukan ucapannya. Mungkin bisa saja dia berbohong agar bisa menghisap darahku kali ini.

Dia menyeruak perlahan untuk meraihku. Aku ingin lari. Tapi aku juga ingin tetap tinggal. Aku seperti melihat ketulusan di raut wajah Terrence. Aku masih tak bergerak saat dia beringsut mendekatiku. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu dari atas kepalaku. Aku tahu Terrence juga menyadarinya. Aku menengok keatas untuk melihat apa yang terjadi. Sebelum aku dapat menyadari, sebuah lampu jalan yang terpasang di sisi jalan tiba-tiba pecah diatasku dan kacanya berhamburan ke bawah. Aku tak sempat menghindar, tapi Terrence dengan sigap memeluk erat tubuhku dan melindungi kepalaku dengan tubuhnya. Serpihan kaca kini berhamburan di sekitar kami.

“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya penuh ke khawatiran padaku. Aku menganggukkan kepala. Seharusnya akulah yang bertanya apakah dia baik-baik saja. Dia sudah melindungiku dengan tubuhnya.

“Baguslah,” katanya. Ia tampak lega. Sepertinya pecahan kaca tadi juga tidak melukai Terrence.

“Tadi itu.. kenapa bisa seperti itu..” aku angkat bicara.

“Ini aneh, harusnya tak mungkin lampu jalan bisa pecah begitu saja. Aku merasa ada sesuatu yang mengintai kita. Kita harus segera pergi dari sini,” ucap Terrence penuh keseriusan.

Sesuatu? Mengintai? Apakah itu? Aku tak bisa berfikir jernih disaat seperti ini. Aku pasrah ketika Terrence menggandengku untuk meninggalkan tempat itu.

...

catatan : Kalau ada yang memperhatikan gambar Nathan yang ku post sebelumnya dan gambar Jasper di sini. Sebenarnya mereka adalah orang yang sama cuma beda gaya rambutnya saja. Semoga tidak ada yang keberatan dengan itu. Anggap saja mereka orang yang berbeda. Hehe..

Jumat, 26 Agustus 2011

Dangerous Lover (Chapter 1)

Soundtrack : Can You Find Me by The Summer Set

Aku berjalan menyusuri sepanjang jalan di tempat yang tak akrab kukenal sebelumnya. Keluargaku baru pindah dari L.A tiga hari lalu. Dan setelah rutinitas menata barang-barang pindahan yang melelahkan aku berkesempatan berjalan-jalan mengakrabkan diri dengan lingkungan tempat tinggal baruku. Di Broklin, rumah-rumah bertingkat dengan arsitektur kuno dan elegan dengan undakan ditiap terasnya berjajar rapi sepanjang kompleks tempat kami tinggal. Pintu-pintu rumah itu selalu tertutup rapat seperti tak ditinggali namun semuanya bersih terawat.

Di taman anak-anak kecil bermain ayunan dan berlarian sepanjang pagi itu. Sekolahku baru akan dimulai besok bertepatan dengan tahun ajaran baru. Orang tuaku memutuskan memasukkanku ke sekolah swasta tepat saat aku menginjak Senior High School. Tak seperti tipikal remaja lainnya yang mogok bicara atau marah pada orang tua mereka saat terpaksa ikut pindahan, aku sama sekali tak ada keberatan mengikuti orang tuaku yang harus pindah kesini karena masalah pekerjaan. Lagipula di tempat asalku takkan ada banyak teman yang merasa kehilangan jika aku pergi.

Oh ya, aku lupa menyebutkan namaku. Aku Kelsey. Umurku 15 tahun. Aku tak punya saudara lain selain teddy bear kesayangaku, Tess. Itu bagus karena aku tak harus berebut remote TV saat acara kesayanganku tayang atau terjebak dalam situasi saling benci kakak-adik karna masalah perhatian orang tua. Itu semua tak terjadi padaku.

Di jalan setapak yang mulai ramai oleh pejalan kali, aku melihat seorang cowok bersandar pada dinding batu salah satu rumah sambil melempar-lemparkan kerikil ke jalan. Ia memakai hoodie warna gelap dan celana panjang ketat dan menagkupkan tudung hoodienya ke kepala diatas topi baseball warna cerahnya. Rambutnya yang agak panjang terlihat keluar dari celah-celah antara pipi dan telinganya, rambutnya lurus dan berwarna hitam.

Ia menyadari kehadiranku yang sedari tadi hanya termenung di sisi jalan memandangnya, kemudian ia menghampiriku.

“Hey, aku Terrence,” sapanya sambil mengulurkan tangan untuk berjabat.

Aku menjabat tangannya dan menyebutkan namaku. Terrence ternyata lebih tinggi dariku. Tinggiku diatas rata-rata cewek seusiaku. Dan dari wajahnya aku dapat menebak kira-kira ia berusia 17 tahun.

“Apa kamu baru di kota ini?” tanya Terrence.

“Iya, keluargaku pindah tiga hari lalu ke sini.” jawabku. Aku ingin tahu kenapa dia bisa tahu soal itu.

“Jangan heran, aku tahu semua orang di tempat ini.”

“Dimana kamu akan sekolah?” lanjutnya.

“Hyden Academy.”

“Baguslah, aku juga bersekolah di sana. Mau jalan-jalan?”

Terrence ternyata orang yang sangat asik. Kami berjalan menyusuri kompleks sambil berbincang banyak hal. Ia menceritakan tentang sekolah kami dan siapa dan apa-apa saja yang harus hindari atau sebaliknya didekati. Itu penting jika kau anak baru dan belum mengenal seluk-beluk sekolah barumu. Ia juga bercerita banyak hal tentang tempat tinggal baruku. Tempat-tempat mana saja yang asik untuk dikunjungi dan macam-macam hal menarik lainnya.

Kami berhenti di taman untuk membeli es krim. Ia membelikanku es krim vanilla berukuran besar dan satu untuknya sendiri. Kemudian kami bercakap lagi di bangku taman sepanjang pagi itu. Aku merasa senang karena bisa mendapatkan teman baru.

“Well, kurasa sekarang aku harus pergi,” kata Terrence. Aku melirik jam tanganku, tak terasa sudah hampir dua jam kami ngobrol.

Tiba-tiba Terrence menyambar kedua telapak tanganku dan memegangnya dengan kedua telapak tangannya. “Semoga bisa berjumpa lagi denganmu besok.” katanya. Setelah itu ia melepaskannya dan melambaikan tangan sambil berlari.

“Bye Kelsey!”

Aku tertegun memandangnya menyunggingkan senyum cerah. Tanpa kusadari mukaku berubah merah.

Saat Terrence sudah pergi aku memutuskan untuk kembali ke rumah. Aku menyusuri sepanjang jalan yang kulewati tadi dengan hati riang. Besok aku akan berjumpa lagi dengannya. Seutas senyum tersunggung di bibirku saat memikirkannya.

Seseorang mencegat langkahku ketika aku sedang asik berfikir tentang Terrence. Di depanku seorang cowok yang kira-kira seumuran denganku atau mungkin lebih muda berdiri tepat di hadapanku sehingga aku refleks memundurkan kaki selangkah.

“Ada apa?” tanyaku kaget.

Dari penampilannya tak jauh beda dengan Terrence, rambutnya lurus dan berwarna hitam serta mengenakan celana ketat dan jaket yang digulung lenganya hingga bawah siku.

“Kamu kan tadi yang bicara dengan cowok yang memakai topi baseball?”

Terrence! Ia sedang berbicara tentangnya.

“Iya aku berbicara dengannya,” jawabku.

Mukanya tampak tidak senang. Wajahnya tidak jelek sih, sejujurnya ia tampan. Dengan cemberut di wajahnya ia malah nampak cute.

“Jauhi cowok itu.”

“Apa? Kenapa?” Kenapa aku harus menjauhinya? Siapa cowok ini?

“Kamu tidak tahu, dia itu berbahaya. Pokoknya jauhi saja dia. Demi keselamatanmu.”

Setelah itu dia pergi berlari hingga sosoknya tak terlihat lagi di tikungan. Larinya cepat sekali sehingga aku tak sempat mengejarnya. Aku bahkan belum bertanya namanya. Kenapa dia berkata seperti itu tentang Terrence? Apa hubungannya dengan Terrence? Terrence tak terlihat berbahaya dimataku. Mungkin malah ia satu-satu cowok paling asik yang pernah kuajak ngobrol seumur hidupku. Aku berjalan kembali sambil memikirkan kata-kata cowok itu.

“Bagaimana acara jalan-jalannya?” tanya Mom ketika aku baru menutup pintu.

“Menyenangkan sekaligus mengerikan,” jawabku acuh tak acuh. Menyenagkan karena aku baru saja mendapatkan teman baru yang asik dan mengerikan karena bertemu dengan cowok aneh yang menakut-nakutiku.

Kulihat Dad sedang mengerjakan rutinitas Do-it-yourself-nya dengan palu dan pipa di wastafel baru kami, menimbulkan suara gaduh sepanjang pagi. Ia nampak serius hingga seperti tak menyadari kehadiranku. Aku menghampiri Mom di dapur dan mengambil sebutir apel di meja.

“Apa kamu sudah menemukan teman baru di sini?” tanya Mom lagi seakan bisa membaca pikiranku.

“Yeah, beberapa.. sepertinya.”

Setelah itu aku berlari ke kamarku dan tak memberi Mom kesempatan untuk bertanya lebih jauh.

-"-

Hari ini tahun ajaran baru di mulai. Dad bersikeras mengantarkanku ke sekolah seakan khawatir aku tak tahu jalannya. Ia menghentikan mobilnya di plataran ketika kami sampai di Hyden. Kami berdua keluar dari mobil untuk mengamati sekolahku. Dad merengkuhku, untungnya aku segera menghindar ketika Dad hendak mencium keningku seperti tahun-tahun sebelumnya aku masuk sekolah baru. Tidak untuk kali ini Dad. Kau pikir bisa menghancurkan tiga tahun masa SMA ku dengan satu ciuman di kening yang akan dikenang selama seabad oleh teman-teman baruku? Dad selalu menganggapku princess kecilnya setiap waktu. Itu tidak salah, kalau ia tidak berusaha menunjukkannya setiap waktu ke orang-orang. Bukannya aku membencinya. Aku sayang Dad. Tapi sikap Dad terkadang sulit ditebak.

Aku melambaikan tangan pada Dad dan berjalan memasuki pintu utama High School. Aku baru tahu Hyden Academy ternyata sangat luas, terdiri dari Sekolah Dasar hingga Universitas. Semua dalam satu wilayah dengan gedung yang berbeda.

Orang-orang banyak berlalu-lalang di sekitar. Aku melihat segerombolan mahasiswa berjalan di depanku. Aku melangkah masuk ke degung SMA. Ternyata suasana di dalam jauh lebih ramai. Murid-murid memadati sepanjang lorong dengan penampilan berbeda-beda. Ada yang berpenampilan biasa saja sepertiku, ada yang berpakaian gothic, baju cheerleader, seragam football, cowok-cewek kutu buku, remaja-remaja yang selalu up-to-date, cowok-cowok punk dan masih banyak lagi. Semuanya berjalan dengan ritme cepat sepanjang lorong dan ada pula yang berhenti di depan locker untuk ngobrol. Yeah, memang beginilah seharusnya kehidupan SMA. Aku  mendesah kemudian menuju lokerku dan menaruh barang-barangku disana.

Seorang cewek menabrakku ketika aku hendak meninggalkan locker.

“Sorry” katanya.

“It's ok”

Melihat pandangan heran dimataku ia lalu bertanya, “Apa kamu juga orang baru?” Aku mengangguk.

“Apa kelasmu yang pertama?” tanyanya lagi dengan suara renyah.

“Biology di kelas Mr. Tom.”

“Kita sekelas, ayo!” Ia menggandeng tanganku dan menyeretku sebelum aku sempat berkata-kata lagi.

“Oya, aku belum memperkenalkan diri. Namaku Debora. Panggil Debs kalau mau atau nama lengkapku tapi jangan panggil selain itu. Siapa namamu? Orang tuaku mendaftarkanku disini sebelum aku sempat memberikan pendapatku tapi kurasa tempat ini tidak terlalu buruk. Kupikir aku menyukainya, kau tahu?” Ia terus bicara tanpa jeda sehingga aku tak sempat memotongnya.

“Jadi siapa namamu tadi?”

“Aku belum menyebutkannya. Namaku Kelsey.” Kami berhenti diujung lorong.

“Ok, Kelsey senang mengenalmu. Sekarang ayo masuk!”

Aku melirik ke palang pintu dan membaca tandanya. ‘Laboratorium Biology’. Kami sudah sampai. Dengan mengesampingkan rasa penasaran darimana Debs bisa langsung tahu kelasnya aku mengikuti Debs berjalan memasuki kelas. Kami duduk sebangku dan berdiskusi banyak hal selama jam pelajaran Mr. Tom, bahkan diluar mata pelajaran yang diajarkan.

Akhirnya saat istirahat aku memiliki waktu untuk sendiri. Aku mencari-cari Terrence selama jam makan siang di kantin. Kantin penuh sesak oleh orang-orang tapi aku berhasil menemukan tempat untuk duduk dan membuka bekalku.

“Hey, kau disini rupanya.” Seseorang duduk di depan mejaku yang masih kosong.

“Terrence!”

“Aku mencari-carimu,” lanjutnya.

“Aku juga,” kataku malu-malu.

“Kelihatannya bekalmu enak,”

“Kau boleh mencicipinya,” kataku sambil menyodorkan kotak bekalku.

“Terima kasih,” Terrence mencomot sosis gurita buatan Mom yang paling kusuka.

“Jadi kemarin kau sudah bertemu dengan Nathan, apa yang dikatakannya?” kata Terrence disela-sela acara mengunyah sosisnya.

“Maksudmu?”

“Cowok yang kamu temui setelah aku pergi. Nathanael. Dia adikku. Apa yang dikatakannya?” tanyanya lagi.

Cowok misterius itu adik Terrence? Darimana Terrence tahu aku bertemu dengannya setelah dia pergi?

“Kuharap dia tidak bercerita buruk tentangku untuk menakut-nakutimu.”

Tepat, itulah yang hendak kukatakan!

“Apa dia membicarakan tentangku?” mata Terrence menyipit saat mengatakannya.

“Yeah begitulah, dia hanya memberitahu untuk menjauhimu. Setelah itu dia langsung pergi.” Jawabku.

“Dengar, adikku memang selalu begitu. Kau tahu kan masalah klise kakak-adik. Kami tidak terlalu akur. Kuharap dia tidak meninggalkan kesan buruk padamu.”

“Sejujurnya tidak, aku tidak memikirkan ucapannya.” Aku sedikit berbohong saat mengatakannya. Aku sempat memikirkan perkataan Nathan sepanjang perjalanan pulang. Mata Terrence menyipit lagi mendengar jawabanku.

“Bagus lah,” ujar Terrence akhirnya.

Kami berbincang sejenak setelah itu saat dua cewek lewat di depan meja kami dan menyapa Terrence. Tatapan mereka berubah sinis ketika melihatku. Aku pura-pura acuh.

“Mau jalan?” tanyanya ketika aku sudah selesai mengemasi bekalku.

“Boleh.”

Aku dan Terrence berjalan sepanjang lorong utama dan cewek-cewek melihat ke arah kami dengan tatapan tidak senang namun tetap tersenyum saat Terrence menyapa mereka. Terrence berjalan disampingku seakan tidak memperdulikan tatapan orang-orang.

“Hey Terrence,” sapa seorang cewek ketika kami melewatinya di depan locker.

“Hey Grace,” jawab Terrence sambil menyunggingkan senyum ke arahnya. Kami terus berjalan sampai ke tempat yang tidak terlalu ramai. 

“Oh well, kau tidak cerita kalau kau populer ,” kataku akhirnya. Terrence hanya tertawa.

“Aku tidak merasa harus menceritakannya. Kau tahu kan? Membanggakan diri sendiri, apa bagusnya?” ia terus berjalan disampingku.

“Cewek-cewek itu pasti benci melihatku ada didekatmu.”

“Kenapa harus memperdulikan mereka?”

“Aku perduli karna aku masih baru…”

“Tsss..” Terrence memegang pundakku dan mendorongku sedikit kebelakang dengan berat tubuhnya.

“Jangan khawatirkan itu. Aku yang akan menjagamu.” Jarak wajah Terrence denganku hanya satu inci. Aku tak bisa melepaskan tatapan mataku dari bola mata birunya dan bibirnya yang merah. Aku menahan nafas saat memandangnya.

Terrence mendekatkan bibirnya semakin dekat hingga aku bisa merasakan detak jantungku berdenyut lebih cepat hingga ke sel-sel otakku. Sebelum ia dapat menyelesaikan yang hendak ia lakukan bel berbunyi membuat kami terlonjak kaget. Terrence nampak tidak senang dengan gangguan itu.

“Kita ketemu nanti.” kata Terrence sambil melanghkah pergi.

Aku masih tertegun di tempatku. Seluruh tubuhku panas. Otakku seperti macat untuk berfikir. Kini sosok Terrence sudah tak terlihat tapi bayangan dirinya yang hendak menciumku masih sulit dihilangkan. Akhirnya aku berhasil memaksa otakku untuk bekerja dan memerintahkan kaikiku untuk pergi ke kelas.

Kelas selanjutnya adalah aljabar dengan Mr. Frogs. Namanya memang kedengaran aneh dan bisa kalian tebak sendiri begaimana dengan kelasnya. Di seluruh sesi pelajaran aku tak dapat memikirkan hal lain selain Terrence. Angka-angka di bukuku hanya berakhir menjadi coretan-coretan tidak jelas dan hampir menyerupai sebuah tulisan nama. Tak sengaja aku sudah menulis nama Terrence di buku catatanku. Aku merobeknya dan berusaha untuk berkosenterasi kembali dengan pelajaran tapi sia-sia.

Sesi pelajaran selanjutnya berlangsung sama seperti sebelumnya. Akhirnya kelaspun usai. Aku cepat-cepat membereskan barangku dan keluar. Di koridor murid-murid yang jumlahnya ratusan berhamburan keluar kelas dan membentuk seperti arus sungai deras yang saling bertabrakan. Bahuku tersodok maju mundur saat aku berada di tengah kerumunan. Seseorang menarik tanganku dan membawaku keluar kerumunan. Ia menjepi tubuhku ke dinding dengan tubuhnya yang hanya berjarak satu lengan denganku. Kedua tangannya ditempelkan ke tembok di kanan-kiriku. Aku kenal dia. Nathanael, adik Terrence.

“Kau tidak menghiraukan perkataanku,” katanya dengan geram. Aku sedikit meringkuk ketakutan.

“Jauhi Terrence, dia tidak seperti yang kau bayangkan.” Kali ini ekspresinya melunak melihat ketakutan di mataku.

“Kenapa aku harus menjauhinya?” tanyaku.

“Terrence berbahaya, aku sudah peringatkanmu sebelumnya. Jauhi dia,” Terdengar nada sedikit memohon dari ucapannya. Aku tak mengenal cowok ini. Maksudku selain hanya namanya saja, kami bahkan belum berkenalan secara resmi tapi ia sudah dua kali menakut-nakutiku.

“Maksudnya bahaya karna apa? Kau tidak menjelaskan alasannya.”

Dia seperti hendak membalas ucapanku tapi segera diurungkannya.

“Dengar, kalau kau tidak bisa menjelaskannya lebih baik kau berhenti mengganggu dan menakut-nakutiku. Aku tahu kau dan Terrence tidak akrab, tapi jangan libatkan aku dalam permainan konyolmu ini.”

“Kau tidak tahu tentang kami… ugh, sial,“ cowok itu mengumpat seiring dengan kedatangan seseorang yang tak diharapkannya.

“Nathan, apa yang kau lakukan disini!” suara Terrence terdengar dari belakang kami. Nada suaranya tampak marah. “Apa yang kau lakukan dengan Kelsey!”

“Seharusnya pertanyaannya adalah apa yang akan kau lakukan dengannya,” jawab Nathan turut geram. Kakak beradik itu sekarang sedang dalam peperangan mereka sendiri.

“Kau tak seharusnya ada disini,” kata Terrence.

“Aku bersekolah disini, kau tak bisa melarangku semaumu” balas Nathan.

“Tapi bukan disini kau seharusnya, tinggalkan kami sekarang sebelum kau menyesalinya.” Tampak sekelebat cahaya di mata Terrence. Sesaat aku melihat Terrence seperti bukan manusia. Pandangannya yang tajam ia lontarkan ke Nathan. Nathan melakukan hal yang sama pada Terrence.

“Jangan ganggu urusanku,”

“Aku sudah muak dengan kelakuanmu,”

“Kau adik tidak berguna,”

“Jangan libatkan orang lain,”

Terrence naik pitam dan hendak melayangkan tinjunya ke muka Nathan tepat saat aku berteriak,
“Kalian berdua hentikan! Jangan ada perkelahian. Aku tidak suka melihat darah.” teriakku sambil terisak. Mereka berdua memandangku. Aku sangat ketakukan jika mereka berdua jadi berkelahi. Tapi Terrence menjatuhkan tangannya. Nathan melepaskan diri dari cengkraman Terrence dan melangkah menjauh.

“Aku sudah memperingatkanmu. Selanjutnya terserah kau saja,” kata-kata itu ditujukan padaku saat Nathan melangkah pergi menerobos kerumunan yang ada di sekitar kami. Tak kusadari sejak kapan tapi orang-orang sudah berkumpul di sekeliling kami mengamati apa yang terjadi.

Debs melangkah keluar dari kerumunan dan menggandeng tanganku.

“Kelsey, ayo!” kata Debs.

“Aku akan menemuimu besok.” Suara Terrence terdengar dibelakangku. Aku meliriknya sesaat. Wajahnya sudah kembali tenang seperti biasa. Kemudian Debs menarikku untuk berjalan meninggalkan tempat itu.

Segerombolan cewek yang kulihat tadi bersama Terrence memandang sinis kearahku saat aku melewati mereka. Kupikir mereka juga menyaksikan kejadian barusan. Aku menghiraukan mereka dan terus berjalan di samping Debs keluar gedung SMA.

“Kau butuh tumpangan?” tanya Debs ketika kami sudah ada di luar.

“Tidak, ayahku akan menjemputku. Tapi terima kasih sudah menawari.”

Debs menepuk pundakku dan meninggalkanku. Sepertinya ia tahu suasana hatiku.

Aku pulang ke rumah dengan perasaan tidak menentu. Di mobil bahkan aku tidak bercerita pada Dad tentang hari pertamaku di sekolah seperti saat-saat sebelumnya. Malamnya aku terus kepikiran tentang Terrence dan berharap bisa menelponnya tapi baru kusadari aku belum menanyakan nomernya.

Esoknya aku berangkat sekolah tanpa diantar oleh Dad karna aku bersikeras sudah hafal jalannya. Aku sekelas lagi dengan Debs di jam pertama dan kedua pada pelajaran Sejarah. Pelajaran selanjutnya kami berpisah karena jadwal kami berbeda. Tapi di jam istirahat aku dan Debs janjian untuk bertemu di kantin untuk makan siang bersama.

“Dengar, yang kemarin itu Terrence dari tinggat dua belas kan? Kau harus cerita bagaimana bisa dekat dengannya. Kukira cowok seperti Terrence hanya mau bergaul dengan ‘cewek-cewek-terpilih’. Kau tahu kan maksudnya? Jangan tersinggung. Tapi semua orang di sekolah tahu siapa dia. Yah, satu dari sedikit cowok paling popular di Hyden. Jangan tanya aku tahu dari mana. Sepupuku lebih dulu sekolah disini dua tahun sebelum aku.” Kata Debs saat baru saja duduk di sebelahku di meja kantin. Hari ini kami sepakat mengambil jatah makan siang dari sekolah sehingga aku tak perlu membawa bekalku. Muka Debs condong padaku menanti jawaban.

“Eh, aku mengenalnya tidak sengaja.” Aku memang tidak sengaja lewat di jalan itu saat aku melihatnya dan dia menghampiriku.

“Hmm… sepertinya dia naksir padamu. Kau beruntung soal itu. Lalu apa hubunganmu dengan cowok yang bertengkar dengan Terrence kemarin? Setahuku Terrence memanggilnya adik. Kalo begitu dia adik Terrence? Sepupuku cerita banyak soal Terrence tapi dia tidak banyak tahu soal adiknya. Bahkan ia sepertinya tidak tahu Terrence punya adik.” Debs lagi-lagi kembali bicara nerocos tanpa memberikanku kesempatan untuk menyela.

“Ceritakan apa yang dikatakan sepupumu tentang Terrence,” kataku mengalihkan perhatian.

“Hmm.. “ wajah Debs tampak tidak puas, tapi kemudian ia mulai menceritakan apa yang diketahui sepupunya.

“Semua ‘orang’ di Hyden dari tingkat middle sampai universitas mungkin sudah kenal siapa Terrence. Yah seenggaknya cewek-cewek di Hyden tau persis siapa Terrence. Dia mengencani setiap cewek dari tiap tingkat, maksudku bukan yang dari tingkat dasar. Tapi hampir seluruh cewek-cewek keren di Hyden bahkan di Universitas pernah kencan dengan Terrence. Dia sering berganti-ganti pacar dan menurut cerita dari sepupuku pacar Terrence yang terakhir meninggal dalam kecelakaan bulan lalu. Jadi untuk sesaat ia masih jumbo tapi kupikir sebentar lagi ia akan segera dapat gantinya.” Kata Debs sambil menyendokkan sub Bit kemulutnya dan melirikku.

“Terrence mengencani setiap cewek?” tanyaku tak percaya.

“Hey, jangan pikirkan itu. Kau sudah masuk dalam daftar besar cewek beruntung yang bisa berkencan dengan ‘si cowok pupuler’. Andai aku bisa menggantikanmu aku akan sangat senang sekali tapi sayangnya Terrence sudah memilihmu.” Aku tahu Debs tidak bermaksud sungguh-sungguh saat mengatakan ingin menggantikanku. Aku dapat melihatnya tersenyum saat berbicara. Tapi hal yang menggangguku yaitu cerita Debs barusan. Terrence tidak mungkin seorang playboy kan?

“Apa yang kau lamunkan bodoh. Aku tidak akan memaksamu untuk cerita soal hubungan kalian. Sebaiknya kau makan sub mu sebelum dingin.” Kata-kata Debs membuyarkan lamunanku.

Selanjutnya kami menghabiskan makan siang tanpa bercerita banyak lagi. Debs menyuapkan sendok terakhir massage potato-nya ke mulut dan mengantongi apelnya. Ia berdiri membereskan nampan lalu berkata,“Sampai jumpa nanti Kelsey, aku harus menemui Mr. Hendy untuk tugas bahasa Spanyol minggu ini. Kuharap kau tak apa kutinggal sendiri.” Lalu Debs pun pergi terburu-buru seperti hal apapun yang biasa dilakukannya.

Aku masih belum menyelesaikan makan siangku. Jadi aku tetap tinggal di meja dan merenungkan tiap kata-kata Debs. Aku tak tahu apakah aku harus percaya pada cerita Debs atau menuruti kata hatiku sendiri tentang Terrence. Terrence tak pernah sedikitpun terlihat berbahaya di mataku kecuali tatapan matanya kemarin saat berhadapan dengan Nathan. Matanya bersinar. Menakutkan. Ia seperti bukan dirinya. Tidak, kenapa aku memikirkan hal itu. Terrence satu-satunya cowok yang membuatku berharap dapat segera menemuinya saat ini juga. Ia terlihat sangat baik dan menggoda dimataku. Mungkin Debs memang benar soal Terrence yang menjadi idola di Hyden. Tak dapat dipungkiri Terrence memiliki karisma untuk menjadi pusat perhatian semua orang. Jika ada seorang cowok dengan senyum menawan dan wajah sempurna hampir tanpa cacat apa kau akan menghindar untuk menatapnya? Kurasa itulah yang dilakukan cewek-cewek di Hyden, mengagumi Terrence. Mungkin Terrence tidak dapat menghindar karna ia terlalu baik hati untuk menyakiti hati cewek-cewek. Itu seperti.. sudah takdirnya. Menjadi pusat perhatian.

Aku memikirkan segala kemungkinan baik tentang Terrence. Lalu teringat akan janjinya kemarin untuk bentemu denganku. Ia tak terlihat selama jam istirahat, biasanya ia yang akan menghampiriku. Apa dia lupa akan janjinya? Mungkin ia akan menemuiku sepulang sekolah.

“Hey,” sapa seseorang.

“Kau lagi, kupikir kau sudah menyerah memperingatkanku.”

Cowok itu menggeser kursi dan duduk di depanku.

 “Aku datang kesini hanya untuk melihatmu.” Ujarnya sedikit canggung dan malu-malu. Aneh sekali sikapnya berbeda dengan yang kulihat kemarin ataupun sebelumnya. “Walau harusnya aku tidak bergaul dengan orang-orang sepertimu.” Nah, kali ini sifat menyebalkannya muncul lagi.

“Lalu untuk apa kau datang kesini?” kataku kesal.

“Sudah kubilang aku hanya ingin melihatmu,” samar-samar aku dapat melihat semburat merah di pipinya. Ia sedang malu.

“Kau sudah melihatku kan, sekarang apa kau akan pergi?”

“Kau tak bisa mengusirku. Aku berhak berada dimanapun semauku,” bantahnya, nadanya persis saat dia berujar pada Terrence.

“Ok, karna aku sudah selesai dengan makan siangku kau boleh duduk disini ‘semaumu’.” Aku hendak meninggalkannya tapi dia menarik tanganku.

“Tunggu, jangan pergi.”

Aku bertahan pada posisiku. Dia melepaskan cengkramannya.

“Aku kesini untuk minta maaf soal yang kemarin. Aku.. sudah menakut-nakutimu..”

Aku duduk lagi ke kursiku.

“Jadi akhirnya kau sadar sudah berbuat hal konyol,” kataku.

“Jangan melunjak. Aku tidak berbuat hal konyol. Aku berusaha menolongmu kau malah mencelaku.” Cowok ini aneh. Sedetik yang lalu ia terlihat seperti anak kucing yang jinak sedetik lagi ia sudah menyalak seperti anjing galak.

“Bagaimanapun juga yang kau lakukan kemarin itu hal konyol. Berbicara buruk tentang orang lain tanpa bisa mengatakan alasannya ”

“Kupikir temanmu sudah memberitahumu.”

“Kau.. menguping pembicaan kami?” Ia tahu soal pembicaraanku dengan Debs. Apa ia sudah ada disini sedari tadi?

“Ok, karena Terrence berkencan dengan banyak cewek, kau takut ia mamatahkan hatiku seperti dengan cewek-cewek sebelumnya?”

Apa yang kukatakan? Aku sendiri belum pernah melihat Terrence melakukan hal itu. Aku sudah berfikir buruk tentangnya hanya karna mendengar cerita dari Debs.

“Bukan hal sepele itu yang kukhawatirkan. Kau.. pasti akan menyesal bila berhubungan dengannya.” Lagi-lagi dia membuatku bingung dengan kata-katanya.

“Kau cemburu pada Terrence?”

“Apa? Aku tak pernah sedikitpun cemburu padanya. Aku bahkan tak mau jadi sepertinya!”

“Jadi sepertinya? Populer?”

“Bukan itu! Kami.. maksudku dia.. aku sulit menceritakannya. Yang pasti tidak seperti yang kau kira.”

“Aku sudah pernah mendengarnya. Jangan katakana lagi jika kau tak mau mengatakan alasannya.”

“Kau ini cewek keras kepala.”

“Lucu sekali Mr. sok ikut campur.” Kupikir dia mau membalas tapi ia melunakkan ekspresinya.                   

“Dengar, aku datang ke sini bukan untuk berdebat..”

“Iya, seharusnya kau datang untuk meminta maaf baik-baik.”

“Dan memastikanmu baik-baik saja,” imbuhnya. Kali ini mukaku yang memerah. Aku mencoba menghindari tatapannya yang entah mengapa berubah ikut malu-malu juga sepertiku.

“Aku baik-baik saja,” kataku bodoh.”

“Baguslah.”

Kami terdiam beberapa saat karna canggung. Kemudian ia membuka lagi pembicaraan,
“Malam ini.. Jangan temui Terrence karna ia sedang dalam keadaan tidak baik. Aku pergi sekarang.” Cowok itu pun segera menghilang dengan cepat separti terakhir kali aku melihatnya berlari.

Apa-apaan cowok ini. Dia menyuruhku untuk tidak bertemu Terrence, padahal aku sangat ingin menemuinya. Mengapa aku harus mendengarkan ucapannya. Dia bilang datang kemari untuk minta maaf dan memastikanku baik-baik saja. Apa maksud perhatiannya itu?

Akhirnya aku pergi ke kelas dan mengikuti sisa pelajaran selanjutnya. Di akhir kelas aku mencatat tugasku dan bergegas keluar sebelum terjebak dalam diskusi menentukan ekstrakulikuler yang bisa diambil oleh siswa baru.

Aku pergi ke kelas dua belas mencari-cari Terrence di setiap ruangan jikalau ia masih ada disana. Aku tak melihat Terrence dimanapun. Di halaman juga di tempat parkir, aku tak dapat menemukannya. Sekarang aku sedang menunggunya di pintu gerbang, berharap Terrence akan menemuiku dan tidak melupakan janjinya.

Sudah lima belas menit aku menunggu, Terrence tatap belum muncul. Entah mengapa aku jadi gusar. Aku ingin sekali berjumpa dengannya. Aku terus menunggu berharap Terrence akan datang. Tiga puluh menit, aku sudah tidak tahan, aku memutuskan untuk pulang.

Malam harinya aku minta ijin pada Mom untuk berjalan-jalan. Aku butuh sesaat untuk menghirup udara segar. Jalanan di Broklin malam hari tampak ramai selayaknya kota besar. Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak yang kulewati saat pertama kali berjumpa dengan Terrence.

Saat itu aku melihatnya di sana. Terrence berdiri di tengah jalan setapak seperti sudah menantiku sedari tadi. Ia mengenakan hoodie yang sama seperti saat pertama kami berjumpa tapi kali ini tanpa topi baseballnya. Rambunya sedikit acak-acakan.

“Terrence,” aku menghampirinya. “Kupikir kau tidak ingat janjimu.”

Terrence tersenyum manis seperti biasa, “Aku mengingatnya, karna itulah aku disini.”

“Kau tahu aku akan ke sini? Kenapa tidak menemuiku waktu di sekolah?”

“Yeah aku tahu, sekarang aku menemuimu kan? Ayo sekarang kita pergi, aku ingin menunjukkanmu sesuatu.” Dia merangkul pundakku dan membimbingku pergi bersamanya. Kami berjalan selama lima belas menit dan berhenti di sebuah rumah.

“Ayo kita ke dalam,”

Aku mengikuti Terrence memasuki rumah tersebut dan mengedarkan pandangan ke sekeliling. Arsitektur dan prabot rumah itu sama seperti rumah-rumah yang ada di New York pada umumnya.

“Ini rumahmu?” tanyaku. Rumahnya tampak sepi seperti hanya ada kami berdua di sini. Lalu tiba-tiba aku terfikir tentang Nathan yang mungkin juga tinggal di sini bersama Terrence. Tapi aku tak berani bertanya karna tak yakin Terrence mau berbicara tentangnya.

“Ya, begitulah. Kamarku ada di atas.” Sambil menaiki tangga Terrence mengisyaratkan untuk mengikutinya. Aku berjalan perlahan di belakangnya.

Saat memasuki kamar Terrence aku merasa sedikit berbeda. Bulu-kuduku berdiri sesaat dan jantungku berdebar. Entah mungkin karna ini pertama kali aku memasuki kamar cowok atau ada sesuatu dari tempat ini yang membuatku gelisah.

Kamar Terrence tidak terlalu luas ataupun sempit. Ada satu tempat tidur yang cukup lebar dan meja belajar serta lemari pakaian. Lalu satu meja lagi untuk memajang benda-benda yang sepertinya dikumpulkan Terrence. Aku melihat tongkat baseball dan sarung tangannya tergeletak dimeja itu.

Dari kamar Terrence aku dapat melihat pemandangan di luar dari jendela yang terbuka menghadap ke sebuah kebun kecil di rumah itu. Aku menengkok ke luar jendela menghirup udara malam untuk menenangkan pikiranku. Lalu aku teringat tentang ucapannya.

“Apa yang ingin kau tunjukkan padaku?” kataku sambil berbalik ke arahnya tapi wajah Terrence sudah ada di depanku. Jarak kami sangat dekat.  Aku dapat merasakan nafasnya yang berhembus perlahan dengan jelas. Matanya menatap persis bola mataku aku tak dapat menggerakkan tubuhku entah mengapa. Terrence seperti membiusku.

 Kami saling berpandengan selama beberapa saat. Walau tubuhku tak dapat bergerak tapi bola mataku masih bisa beredar dan menambatkan tujuan pada bibir Terrence. Bibirnya merah dan sedikit terbuka. Bibirnya seperti orang kehausan yang sudah lama tak minum air. Lalu aku menelusuri lagi tubuhnya dengan mataku dan melihat sebercak noda di hoodie nya. Tak begitu kentara karna warna hoodienya yang gelap. Aku ingin tahu kenapa. Lalu aku mengalihkan lagi pandangan ke matanya.

Jantungku berdebar saat kata-kata Terrence meluncur dari bibirnya, mendekat ke telingaku.

“Aku.. ingin kau tahu.. aku sangat menyukaimu, Kelsey”

Nafasku semakin tercekat menahan rasa malu dan bahagia dan sedikit kekhawatiran yang muncul tiba-tiba entah mengapa. Terrence merengkuhkan kedua tangannya ke pundakku dan semakin mendekatkan bibirnya ke samping telingaku. Aku masih tak dapat bergerak. Sekonyong-konyongnya kata-kata Nathan terlintas lagi dibenakku. Malam ini.. jangan temui Terrence… apa maksudnya? Tapi sekarang Terrence sudah ada di hadapanku. Ia baru saja menyatakan cintanya.

“Aku.. aku juga menyukaimu, Terrance” kataku terbata. 

“Kau milikku Kelsey.”

Terrence semakin mendekatkan bibirnya ke telingaku kemudian semakin ke bawah ke leherku. Aku melirik ke samping untuk menengok wajahnya. Sekarang mulut Terrence sudah terbuka lebar dan memperlihatkan dua gigi taring tajam yang tak terlihat sebelumnya. Matanya berubah merah dan berkilat. Aku menjerit dan ingin meloloskan diri tapi sudah tidak sempat. Mulut Terrence sudah menyentuh leherku. Aku berfikir sudah waktunya aku mati, tapi seseorang mendobrak pintu dan menerjang Terrence hingga tersungkur di lantai. Terrence bangkit dan menatapnya penuh amarah.

“Apa yang kau lakukan, Nathan? Kau mengganggu acara makan malamku.”

“Kau pantas untuk diganggu. Kau sudah terlalu banyak membunuh.”

“Itu cara hidup kita. Sebaiknya kau menyingkir, Adikku.” Kata Terrence geram. Tubuhku bergetar ketakutan. Aku tak dapat bergerak menyaksikan mereka beradu.

“Itu cara yang kau pilih, bukan aku.”

“Diam saja.” Lalu Terrence dengan kecepatan yang tak terduga sudah menubruk Nathan dan meninju wajahnya. Nathan bangkit dan balik melayangkan pukulan ke Terrence. Mereka berkelahi beberapa saat lalu saat keduanya sudah hampir sama-sama kehabisan tenaga Nathan melayangkan pukulan telak di bawah dagu Terrence dan membuatnya tersungkur. Terrence terengah-engah dan bangkit mendekati jendela sementara aku sudah berhasil menggerakkan kaki menyingkir ke pojok ruangan. Matanya  sempat bertemu denganku sebelum dia akhirnya melompat dari jendela dan menghilang di tengah kegelapan malam kota New York. Aku merosot ke lantai dan Nathan menghampiriku.

“Sebaiknya kau pulang. Aku akan mengantarmu,” kata Nathan ditengah-tengah rasa syok ku.

Aku bangkit dan membiarkannya membimbingku tanpa berkata apa-apa lagi.

Rabu, 17 Agustus 2011

HIGH SCHOOL DISASTER (CHAPTER 5)

Soundtrack : Addicted by Stereos

Hari ini gue bangun lebih pagi dari biasanya. Well, bukan karena gue kerajian tapi karena gedoran pintu dari Rheam yang membuat gue berakhir di dapur memasak sarapan untuk ‘sang pangeran’ dan tentu saja sarapan gue sendiri karena pelayan rumah tangga kami mendapat cuti selama seminggu. Cuti yang sudah direncanakan dalam rencana pembantaian dan penindasan hari pertama gue sebagai budak Rheam. Tentu aja cuti itu nggak akan berlaku kalau ortu masih di rumah, sayangnya mereka sedang asik dengan urusan bulan madu mereka dan berfikir gue pasti akan baik-baik saja ditinggal sendiri bersama Rheam yang selalu bersikap manis dihadapan ortu. Pasti mereka berfikir Rheam dapat menjaga ‘adik tirinya’ dengan baik karena dialah satu-satunya orang yang dapat mereka percayai. Tapi sebetulnya mereka salah besar!

Gue sedang menggoreng telur urak-arik saat Rheam berjalan melintasi dapur memastikan gue sedang mengerjakan tugas gue dengan baik sebagai ‘pelayan pengganti’ untuknya. Gue memasak telur dengan cepat, memanaskan susu dan menuangkan jus jeruk dalam botol ke gelas. Kemudian mengambil beberapa butir buah apel dari dalam kulkas. Semua gue lakukan dalam kecepatan super sonik karena gue juga harus siap-siap berangkat sekolah.

Aslinya gue pengen banget dengan sengaja tambahin lada yang banyak di telur urak-arik Rheam biar dia kepedesan atau masukin garam ke dalam susunya. Tapi gue nggak sempat untuk itu semua. Gue harus buru-buru supaya nggak terlambat ke sekolah. Lagian hari ini gue pengen berusaha sedikit bersikap manis ke Rheam agar dia nggak terlalu menindas gue sebagai budaknya.

Dan gue pun akhirnya sudah siap dengan semuanya. Setelah menghidangkan sarapan dan kembali ke kamar untuk mandi dan berganti seragam, gue turun ke ke bawah untuk menikmati sarapan gue juga. Ternyata Rheam masih ada di meja makan. Gue duduk di hadapannya dan berpura-pura tidak menggubrisnya, menikmati acara sarapan pagi yang janggal karena hanya ada kami berdua di meja makan.

“Telurnya lumayan, tapi kurang sedikit garam.” Katanya tiba-tiba, memecah kesunyian dimeja makan.

“Apa lagi yang kurang?” tanya gue dengan nada mengejek. Sebal karena mendapatkan komplain.

“Lo lupa matiin kompor waktu udah selesai masak. Apa lo nggak tau kecerobohan lo bisa buat rumah ini hangus nggak bersisa? Emang lo nggak pernah diajarin cara gunain dapur sebelumnya ya?”

Oh ternyata ia masih ada disini untuk ceramahin gue masalah ini.

“Kalau lo lihat, kan elo bisa matiin.”

“Kalau gue nggak ada?”

Kalau lo nggak ada gue bakalan merasa bersyukur banget. Tapi ucapan itu cuma tertahan di hati, nggak mau berdebat lebih panjang. Waktu pagi gue lebih berharga dari pada untuk meladeni perdebatan dengan Rheam. Gue harus berangkat sekolah sendiri seperti hari-hari biasanya.  

“Muka lo kusut amat, Lun?” tanya Marin yang duduk manis di sebelah setelah gue menghempaskan badan dengan kasar ke bangku. Luca ikut mengekor dengan berdiri disamping Marin. Setelah membereskan dengan cepat peralatan makan sehabis sarapan, gue langsung melesat secepat kilat ke sekolah. Untung masih ada lima menit sebelum bel berbunyi.

“Sekarang gue resmi jadi budak Rheam satu semester,” kata gue kesal tapi dengan nada rendah.

“Jadi budak Rheam satu semester!!??”

“Tsuuttt!!!”

Jelas yang barusan tadi terdengar cukup keras walau Marin dan Luca berusaha untuk menahan ekspresi keterkejutannya. Siapa yang menyalahkan mereka untuk terkejut karna pada awalnya pun gue sangat terkejut mendengar Rheam mengatakan hal itu. Tapi hal ini nggak boleh sampai ketahuan siapapun kecuali hanya mereka. Untung temen-temen yang lain masih sibuk dengan urusan mereka sendiri, bergosip dengan membentuk kelompok di sudut-sudut kelas atau di dekat jendela. Para cowok asik sendiri dengan membuat kegaduhan di depan kelas.

Gue menunduk dengan turut pula menarik kepala Marin dan Luca hingga hampir menempel ke meja. “Kalian nggak akan bocorin rahasia gue kan?!!” bisik gue dengan nada sedikit mengintimidasi.  Marin dan Luca mengangguk serempak dan meminta maaf.

Mata gue melirik ke seberang bangku dimana Lyoid persis duduk di sebelah. Sepertinya dia tidak memperhatikan karena sedang asik tenggelam dalam buku bacaannya. Untunglah.

“Entar deh gue ceritain di kantin.” Saat itu pula bel pelajaran berbunyi.

Empat jam pelajaran terasa sangat lama hingga bel istirahat pertama berbunyi. Kami bertiga duduk di kantin setelah memesan tiga mangkuk bakso dan es teh.

“Jadi gimana ceritanya?” tanya Marin penasaran. Setelah memastikan tak ada murid-murid lain yang memperhatikan, gue mulai bercerita kepada mereka. Dimulai dari rasa penasaran mencari orang yang mungkin ada di rumah hingga memasuki ruangan aneh tempat papa tiri menaruh koleksi barang-barang antiknya dan menemukan monster berjubah rumbai-rumbai sehingga tidak sengaja menjatuhkan lampu hias antik yang sangat berharga nilainya hingga menjadi kepingan-kepingan kaca. Dan Rheam yang datang tiba-tiba sehingga gue berakhir menjadi budaknya selama satu semester.

“Kaya’ nggak kurang apes aja nasib lo, Lun,” kata Luca yang terdengar sarkastis tapi sebenarnya dia hanya bermaksud simpati. Jadi gue bisa maklum.

“Emang udah nasib gue kali.”

Pesanan pun datang dan gue segera menyedot es teh kuat-kuat untuk mengurangi ketegangan setelah bercerita panjang lebar. Tepat saat itu mata gue menangkap sosok Lyoid yang berjalan dengan membawa semangkuk bakso dan es jeruk menuju meja kantin, mencari-cari jika masih ada tempat kosong di kantin. Langsung saja tangan gue melambai untuk memberi isyarat padanya agar bergabung di meja kami. Lyoid dengan ekspresi datar menghampiri meja kami dan duduk di kursi sebelah gue yang masih kosong. Luca dan Marin saling berpandangan.

“Kenalin ini temen-temen gue, Marin dan Luca. Pasti lo juga udah kenal kan sama Luca? Dia kan temen sebangku lo,” kata gue sok yakin.

“Hai guys.” Sapa Lyoid singkat kemudian mulai menyantap baksonya tanpa memperdulikan apapun lagi. Marin dan Luca masih saling berpandangan tapi kini di wajah mereka ketambahan ekspresi melongo.

“He-ii” jawab mereka dengan muka cengo’.

Karena nggak ada lagi bahan pembicaraan jadi kami mulai menyantap bakso di meja. Kantin semakin sesak dan murid-murid berjubel mengantri pesanan makanan. Satu dua orang yang melewati meja kami berusaha curi-curi pandang ke arah Lyoid kemudian entah mengapa gue rasa semakin banyak lagi yang curi-curi pandang ke meja kami tentunya untuk melihat Lyoid. Bisa ditebak dengan jelas siapa mereka itu tentunya. Murid-murid cewek!

Deg! Lagi-lagi pandangan gue beradu dengan Rheam. Kenapa sih dia mesti ada dimanapun jangkauan mata gue memandang? Kenapa dia nggak bisa tinggalin gue barang sedetik aja menikmati makan di kantin dengan damai? Batin gue frustasi yang sebenernya cuma lebay karna dimana lagi tempat tujuan utama semua murid saat istirahat yang sudah kelaparan kalau bukan di kantin.

Rheam duduk di meja paling mencolok seperti biasa dengan dikerubungi para fansnya. Cindy, Vivi dan Tania pastinya nggak kan pernah ketinggalan di barisan depan. Kali ini perbedaannya Cindy dan kedua temannya selain berusaha mencari perhatian Rheam mereka juga sesekali melirik ke meja kami dan memperhatikan Lyoid yang sibuk makan. Dalam hati gue bersyukur Lyoid nggak merespon mereka juga para cewek lain yang sedari tadi memperhatikannya.

Gue segera mengalihkan pandangan dari Rheam, tapi dari sudut mata gue masih dapat melihatnya sedang menatap gue tanpa berkedip. Sialan.

Lyoid sudah selesai dengan acara makannya. Gila cepet banget. Tanpa sadar gue terkesiap. Ia menyedot tetes terakhir jus jeruknya dan memandang gue. Mata abu-abunya terlihat sangat besar dan indah. Bulu matanya panjang dan lentik tapi terkesan alami. Apa setiap cowok Caucasian punya mata seindah itu? Gue rasa memang Lyoid lah yang diberkati mata seindah itu.

“Pulang sekolah nanti apa ada acara?” Bibir merah Lyoid yang indah mengucapkan kata-kata yang ditujukan pada gue. Sesaat gue terlonjak dari lamunan saat sebelumnya sedang terfokus pada tatapan mata dan bibirnya yang menawan.

“Eh, apa?” gue pura-pura bodoh.

“Aku butuh sedikit bantuan lagi. Apa kamu bisa?” Expresinya datar seperti biasa tanpa terlihat risih saat Marin dan Luca memperhatikannya dangan ekspresi heran. Heran karena kami terlihat layaknya sudah akrab, padahal Lyoid terkesan dingin pada yang lain.

“Eh-iya.” Jawab gue cepat dan terkesan grogi.

“Baguslah, ku tunggu sehabis sekolah.” Kemudian Lyoid pun membereskan mangkuk dan gelasnya dan pergi membayar makanan. Setelah itu ia beranjak keluar kantin tanpa menoleh lagi. Mata gue masih mengekor ke sosoknya hingga ia tak terlihat lagi dari pandangan.

“Ada yang punya kencan abis pulang sekolah nih,” kata Marin terdengar sedang menggoda.

Kencan? Pipi gue memerah. Apa mungkin bisa disebut kencan? Dia nggak jelas tunjukin maksudnya apa ketika bertanya tadi. Lyoid kan cuma butuh bantuan gue. Tapi kenapa mesti gue? Ah-ha! Pertanyaan masuk akal. Selama ini Lyoid nggak mengenal orang lain lebih akrab di sekolah barunya selain gue – kalau bisa disebut akrab setelah beberapa kali insiden memalukan yang membuat kami jadi tanpak ‘akrab’ -- . Jadi wajar kalau ia minta bantuan gue. Gue mencoba meyakinkan diri. Selain itu, kemaren gue juga udah pernah jalan sekali dengannya keluar sekolah saat bantuin dia mengurus prabot pindahan di apartemennya. Apa itu juga bisa disebut kencan? Berarti gue udah pernah kencan dengan Lyoid? Pipi gue memanas.

“Apaan sih Marin, orang gue cuma mau bantuin dia kok.”

“Tapi kenapa dia minta elo? Kaya’ kalian udah akrab banget?” tanya Marin penuh selidik.

“Beberapa kali emang gue udah pernah ngobrol sama dia.”

“Maksud lo waktu lo ketemu dia di halaman belakang sekolah dan waktu lo seret dia keluar kelas kemarin itu?”

“Yah, beberapa diantaranya.”

“Lo udah pernah ketemu dia selain itu?” kali ini Luca yang bertanya penuh rasa penasaran.

“Iya.” Jawab gue malu-malu. Wajah Luca tampak gusar dan sedikit cemberut.

“Lo naksir dia, Lun?”

“A-apa?” gue nggak bisa jawab. Bingung harus ngomong apa. Sepertinya emang bener gue naksir Lyoid tapi masih malu untuk bilang ke sohib-sohib gue.

Tanpa gue sadari Rheam memantau setiap gerak-gerik gue sedari tadi. Sepertinya ia juga mendengarkan setiap pembicaraan gue dengan temen-temen gue, juga pembicaraan gue dengan Lyoid tadi.

Dering bel menyelamatkan gue dari sesi interogasi Marin dan Luca. Kami segera pergi ke kelas setelah gue mendesak mereka berdua untuk jalan. Saat berjalan melewati meja Rheam, ia memandang gue lekat-lekat seakan tak ingin melepaskan pandangannya dari gue. Bikin risih aja tuh orang. Tapi gue nggak menoleh. Kalau gue lakuin itu sama saja gue perduli dengannya. Sebisa mungkin gue nggak melakukan kontak apapun dengan Rheam di sekolah agar murid-murid yang lain nggak tau hubungan gue dengan Rhaem. Gue rasa Rheam juga sependapat dengan alasan jaga image-nya. Tapi kenapa dia nggak bisa berhenti perhatiin gue?

Gue pun segera melesat ke kelas sebelum tertusuk lebih dalam oleh pandangannya.

Pelajaran jam kelima dan keeman sama membosankannya dengan pelajaran sebelumnya. Yang membuat gue masih betah berada di kelas sudah pasti cowok yang duduk di seberang gue. Lyoid. Ia tak nampak serius memperhatikan guru yang sedang menerangkan kalkulus di papan tulis namun ia lebih memilih mencoret-coret notesnya seperti sedang membuat sketsa seseorang atau apapun. Gue nggak bisa lihat jelas. Namun begitu Lyoid menyadari sedang diperhatikan ia menutup buku notesnya dan menoleh kearah gue. Gue seperti terhipnotis sesaat oleh pandangan matanya. Lalu dengan malu-malu kembali mengarahkan pandangan ke atas meja. Moga aja Lyoid nggak nyadar kalau muka gue berwarna semerah kepiting rebus saat ini.

Saat bel istirahat kedua berdering gue butuh segera membasuh muka di toilet. Gue yakin muka gue udah nggak karu-karuan warnanya setelah selama sisa jam pelajaran menahan panas yang menjalar ke seluruh wajah dan leher. Jadi tanpa berkompromi dengan Marin ataupun Luca, segera saja gue melesat menuju toilet.

Langkah gue berderap cepat sepanjang jalan menuju toilet. Seseorang dengan tubuh tegap menabrak gue di lorong yang sedikit sepi. Atau lebih tepatnya gue yang menabraknya. Wangi parfume mawar merebak di sekitar tempat itu. Gue sepertinya kenal wangi ini dan sudah tak asing lagi. Tubuh cowok itu persis dihadapan gue. Wajah gue menempel di dadanya. Dia lebih tinggi dari gue. Hanya butuh waktu sepersekian detik untuk mendongak ke wajahnya dan mengenalinya. Wajah familiar itu begitu tenang dan …. tampan! Sial! Itu Rheam dan nggak bisa dipungkiri dilihat dari jarak sedekat ini ia nampak lebih indah. Wait!? Apa yang barusan gue katakan? Indah. Ugh. Harusnya gue nggak memuji dia. Tapi matanya, hidungnya, bibirnya dan wajahnya nampak nyaris sempurna dan rambut hitam legamnya kontras dengan kulit putih bersih miliknya. Darah separuh Caucasian dan Indo yang ia miliki berpadu dengan sempurna.

Gue tersadar dari lamunan beberapa detik sebagai kata ganti yang pas dari kata mengagumi andai gue nggak mau mengakuinya dan segera memundurkan kaki beberapa langkah, mengesampingkan semburat merah yang mulai timbul lagi di pipi setelah bersusah payah meredamnya saat di kelas. Kenapa kali ini terjadi lagi? Dan kenapa harus dengan Rheam? Sialan. Kenapa gue harus ketemu dengannya di sini? Terlalu banyak kenapa.

“Ugh, ngapain lo disini? Nggak maksud ngerjain gue di sekolah kan?” tanya gue hati-hati bercampur sedikit frustasi.

“Kalau iya kenapa?” Suara Rheam terdengar arogan.

“Lo nggak mau semua orang di sekolah tau kita bersaudara, kan?” saat mengatakannya gue coba memelankan suara serendah mungkin. Menengok kanan-kiri takut-takut kalau ada yang mendengar pembicaraan kami. Untungnya tak ada banyak orang di sekitar kami. Posisi kami masih jauh dari jangkauan pendengaran orang lain.

“Saudara tiri tepatnya.” Rheam menambahi.

“Ugh, jadi apa mau lo?”

Firasat gue udah nggak enak sejak memandang senyum sinis di wajahnya. Hebat sekali dia bisa menyembunyikan senyuman itu selama ini dari orang lain tanpa ketahuan kedoknya.

“Ikut gue!” kata Rheam.

Entah mengapa gue nggak bisa menolak perintahnya dan segera mengikutinya berjalan di belakang. Mungkin karena perasaan telah terikat menjadi budaknya. Sepanjang lorong kami berjalan dalam diam dan ia membawa gue ke ruang OSIS. Ruang OSIS ada di lantai bawah dan nampak sepi.

“Bawa kardus-kardus itu ke gedung olah raga.” Ia menunjuk pada kardus-kardus di sudut ruang OSIS. Ada kira-kira selusin kardus berukuran kecil hingga lumayan besar.

“Apa gue harus pindahin semua ini sendirian?” tanya gue ragu-ragu.

“Iya elo, siapa lagi.” Jawab Rheam ketus.

“Elo batuin kek.”

Dengan tiba-tiba wajah Rheam udah ada di depan gue. “Denger, lo budak gue. Jadi lakuin apa yang gue suruh.” Rheam mengatakannya dengan penekanan di tiap kata.

Ugh. Tanpa menjawab lagi gue segera menuju kardus-kardus itu dengan satu hentakan keras sepatu di lantai. Rheam hanya mengikuti gerakan gue dengan ekor matanya. Kedua tangannya tersilang di dada. Kardus-kardus itu segera gue bawa keluar dengan menumpuknya dari yang berukuran besar hingga paling kecil. Sisanya masih tergeletak di lantai, akan gue bawa lagi nanti.

Berjalan dengan membawa tumpukan kardus-kardus hingga setinggi mata memang tidak mudah. Apa lagi kardus-kardus ini cukup berat. Jadi pengen tau apa sih isinya. Rheam sialan, dia emang pandai manfaatin segala kesempatan buat manfaatin gue. Pasti dia emang udah sengaja nunggu di koridor buat nyeret gue untuk angkat kardus-kardus ini. Gue terus menggerutu selama perjalanan ke gedung olah raga, tanpa menyadari beban yang mengelayuti tangan gue berkurang tiba-tiba. Seseorang mengangkat kardus-kardus di bagian atas tangan gue dan membawanya beriringan di samping gue hingga menyisakan satu kardus saja di tangan gue.

“Mau dibawa kemana ini semua?” tanya suara berat dan sexy di sebelah gue.

“Lyoid.” Ucap gue terkejuat alih-alih menjawab pertanyaannya.

Lyoid memberikan pandangan seolah menegaskan kembali pertanyaanya. Gue buru-buru menjawab, “Gedung olahraga.”

Kami ke gedung olahraga. Meletakkan kardus-kardus itu di ruang penyimpanan. Lyoid tak nampak kelelahan setelah mengangkat kardus-kardus besar dan berat di tangannya. Wajahnya tenang seperti biasa.

“Apa masih ada lagi?” tanyanya.

“Sebenarnya masih ada…”

“Apa perlu bantuan lagi?”

“Nggak,” gue buru-buru menjawab. “Sorry maksud gue nggak usah, cuma tinggal dikit lagi,” kata gue dengan nada bersalah dan sedikit memelas. Jangan sampai Lyoid tau ini semua kerjaan Rheam.

“Siapa yang suruh bawa kardus-kardus ini?” tanya Lyoid seakan bisa baca pikiran gue.

“Hmm.. tugas dari OSIS.” Nggak sepenuhnya bohong, Rheam si ketua OSIS yang nyuruh gue walaupun dia udah seenaknya mafaatin jabatannya itu. Wajah Lyoid sekilas menampakkan ekspresi yang nggak bisa gue tebak.

“Ok, kalau udah nggak butuh bantuan lagi. Sampai ketemu nanti.” kata Lyoid yang langsung melangkahkan kaki keluar dari ruang penyimpanan dan beranjak keluar gedung olahraga. Bahkan nggak nunggu jawaban dari gue.

Sampai ketemu nanti! Tiba-tiba terngiang lagi ucapannya. Nanti pasti maksudnya abis pulang sekolah. Muka gue langsung memanas. Sebelum panasnya nyampe ke ubun-ubun gue segera melangkahkan kaki keluar gedung untuk mengambil sisa kardus yang masih ada.